Ki Hadjar Dewantara & Konteks Kebutuhan Individu

Mural kritik terhadap sistem pendidikan di Indonesia. - Antara/Yusran Uccang
08 Mei 2018 23:25 WIB Rony K. Pratama Aspirasi Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja, JOGJA—Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) acap dikultuskan sebagai seremoni tahunan. Beragam atribut perayaan dilakukan dengan segenap elemen acara yang formalistis. Hardiknas sekadar diglorifikasi secara formal dan temporal, padahal sesungguhnya menyiratkan proses panjang yang kini semakin menyejarah.

Kuntowijoyo dalam buku berjudul Penjelasan Sejarah (2008) memberikan sketsa mengenai sifat sejarah yang memanjang dalam waktu, terbatas dalam ruang—penegasan ini didasarkan atas pernyataan Wilhelm Dilthey (1983-1911), yaitu sejarah adalah proses, sejarah adalah perkembangan.

Gagasan demikian meniscayakan bagaimana seharusnya memaknai Hardiknas dalam pusaran historis bangsa dan negara. Dorongan kuat untuk memaknai sejarah pendidikan nasional dalam rangka nostalgia sekaligus menenun nilai-nilai mengenai pendidikan nasional niscaya akan bersemuka pada situasi-kondisi partikular.

Pendidikan berada pada lintasan sejarah sepanjang republik ini berdiri. Yang menjadi pertanyaan, dimensi apa dan kapan mesti dirujuk serta dihadirkan dalam konteks kekinian? Kilas balik latar belakang Hardiknas yang diperingati tiap 2 Mei tak terlepas dari Ki Hadjar Dewantara (1889-1959).

Hari kedua bulan Mei itu merupakan kelahiran pemilik nama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat itu. Ia terpilih sebagai Menteri Pengajaran pertama dan pelopor Perguruan Taman Siswa—sebuah model pendidikan alternatif yang pada masanya merupakan antitesis terhadap sistem persekolahan ala kolonial Belanda.

Ki Hadjar hidup pada zaman pergerakan yang mau tak mau beroposisi terhadap segala bentuk kolonialisme. Ia memilih berjuang di jagat pendidikan dengan aktif dan produktif mendiseminasikan gagasan dan konsep mengenai pendidikan di pelbagai surat kabar berbahasa Belanda, Indonesia, dan Jawa.

Humanisasi Tergerus

Penanya begitu tajam karena menghasilkan kritik tegas terhadap diskriminasi pendidikan. Ki Hadjar berada di belakang wong cilik (rakyat jelata) agar memperoleh kesempatan pendidikan. Setidaknya terdapat dua antologi pemikiran pendidikan yang dibukukan sehingga serupa warisan sejarah untuk generasi setelahnya.

Buku ini berjudul Pendidikan yang terbagi menjadi dua bagian (1961). Dalam Kata Restu yang ditulis khusus oleh Nyi Hadjar Dewantara, terselip pesan tersurat agar buku tersebut dapat menjadi pedoman serta petunjuk kita untuk meneruskan perjuangan. Memperjuangkan pemikiran pendidikan Ki Hadjar merupakan wujud ontologis menginternalisasi makna Hardiknas.

Sepanjang proses perjuangan itu Ki Hadjar secara tegas telah membedakan makna “pendidikan” dan “pengajaran” yang dewasa ini sering kali digeneralisasi. Kedudukan pendidikan lebih universal ketimbang pengajaran. Bila pengajaran dipersempit sebatas sekolah, pendidikan melampaui dinding-dinding kelas, keluarga, masyarakat, hingga berbangsa dan bernegara.

Di dalam pengajaran belum tentu terdapat epistemologi pendidikan. Ini bisa terpotret jelas pada praktik sekolah hari ini yang cenderung mendewakan “transfer informasi” yang berorientasi nilai numerik ketimbang internalisasi nilai etis sehingga membentuk kedewasaan sikap dan pikiran.

Humanisasi dalam praksis pendidikan mulai tergerus oleh pragmatisme pengajaran yang berorientasi pasar kerja. Pretensi “ingin menjadi” lebih dominan daripada “bagaimana menjadi” ketika menengok tujuan institusi pendidikan formal hari ini. Kecenderungan ini berimplikasi serius pada perilaku instan dalam segala lini kehidupan.

Individu (peserta didik) dikonstruksi dan difokuskan untuk memperoleh segala sesuatu ketimbang menghargai sebuah proses (kesadaran tumbuh). Preferensi inilah yang kini terjadi dan ternyata telah diprediksi Ki Hadjar seabad lalu.

Lokus Bakat

Pendidikan dalam skala nasional selalu berangkat dari struktur ke kultur. Pemerintah memiliki otoritas untuk menyusun struktur nasional agar pendidikan dapat berjalan sesuai rencana. Dari struktur itu kemudian dimanifestasikan ke dalam seperangkat pengajaran sehingga kultur yang dikehendaki bisa diterima rakyat.

Mekanisme demikian masuk ke dalam ranah kebijakan pendidikan. Dalam kongres Permufakatan Persatuan Pergerakan Kebangsaan Indonesia pertama yang diselenggarakan di Surabaya pada 31 Agustus 1928, Ki Hadjar menyajikan tulisan bertajuk Pendidikan dan Pengajaran Nasional.

Dengan implisit ia mengemukakan relasi antara anak dan rakyat. Menurut Ki Hadjar, mendidik anak berarti mendidik rakyat. Ada hubungan timbal balik di sana ihwal pendidikan mikro yang berdampak signifikan terhadap pendidikan makro.

Ki Hadjar menekankan pendidikan anak. Pendidikan anak tak lain adalah kunci utama keterdidikan sebuah bangsa. Tanpa fokus di level dasar, pendidikan seterusnya akan kehilangan fondasi utama.

Agar proses pendidikan terlaksana dengan baik, Ki Hadjar mengilustrasikan secara cerdas bahwa sistem pengajaran yang berfaedah harus disesuaikan dengan “hidup” dan “penghidupan” rakyat. Terkesan ada kontekstualisasi bila membaca semesta pemikiran Ki Hadjar.

Pendidikan, dengan kata lain, harus berangkat dan bertujuan sesuai konteks kebutuhan individu masing-masing. Lebih jauh lagi, titik tolak ini niscaya berpaut erat dengan bakat personal. Inilah yang membuat Ki Hadjar selalu bersikap plural manakala bersemuka dengan model pendidikan kontekstual.

Beda orang dan bakat, beda pula sistem serta perlakuan pedagogiknya. Membentuk atmosfer pendidikan yang pusparagam itu bukan pekerjaan mudah, apalagi di tengah keberbedaan individu terdapat keunikan partikular yang mesti disikapi secara berlainan. Di sinilah arti penting multikulturalisme sasaran pendidikan ala Ki Hadjar yang relevan diteladani pada Hardiknas tahun ini.

*Penulis adalah Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta

Sumber : JIBI/Solopos

Ad Tokopedia