OPINI: Tragedi Bulan Mei

Rombongan bus yang mengangkut napi teroris Mako Brimob, memasuki dermaga penyeberangan Wijayapura, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/5/2018). - Antara/Idhad Zakaria
27 Mei 2018 00:25 WIB Sumbo Tinarbuko Aspirasi Share :

Radikalisme, terorisme, dan bom bunuh diri menjadi kata kunci yang menandai tragedi pada bulan Mei. Penanda pertama atas tragedi itu, bermula dari gegernya demontrasi memperingati hari buruh yang berlangsung di depan kampus UIN Sunan Kalijaga Jogja. Ujung dari pernyataan protes yang dilakukan sejumlah mahasiswa berakhir ricuh. Kericuhan dipantik dari tindakan radikalisme pengunjuk rasa. Mereka melempar bom molotov untuk membakar pos polisi yang ada di lokasi tersebut.

Beberapa hari setelah peristiwa unjuk rasa hari buruh, penanggalan bulan Mei mencatat tragedi radikalisme di Jakarta. Para teroris yang dibui di Mako Brimob menjalankan aksi radikalisme dengan menghilangkan nyawa polisi yang sedang menjalankan tugas negara.

Berikutnya, Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, mencatatkan diri dalam tragedi bulan Mei. Tragedi yang sungguh menyayat hati ini mengantarkan pelaku bom bunuh diri menjadi trending topic. Pelaku bom bunuh diri berasal dari satu keluarga: ayah, ibu dan keempat anaknya. Mereka memilih berani mati ketimbang berani untuk hidup. Mereka meledakkan dirinya lewat bom bunuh diri. Hal itu mereka lakukan guna menempuh jalan tol kematian demi menggapai jalan surga yang dicita-citakannya.

Atas tragedi bulan Mei, Divisi Humas Polri membuat catatan visual berupa infografis penindakan terorisme pascabom Surabaya. Catatan visual tersebut diberi tanggal peristiwa sejak 13 Mei hingga 20 Mei 2018. Di Jawa Timur tertangkap 31 teroris, empat tewas. Di Riau sembilan orang teroris ditangkap, empat teroris tewas. Di Jawa Barat tertangkap delapan teroris dan empat di antara mereka tewas. Di Banten dan DKI Jakarta tertangkap 16 teroris, dua tewas. Di Sumatra Utara dan Lampung, masing-masing tertangkap enam teroris dan empat teroris.

Solusi Cantik

Radikalisme, terorisme, dan bom bunuh diri ditengarai menjadi semacam “solusi cantik” bagi para pelaku. Hal itu sejenis ideologi baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senantiasa menggali energi negatif berwujud tabiat kasar yang mematikan. Visualisasinya digambarkan dalam sosok maskulin yang berteriak lantang guna memaksakan kehendaknya agar dituruti.

Pertanyaannya, kenapa fenomena kekerasan radikalisme, terorisme, dan bom bunuh diri dari waktu ke hari semakin bertumbuh mengeras? Apa yang mereka cari dalam perseteruan ini? Benarkah fenomena kekerasan sudah menjadi “solusi cantik” untuk mewujudkan kehendak dan keinginan akan suatu hal oleh para pihak? Apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan fenomena kekerasan radikalisme, terorisme, dan bom bunuh diri di Indonesia? Apakah rasa nguwongake alias memanusiakan manusia dalam persepektif cinta kasih antarumat manusia sudah mulai pudar?

Pertanyaan seperti itu sejatinya sulit dijawab secara langsung. Sebab antara hal satu dengan lainnya saling berkaitan erat. Bahkan terkesan bagaikan benang bundhet. Tetapi yang jelas terpampang di pelupuk mata, penghargaan atas kekaryaan seorang manusia dalam konteks fenomena kekerasan radikalisme, terorisme dan bom bunuh diri, akhirnya dimatikan oleh sang manusia itu sendiri. Padahal yang berhak untuk menentukan mati hidupnya seseorang adalah Gusti Allah.

Adil dan Beradab

Dalam perspektif budaya visual, masyarakat Jawa senantiasa setia dengan ketetapan adat. Manakala seseorang yang sedang ditimpa masalah, maka penyelesaian dan jalan keluarnya didekati dengan pendekatan kemanusiaan yang adil dan beradab. Leluhur orang Jawa mengajarkan pada kita, “Yen ana rembug dirembug, nanging olehe ngrembug kanthi sareh.’’ Artinya jika sedang memiliki masalah yang menyebabkan salah pengertian antarpihak, marilah diselesaikan dengan kepala dingin dan hati tenang.

Nenek moyang juga meneladankan lelaku, “Aja tumindak grusa grusu, nanging tumindak kanthi landesan pikiran kang wening.’’ Maknanya jika kita sedang memiliki masalah, jangan terburu-buru bereaksi untuk memutuskan masalah tersebut secara emosial dengan tindak kekerasan. Suri teladan tersebut justru mengajarkan untuk senantiasa memikirkan segala sesuatunya dengan tenang. Selanjutnya dipertimbangkan untuk diputuskan secara bijaksana dan bermartabat.

Piwulang becik dari leluhur tersebut di atas jika diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari selalu mengajak setiap manusia untuk berbuat baik. Senantiasa mengajak setiap manusia menjalankan hidup dan kehidupan ini dengan lelaku yang bening sejak dalam pikiran dan bijaksana saat bertindak mengisi hidup dan kehidupan ini.

*Penulis adalah Doktor Ilmu Humaniora FIB UGM dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Jogja.