HIKMAH RAMADAN: Dampak Takwa

Ilustrasi berdoa sebelum buka puasa. - Reuters/Ina Fassbender
28 Mei 2018 07:25 WIB Miftahulhaq Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

Tujuan disyariatkannya puasa adalah menjadikan setiap pelakunya menjadi manusia yang bertakwa. Takwa merupakan ucapan dan perbuatan. Ucapan adalah ucapan yang baik dan perbuatan adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan Allah. Takwa adalah sifat dan sikap yang harus pelihara terus menerus oleh setiap orang mukmin. Buya Hamka menyatakan bahwa takwa adalah memelihara hubungan yang baik dengan Allah SWT.

Takwa adalah perkara penting bagi setiap mukmin. Banyak ayat yang memerintahkan setiap mukmin untuk memperhatikan aspek takwanya. Dalam pelaksanaannya, setiap mukmin diperintahkan mewujudkan sifat dan sikap takwa semaksimal kemampuannya. Allah memerintahkan setiap manusia untuk mengerahkan segala usaha dan kemampuan yang dimiliki untuk bertakwa kepada-Nya. Di antara usaha yang harus dilakukan adalah mendengarkan segala nasihat-Nya, mentaati segala perintah-Nya, dan menginfakkan rezeki yang telah diberikan kepada kalian di jalan yang telah ditetapkan, serta terus melakukan kebaikan dalam kehidupannya.

Buya Hamka menjelaskan bahwa siapa saja yang memiliki sifat dan sikap takwa maka dia akan dianugerahi pembeda, yaitu al-Furqan. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya. “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (Q.S. al-Anfaal/8: 29).

Al-Furqan berarti kesanggupan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang mudarat dan mana yang manfaat, mana yang hak dan mana yang batil. Al-Furqan adalah dampak dari takwa dan takwa sendiri lahir dari kedalaman iman. Manusia yang beriman dan bertakwa niscaya akan mampu memiliki kemampuan membedakan kebaikan dan keburukan secara objektif. Manusia yang memiliki furqan adalah manusia yang selalu memelihara hubungan dengan Allah, menjaga diri, senantiasa awas dan waspada dalam hidupnya.

Ciri lain manusia beriman dan bertakwa yang telah dianugerahi al-Furqan ditunjukkan dengan kemampuannya menilai secara halus dan akurat terhadap segala masalah. Jiwanya laksana memiliki kekuatan sinyal yang luar biasa, sehingga mampu mengetahui bahaya di hadapannya yang harus dihindari, emosinya senantiasa terbimbing oleh ayat-ayat Allah. Hidup dengan penuh kemuliaan, di manapun dan kapan pun dia berada.

Dalam konteks saat ini, siapa saja yang telah dianugerahi al-Furqan, dia akan mampu memelihara diri dari perbuatan syirik dan maksiat, awas dan waspada terhadap setiap informasi yang didapat, mampu mencerna dengan baik mana informasi yang benar dan hoaks. Tidak ada dalam kamus hidupnya untuk menyebarkan apalagi memproduksi berita hoaks kepada siapa saja. Dirinya jauh dari keterlibatan dalam berbagai kegiatan yang bisa menjerumuskannya pada perbuatan sia-sia, kepalsuan, penuh permusuhan, teror dan tipu daya setan. Hidupnya kaya dengan kegiatan produktif untuk menciptakan berbagai amal saleh dan kemanfaatan dalam berbagai bidang. Jiwanya tumbuh dengan dengan bersih, bersinar terang memancarkan perilaku damai, menghindarkan diri dan orang lain dari berbagai bahaya, sehingga tampak mana yang berbahagia dan mana yang berbahaya. Wallahu A’lam.

*Penulis adalah dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ad Tokopedia