HIKMAH RAMADAN: Puasa Membentuk Karakter Unggul Manusia

Tadarus Alquran di Aceh. - Antara/Irwansyah Putra
02 Juni 2018 07:25 WIB Abdus Shomad Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

Bulan Ramadan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Bulan ini, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah, rahmah dan penuh ampunan (maghfirah). Ibadah puasa pada Ramadan mempunyai orientasi pada pembentuk karakter diri seseorang menuju derajat mulia yaitu takwa di hadapan Allah Tuhan semesta alam, sehingga orang yang menjalankan puasa atas dasar iman dan keyakinan kepada Allah ditempatkan di tempat yang terbaik dan muliakan di sisi-Nya, sehingga hanya Allah yang dapat menilai kualitas ibadah puasa yang dilakukan oleh seseorang apakah orang tersebut benar-benar bertakwa atau tidak.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 183, “Wahai orang-orang beriman diwajibkan atasmu puasa seperti apa yang telah diwajibkan orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.” Ibadah puasa yang telah diwajibkan bagi orang-orang yang beriman ternyata mempunyai dampak positif dalam beberapa hikmah. Hikmah yang pertama yaitu dimensi jasmani (kesehatan), ketika orang yang berpuasa sesuai yang diajarkan agama Islam (ada buka dan sahur sesuai waktu) meskipun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebahagian, pahala berlipat, dan bahkan suatu karunia dalam kesehatan. Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu'aim, “Berpuasalah maka kamu akan sehat.” Dengan berpuasa, akan diperoleh manfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berbagai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

Yang kedua hikmah sosial. Orang yang berpuasa dapat merasakan bagaimana lapar haus dan dahaga di siang hari sebagaimana dirasakan oleh orang-orang yang nasibnya belum beruntung (tidak rutin makan). Dengan ikut merasakan hal itu diharapkan muncul empati dan menggerakkan hati untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk orang-orang yang belum berkecukupan yaitu dengan memberikan zakat, infak atau sedekah.

Pada hikmah berikutnya yaitu dimensi spritual yaitu dampak puasa memberikan kepuasan batiniah seseorang dalam melakukan kontak hati dengan sang Pencipta, karena ibadah puasa merupakan ibadah yang rahasia (tersembunyi) antara hamba dengan sang Khalik, dengan ketersembunyian puasa itu diharapakan hamba-hamba yang beriman benar-benar menjalankan sungguh-sungguh merasa dalam pengawasan Tuhan yang Maha Kuasa Allah SWT. Seseorang yang menjalankan lelaku luwih dan lelaku nyapih hawa nafsu dalam ibadah puasa ini memberikan kepekaan spiritual pada seseorang menjadikan kesadaran fitrahnya sebagai hamba yang membutuhkan energi ruhani untuk bisa mencapai kebahagian urip sing sejati atau sejatining urip (hidup yang sejati atau sejatinya hidup) yang dirindukan bagi seseorang pencari Nur-Allah (hidayah) dalam menuju kebahagiaan yang hakiki dari sebuah perjalanan panjang setelah kehidupan didunia yaitu kebahagiaan akhirat bisa bertemu dengan Allah. Untuk itu syarat dalam mencapai maqam makrifattullah (mengenal Allah) yaitu mencapai derajat sebagai hamba yang muttaqien, dan derajat ini tidak semua orang bisa mencapai pintu gerbang takwa tersebut.

Untuk menuju derajad takwa tersebut tentunya tidak hanya menjalankan puasa sekedar menggugurkan kewajiban saja dan hanya bisa menahan lapar, dahaga dan hubungan suami istri. Ibadah puasa harus dikerjakan dilandasi atas dasar ruhiyah spiritual yang tinggi atau dalam bahasa transedentalnya adalah syiammul makrifah (mengenal puasa lebih dalam). Adapun cara yang dapat penulis sarankan untuk mencapai derajat takwa yang sebenar-benarnya (manusia yang unggul), dengan segala keterbatasan ilmu dan pengetahuan di sini ada rumus mencapai maqam tersebut yaitu dengan tiga hal yang pertama, mahabbah, murqabah dan muhasabah. Tiga hal itulah merupakan yang terpokok terpenting dalam ad-dinul Islam yaitu Iman, Islam dan ihsan.

