Mengembalikan Harmoni Agama & Budaya

Anwari Nuril Huda - Ist.
16 Mei 2018 23:12 WIB Anwari Nuril Huda Suara Mahasiswa Share :

Sejak beberapa tahun terakhir semangat Islamisme di Indonesia semakin menguat. Sendi-sendi kehidupan mulai dari aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya senantiasa dipertautkan dengan agama. Berbagai label, merek maupun jargon Islami dapat ditemui di tempat-tempat umum dengan mudah. Di satu sisi fenomena ini mengembirakan karena dapat dijadikan pertanda bahwa semangat religiusitas masyarakat semakin kokoh dan holistik. Namun di sisi lain justru menjadi momok menakutkan baik bagi non-muslim maupun umat muslim sendiri. Penyebabnya mudah dilacak: sebagian kelompok Islam gemar menghadirkan Islam dengan cara pandang hitam-putih, halal-haram, kita-mereka, dan surga-neraka.

Radikalisme adalah akar dari segalanya. Ia tidak selalu bermakna negatif, tetapi radikalisme semakin meresahkan masyarakat. Radikalis senantiasa melegitimasi perbuatan anarkis-patologisnya dengan agama. Hal ini kontras dengan tujuan beragama yakni mencapai maqam saleh secara individual dan sosial dengan cara menebarkan kenyamanan, keamanan, dan ketenangan hidup. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk melakukan pemurnian agama dari sisipan budaya lokal secara radikal sehingga menimbulkan ketegangan dengan masyarakat yang memegang erat kebudayan setempat.

Secara historis, upaya untuk mempertemukan budaya dan agama bukan barang baru, para penyebar Islam ke Nusantara (Walisongo) dengan cerdas mampu menjadikan budaya masyarakat setempat sebagai media dakwah. Bahkan hasil akulturasi budayanya berupa wayang maupun arsitektur bisa dinikmati hingga sekarang. Ada beberapa langkah nyata yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi radikalisme.

Pertama, komunikasi budaya. Kebudayaan di Indonesia sangat beragam dan khas, setiap daerah memiliki kebudayaan sesuai dengan kondisi geografis, sosiologis dan antropologis. Sementara Islam turun dalam satu wajah. Kendati demikian, Islam terbukti bisa diharmonikan dengan kebudayaan dan karakteristik masyarakat setempat. Islam tidak selalu membenarkan budaya, juga tidak selalu menyalahkannya. Maka komunikasi dua arah antara Islam dan budaya harus dilakukan untuk menemukan jalan tengah: berislam tanpa harus kehilangan budaya, berbudaya dalam bingkai Islam.

Kedua, reintegrasi sosial. Bangsa Indonesia memiliki masa lalu yang sukses dalam menyelesaikan persoalan ancaman disintegrasi sosial dengan menetapkan Pancasila sebagai dasar NKRI. Pengalaman ini dapat dijadikan sebagai modal untuk membangun Indonesia saat ini dan masa depan. Membangun integrasi seperti yang sudah pernah dibangun sebelumnya akan lebih mudah karena kita sudah memiliki patron dan role model yang jelas. Dalam hal ini kerja sama antarelemen masyarakat mutlak disinergikan. Agamawan dan tokoh masyarakat harus bijak mendampingi masyarakat akar rumput, sementara akademisi dan mahasiswa rajin mengedukasi masyarakat mengenai Islam moderat sehingga masyarakat lebih hati-hati menyikapi isu-isu yang berkembang dan tidak mudah diprovokasi.

Ketiga, kehadiran negara. Salah satu fungsi negara adalah mengantarkan bangsa Indonesia kepada cita-cita bersama: sejahtera, aman, tertib dan damai. Dalam konteks ini negara memiliki peranan yang sangat vital dalam keberlangsungan setiap individu. Negara harus memastikan bahwa tidak terjadi interseksi dan ancaman dalam keyakinan beragama. Pemerintah harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tokoh yang berjasa dalam merekonsiliasi bangsa dan memberikan hukuman seberat-beratnya bagi pelaku distorsi agama seperti kaum radikalis anti NKRI dan juga para teroris.

Akhirnya perhatian kita juga harus dilabuhkan kepada kekuatan pemanfaatan media sosial. Kita bisa melakukan jihad digital melalui media sosial; menebar informasi yang konstruktif-edukatif dan mengkonter segala bentuk berita agitatif, intimidatif dan manipulatif. Bangsa Indonesia memerlukan pribadi yang cerdas, bertanggung jawab dan bijaksana untuk memastikan bahwa kehidupan ini akan sampai kepada anak cucu kita dalam keadaan selamat.

 

*Penulis adalah mahasiswa Studi Islam Interdisipliner UIN Sunan Kalijaga.