HIKMAH RAMADAN: Teliti Memeriksa Informasi

Lasa Hs - Ist.
04 Juni 2018 07:25 WIB Lasa Hs Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

Kemajuan teknologi informasi tidak dapat dihambat apalagi ditolak. Kehadirannya memang memberikan fasilitas, tetapi kadang berdampak negatif. Hal ini tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Bagi umat Islam, teknologi informasi akan mempermudah akses informasi nilai-nilai Islam dari berbagai sumber. Kita dapat memilih berbagai tema yang disampaikan oleh para dai, ustaz, kiyai, atau ulama tertentu

Melalui media sosial, Alhamdulillah kita bisa mendengarkan kembali ceramah-ceramah dai maupun ulama kharismatik yang telah berpulang ke Rahmatullah. Bahkan pesan-pesan mereka dapat kita simak melalui Youtube misalnya.

Kemudahan akses ini akan menambah wawasan kita terhadap nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam. Keluasan wawasan ini akan mempersempit perbedaan dan mencegah perpecahan. Mereka saling menghormati perbedaan itu. Sebab ketika mereka belum memperoleh wawasan dari pihak yang berbeda, seolah-olah apa yang mereka lakukan itulah yang paling benar. Namun setelah mendapatkan informasi dari sumber lain, maka mereka akan berpikir dan berperilaku lebih toleran kepada sesama muslim dan pemeluk agama lain.

Namun demikian, dengan adanya keterbukaan menciptakan informasi dan kemudahan share informasi sering dimanfaatan untuk menciptakan kegaduhan dan kebencian. Kadang orang dengan seenaknya sendiri mencaci maki dan mencemooh agama atau tokoh lain tanpa merasa bersalah. Apabila cacian dan cemoohan itu diprotes, lalu dengan gampangnya cukup minta maaf. Katanya lebih baik minta maaf daripada minta izin.

Hiruk pikuknya penyebaran inforasi perlu disikapi dengan sangat hati-hati. Jangan sampai kita begitu mudah menciptakan informasi. Kiranya perlu dipikir panjang apakah informasi yang akan diciptakan itu menjadi masalah bagi orang lain atau tidak. Ide yang baik belum tentu diterima baik oleh orang lain apabila cara penyampaianmya tidak tepat dan salurannya tidak pas.

Penciptaan informasi

Agar informasi yang akan diciptakan itu tidak menimbulkan keresahan, konflik, maupun kerusuhan, kiranya perlu diperhatikan etika berinformasi antara lain bahwa informasi itu: tidak bersifat merendahkan dan mencela pihak lain. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah Swt dalam Al Hujurat (11): “Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain [karena] boleh jadi bahwa mereka [yang diperolok-olokkan] itu justru lebih baik dari mereka [yang mengolok-olok], dan jangan pula perempuan-perempuan [mengolok-olok] perempuan lain, [karena] boleh jadi perempuan [yang diperolok-olok] itu justru lebih baik dari perempuan [yang mengolok-olok]. Janganlah kamu saling mencela satu pada yang lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah [panggilan] yang buruk [fasik] setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Selanjutnya pada ayat berikutnya diingatkan bahwa kita jangan sampai kita ini begitu mudah buruk sangka, curiga, mencari-cari kesalahan orang lain, maupun menggunjing (gibah) orang lain.

Penyebaran informasi

Mengingat media komunikasi di tangan kita, kadang tidak disadari begitu mudah kita pencet tombol untuk share informasi. Kadang kita tidak berpikir panjang bahwa apa yang kita share itu akan menjadi masalah bagi orang lain atau tidak. Oleh karena itu dalam share berita perlu dilakukan pengecekan (tabayun) dari sumber informasi, isi informasi, maupun validitas informasi. Jangan sampai kita ikut menyebarkan informasi tidak valid, berasal dari sumber yang tidak bertanggung jawab, dan informasi itu bersifat bohong. Langkah tabayun ini sangat penting agar kita terhindar dari fitnah dan cemoohan orang lain. Hal ini sesuai peringatan Allah dalam Al Hujurat (6): “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.”

*Penulis adalah Kepala Perpustakaan UMY.

Ad Tokopedia