HIKMAH RAMADAN: Menggapai Takwa dengan Universitas Ramadan

Moch. Iqbal - Ist.
06 Juni 2018 07:25 WIB Moch. Iqbal Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

Di tepi jalan, ada sebuah spanduk yang bertuliskan, “Ramadhan udu ra madhang thok” (Ramadan bukan sekadar tidak makan). Sekilas tulisan tersebut tampak menggelitik, tetapi memiliki makna dan pesan yang sangat penting, terutama bagi orang yang berpuasa.

Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah yang terdapat di dalam rukun Islam. Hal tersebut menandakan bahwa puasa adalah salah satu inti atau pokok dari ajaran Islam. Sebagai pemeluk agama Islam, hendaknya kita benar-benar memperhatikan bagaimana puasa kita. Apakah puasa Ramadan kita hanya menggugurkan kewajiban dan lewat begitu saja tanpa menyisakan kesan dan pengaruh yang mendalam di dalam jiwa? Ataukah kita benar-benar berusaha menyelami puasa Ramadan dengan penuh kekhusyukan, keikhlasan, dan mengharap rida dan pahala dari Allah SWT?

Jika kita berpuasa sekadar untuk menggugurkan kewajiban, sangatlah sesuai dengan sindiran di spanduk tadi. Puasanya hanya menahan lapar dan dahaga saja, tidak mendapatkan apa-apa. Tidak mendapatkan pahala, tidak memperoleh rida Allah, dan tidak pula menggapai derajat takwa sebagai tujuan dari puasa itu sendiri. Orang-orang yang berpuasa seperti itulah yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya untuk memberi pelajaran kepada kita semua, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga”. (HR. Ath-Thabrany dalam Al-Kabir. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadis ini shahih li ghairihi, yaitu sahih dilihat dari jalur lainnya).

Ramadan adalah universitas terbesar dalam kehidupan setiap muslim. Perkuliahan dan pelatihan di satu bulan tersebut akan menentukan kualitas kehidupan seorang muslim, yaitu tergantung dari sejauh mana dan grade berapa yang hendak ia dapatkan selama kuliah di Universitas Ramadhan tersebut. Jika ia hanya membidik grade terendah, anak panah yang ia lepaskan pun akan tertuju kepada sasaran dan grade tersebut, tidak lebih. Jika ia berkekuatan hati untuk mendapatkan grade yang lebih tinggi, semestinya ia akan beribadah lebih baik lagi. Dan jika ia ingin mencapai grade tertinggi yaitu cum laude, tentu ibadahnya akan semakin lebih ditingkatkan lagi secara kuantitas dan kualitasnya.

Sebagaimana tujuan utama kita berpuasa adalah agar menjadi orang yang bertakwa kepada Allah, level ketakwaan manakah yang kita kehendaki melalui Universitas Ramadhan ini? Karena pencapaian masing-masing individu terhadap ketakwaan tergantung dari sejauh mana ia memanfaatkan perkuliahannya di bulan Ramadhn. Semakin tinggi grade atau derajat ketakwaan yang ia kehendaki, tentunya akan semakin khusyuk ia menjalankan ibadah di Ramadan dengan mengharap keridaan Allah. Saat Ramadhan akan berakhir, ia akan semakin mengencangkan ikat pinggangnya untuk ber-taqarrub ilallah, mendekatkan diri kepada Allah. Ia senantiasa bersabar dan istikamah dalam menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan itulah tingkat kesabaran yang tertinggi di mata Allah. Bukan sebaliknya, penuh ghirrah di awal Ramadan, namun menjelang berakhirnya Ramadan justru ia terjatuh dalam kubangan rasa malas: malas beribadah, malas mendekati masjid, malas menyentuh Alquran, dan malas bersedekah.

Di awal Ramadan banyak kita temui masjid besar namun terasa kecil dan sempit karena membeludaknya jamaah. Sebaliknya, mendekati pengujung Ramadhan masjid-masjid kecil pun akan terasa besar dan luas karena jemaahnya semakin menyusut dari hari ke hari.

Fenomena seperti ini sudah menjadi suatu hal yang lumrah dan biasa terjadi di masyarakat kita. Ini menunjukkan kita belum benar-benar berniat sepenuh hati untuk kuliah dan lulus di Universitas Ramadhan ini. Yang terjadi adalah Ramadan hanya dijadikan sebagai rutinitas tahunan yang tidak berimbas apapun dalam jiwa dan kehidupan. Oleh karenanya, selagi Ramadan belum meninggalkan kita, mari kita perbaiki kembali niat kita dalam menjalankan ibadah di bulan yang mulia ini agar Ramadan kita udu ra madhang thok.

*Penulis adalah Dosen Pendidikan Bahasa Arab UMY.

Ad Tokopedia