HIKMAH RAMADAN: Numpang Hidup Kok Sombong

Seorang pria membaca Alquran di Masjid Istiqlal, Jakarta. - Reuters/Willy Kurniawan
25 Mei 2018 07:25 WIB Qurratul Aini Hikmah Ramadan Share :

Sombong memang penyakit yang sering menghinggapi kita semua. Siapa saja dan apa pun statusnya, orang awam atau berpendidikan, bisa dihinggapi oleh penyakit sombong. Bahkan di kalangan ulama, benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR.Muslim). Sebagai suatu penyakit, sombong hanya bisa disembuhkan berdasarkan kesadaran diri penderitanya sendiri karena sombong bertitik berat pada kondisi hati seseorang.

Pada dasarnya, sifat sombong dibagi menjadi dua, yaitu sombong kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta sombong kepada manusia. Yang dimaksud sombong kepada Allah SWT adalah keengganan atau mengabaikan perintah Allah SWT dan atau melanggar larangan-Nya. Orang yang sombong telah banyak diceritakan di dalam Alquran. Salah satunya adalah Firaun, yang dengan kekuasaannya telah mengganggap dirinya sebagai Tuhan. Dengan hartanya ia lalai membayar zakat dan menyantuni fakir miskin. Ia merasa kedudukan dan harta yang dia peroleh semata-mata karena usaha dan ilmunya sendiri, bukan karena bantuan orang lain, apalagi Allah SWT. Maka, Allah SWT membalas kesombongan Firaun dengan menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya di lautan karena keangkuhannya, dia lupa diri sehingga menyatakan dirinya adalah Tuhan yang harus disembah dan diagungkan. Kisah tersebut diabadikan oleh Allah SWT di dalam Alquran agar menjadi peringatan bagi seluruh umat manusia.

Sifat sombong yang kedua adalah sombong kepada manusia. Kesombongan jenis ini ada tingkatannya. Tingkat yang pertama karena materi, kita merasa lebih kaya, jabatan dan gaji kita lebih tinggi, mobil kita lebih bagus, rumah kita lebih istimewa. Tingkatan yang kedua sombong karena kecerdasam, kita merasa lebih pandai karena bergelar panjang, kita merasa lebih cerdas karena lulusan luar negeri. Tingkatan sombong terakhir yaitu karena kebaikan, kita sering menganggap diri lebih bermoral karena telah berhijab lebih dulu, lebih baik ibadahnya karena sering menghadiri kajian taklim, lebih tulus karena selalu merangkul banyak kawan dengan memiliki banyak komunitas genre manapun dari arisan, pengajian, sekolah dan entah kelompok mana lagi.

Setidaknya ada tiga cara yang dapat menjadi pengingat untuk menghilangkan sifat sombong dalam diri muslim. Pengingat yang termudah adalah asal, mati, dan gaul.

Pertama, kita harus kembali mengingat dari mana asal penciptaan kita sebagai manusia. Tentang hal ini, Allah SWT berfirman, “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (QS. Ath-Thaariq: 5-7).

Kedua, senantiasa menyadari bahawa hidup di dunia adalah sementara. Tentang hal ini Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada [Allah], yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8).

Karena kematian adalah sebuah warisan yang nyata dan pasti serta takdir yang dibawa manusia ketika mereka dilahirkan karena sekali lagi hidup itu berkawan akrab dengan mati. Dan tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya.

Ketiga, bergaul dengan tidak mempedulikan kaya miskin, warna kulit, suku, agama, dan lainnya. Orang yang sombong biasanya hanya terkungkung pada satu pergaulan saja sehingga dia merasa paling baik. Ada pepatah Jawa begini, “Dolanmu kurang adoh le.” Dalam arti kiasan, maknanya bergaulah dengan orang lain yang berbeda latar belakang agar kita mengetahui kekurangan diri dan bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepadaku agar di antara manusia saling merendahkan hati sehingga seseorang terhadap yang lainnya tidak saling menindas atau menyombongkan diri dengan yang lainnya.” (HR.Muslim).

Ya, kita hidup di dunia pun hanya menumpang hidup dan alam semesta ini mutlak adalah milik Allah SWT. Lantas apa yang pantas kita sombongkan sebenarnya?

*Penulis adalah dosen Magister Manajemen Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.