Mahabbah seseorang dalam menjalankan puasa dilakukan dengan penuh suka cita dan bahagia, mempunyai rasa cinta terhadap perintah agama tanpa ada paksaan maupun intervensi maka dapat dimaknai mempunyai ruhiyah keimanan yang mendalam.

Yang kedua yaitu Muraqabah, dapat diartikan merasa dalam pengawasan Allah (merasa diawasi oleh Allah) orang yang berpuasa akan bertindak jujur tidak ada unsur kebohongan apalagi pencitraan karena jika seseorang yang berpuasa melakukan kesadaran bahwa dirinya sedang diawasi oleh Allah sehingga tidak mau melakukan perbuatan yang membatalkan pahala puasa, jika seseorang sedang berpuasa maka kecenderungan akan berkata, berpikir dan bertindak lebih hati-hati karena dirinya merasa diawasi Oleh Allah SWT, pada dimensi ini orang tersebut sudah melakukan implemtasi dari makna ihsan.

Dalam bahasa Arab arti muraqabah adalah awas mengawasi, berintai-intaian. Dalam istilah Tasawwuf menurut al Qusyairy arti muraqabah ialah keadaan seseorang meyakini sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita. Tuhan mengetahui seluruh gerak-gerik kita dan bahkan apa-apa yang terlintas dalam hati kita diketahui Allah.

Menurut Imam al Ghazali, perkataan muraqabah sama artinya dengan ihsan. Dan menurut Abu Zakariya Anshari, kata muraqabah jika dilihat dari segi bahasanya (etimologi) dapat diartikan dengan selalu memperlihatkan yang diperlihatkan.

Muraqabah merupakan pokok pangkal kebaikan, dan hal ini baru dicapai oleh seseorang apabila sudah mengadakan muhasabah (memperhitungkan) terhadap amal perbuatan sendiri. Jadi muraqabah merupakan hasil dari pengetahuan dan pengenalan seseorang terhadap Allah, hukum-hukum-Nya dan ancaman-ancaman-Nya. Apabila sikap muraqabah ini telah berakar kuat dalam jiwa seseorang, seluruh budi pekertinya menjadi baik, selamatlah ia dari bencana akhirat dan di dunia ini ia menjadi orang yang betul-betul beriman. Dalam kitab Iqazdul Himam, muraqabah dibagi atas tiga tingkatan. Pertama, muraqabatul qalbi, yaitu kewaspadaan dan peringatan terhadap hati, agar tidak keluar dari kehadirannya dengan Allah. Kedua, muraqabatur ruhi, yaitu kewaspadaan dan peringatan terhadap ruh, agar selalu merasa dalam pengawasan dan pengintaian Allah. Ketiga, muraqabatus sirri, yaitu kewaspadaan dan peringatan terhadap rahasia agar selalu mengingatkan amal ibadahnya dan memperbaiki adabnya.

Yang ketiga yaitu muhasabah, yaitu mengevaluasi. Orang yang cerdas adalah orang yang selalu melihat kekurangan diri sendiri dan selanjutnya melakukan perbaikan-baikan sehingga dirinya akan menjadi lebih baik, bagi orang yang berpuasa, untuk mencapai kualitas puasanya dari tahun ketahun, apakah meningkat atau tidak diperlukan, diperlukan indikator diri yaitu evaluasi dirinya. Watak (karakter) manusia yang mudah mengevaluasi diri (muhasabah) akan mudah minta maaf dan memberi maaf kepada orang lain, sehingga menyebabkan manusia tersebut berhati lembut. Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama Malik bin Nabi berkata, “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, ‘Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.” Puasa dengan implimentasi tiga hal itulah merupakan rumus yang mustajab dalam usaha mencapai derajat takwa di sisi Allah, sekaligus berorientasi dalam membentuk karakter diri seseorang menjadi manusia mulia, unggul di antara makhluk Allah yang ada di alam semesta.

 

*Penulis adalah dosen dan Ketua Program Studi Teknik Mesin Vokasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ad Tokopedia