Menyambut Hikmah Ramadan

Arsyl E. R. Machawan - Ist.
21 Mei 2018 07:25 WIB Arsyl E. R. Machawan Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

Umat muslim di seluruh dunia saat ini bersuka cita dengan datangnya kembali tamu agung yang dinanti-nantikan yaitu Ramadan. Bulan penuh rahmat dan maghfiroh, saat pahala segala amalan terbaik dilipatgandakan, pintu neraka ditutup serapat-rapatnya sedangkan pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Keistimewaannya itu begitu kontras dengan arti dari kata Ramadan itu sendiri yang berasal dari bahasa Arab ramidha atau arramadh yang bermakna panas terik, begitu panasnya hingga tanaman layu kering terbakar, dan membuat penduduk Mekah di masa lalu enggan untuk keluar rumah tentu bukan tanpa maksud, hingga Islam hadir dan mensyariatkan untuk berpuasa dan aktif beramal saleh, di sinilah muncul nilai pengorbanan, keikhlasan, rasa empati serta kebersamaan.

Sejarah mencatat ada berbagai peristiwa luar biasa yang terjadi pada bulan mulia ini. Masih teringat dalam ingatan perang Badar ketika kaum muslimin yang jumlahnya tidak imbang tiga kali lipat jauh lebih sedikit dari kaum musyrikin Quraisy dengan izin Allah mampu menang, pun dengan perang Khandaq, perang Tabuk, begitu pula dengan peristiwa bersejarah Fathul Makkah. Peristiwa lainnya dalam rangka syiar Islam menemukan tantangan dan kemudian menaklukan Semenanjung Andalusia, berjibaku berperang lalu menang melawan tentara Mongolia. Tidak cukup di situ, peristiwa fenomenal lainnya adalah dengan turunnya wahyu pertama Al-Alaq 1-5 kepada Rasulullah Muhammad SAW sehingga, bulan ini juga merupakan bulannya Alquran, pedoman hidup umat dunia dan akhirat.

Selanjutnya pada Ramadan diwajibkannya umat Islam berpuasa, puasa merupakan salah satu media untuk bermuhasabah, memperbaiki jalinan intrapersonal hubungan antara diri sendiri dengan apa yang telah dilakukan diri seumur hidup, dan pada titik kulminasi akan tiba di kondisi merasakan hubungan yang sangat intim antara dirinya sebagai makhluk dan Allah sebagai sang Khaliq. Oleh karena itu mengapa ibadah puasa ini disebut amalan privasi, itu karena hanya masing-masing pribadi dan Rabbulalamin saja yang tahu tentang apa yang dirinya lakukan, apa yang pancainderanya perbuat, hingga apa saja yang terlintas dalam pikiran. Sebulan penuh berpuasa merupakan bentuk momen riyadhoh umat agar luarannya adalah puasa yang menurut Imam Ghazali shaumul khususil khusus menjadi pribadi paripurna yang bertakwa, dari individu-individu tersebut muncul hubungan interpersonal yang harmonis.

Ramadan di sini memiliki dua dimensi yaitu berkenaan dengan interaksi sosial individu dengan individu dan sosial individu dengan kelompok. Peristiwa sejarah telah mengajarkan cara agar menjadi umat Islam yang unggul berprestasi yaitu dengan memaksimalkan momen Ramadan. Mulai dari urusan mikro hingga urusan makro adalah langkah implementatif, dari sejak bangun, berinteraksi dengan keluarga, rekan kerja, bekerja serta aktivitas lainnya sampai tidur kembali, selama 24 jam optimal bernafaskan nilai-nilai Ramadan semata-mata itu semua dilakukan hanya mengharap riha Allah SWT. Tidak ada niat selain berlandaskan Allah. Lisan basah berzikir kepada Allah, memenuhi pikiran dengan Allah, dan tidak ada tujuan kecuali menuju Allah.

Memaksimalkan potensi diri masing-masing, melecut semangat kemudian lahir kesadaran bahwa dirinya adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri ataupun yang diberi amanah untuk memimpin individu-individu lainnya. Mulai ruang lingkup institusi maupun bangsa dan negara yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban di yaumul akhir.

Maka oleh sebab itu, Ramadhan tahun ini hendaknya jadi momentum kebangkitan bagi umat Islam. Momen penyelesaian masalah, dinamika yang menimpa diri, institusi, bangsa serta negara. Solusi telah tiba, pilihan di tangan kita semua. Wallahu a’lam bishawab.

*Penulis adalah dosen Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ad Tokopedia