OPINI: Laku Kelimuan Dawam Rahardjo

Dawam Rahardjo - Antara
07 Juni 2018 08:25 WIB Mutimmatun Nadhifah Aspirasi Share :

“Saya telah melanglang buana, namun bagi saya Solo adalah kampung halaman yang selalu dikenang dengan indah. Di sanalah saya lahir dan tumbuh dan menjadi cikal bakal saya, Dawam Rahardjo, yang sekarang.”

Begitu Dawam Rahardjo (2013: 21) menutup tulisan memoar Ramadan dan tradisi pulang kampung dalam tulisan berjudul Ramadhan untuk Belajar. Dawam lahir di keluarga bangsawan dengan pendidikan agama yang kuat. Masa bocah sampai remaja tidak pernah sepi dari buku.

Ayahnya, pengusaha dan lulusan pesantren, tak pernah lupa memberi buku dan hari-hari penuh cerita. Pendidikan agama dan umum diberikan sang ayah. Dawam melakoni secara bergantian sejak kecil. Kala pagi, Dawam masuk sekolah umum. Waktu sore, masuk di sekolah agama Madrasah Al-Islam Solo.

Dawam mengingat masa remaja saat menjadi siswa di SMPN dan SMAN di Solo dipenuhi bacaan agama karya Kiai Munawwar Kholil, Abu Bakar Aceh, dan beberapa ulama Indonesia lainnya.

Cerita Dawam menjelaskan pada masa remaja telah memiliki kesadaran penuh ihwal perbedaan menghafal dan memahami agama. Dawam remaja tidak ingin beragama untuk berpahala tapi beragama sebagai ruang pertemuan keilmuan.

Jalan ini memberi bekal kuat kelak ketika berhadapan, menerima, menyeleksi, dan bersikap kritis atas beragam tafsir dan keberanian menafsirkan Alquran. Saat masuk kuliah di Jogja dan memilih jurusan ekonomi, Dawam tidak meliburkan diri dari studi agama.

Kita bisa membaca keterlibatan Dawam dalam komunitas Limited Group yang digagas Mukti Ali dan Ahmad Wahib di IAIN Sunan Kalijaga Jogja (sekarang UIN Sunan Kalijaga). Semasa kuliah di Jogja, libur kuliah pada Ramadan biasanya dia gunakan untuk mondok di Pondok Pesantren Krapyak.

Saat menulis refleksi 70 Tahun Dawam Rahardjo, Fachry Aly dan Bahtiar Effendy (2012) menulis Dawam terus mengembangkan nalar kritis tanpa menghilangkan romantisme beragama.

Romantisme beragama disebut sebagai pengaruh sastra yang ditekuni sejak remaja. Menjelang 1970-an, selulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Dawam mengembara ke Jakarta, bergabung dengan berbagai LSM tingkat nasional maupun internasional.

Ia bekerja tanpa meninggalkan ruang-ruang keilmuan seperti menjadi redaktur Mimbar Demokrasi dan Koran Mingguan Forum. Pada saat mencapai puncak karier, Dawam malah keluar dari pekerjaan di Bank of America karena ingin bekerja di Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Di LP3ES ini pula Dawam meminta Fachry Ali mengumpulkan kaum muda yang mau dididik dalam penelitian dan penulisan, utamanya teori-teori ilmu sosial. Kaum muda itu adalah Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Hadimulyo, Masdar Farid Mas’udi, Mulyadhy Kartanegara, Syafi’i Anwar, dan masih banyak lagi yang sekarang menjadi intelektual dan tokoh nasional.

Seusai memimpin LP3ES selama dua periode dan mengajar kaum muda, Dawam berharap kaum muda itu mampu mengemudikan Jurnal Ulumul Qur’an (UQ) yang dia gagas. Ulumul Qur’an terbit kali pertama pada 1989.

Menurut Dawam, Ulumum Qur’an hadir dengan sebuah kepribadian, sebuah respons terhadap seruan ayat 1 Surat Al-Alaq, iqra, yang pernah membawa umat ke jalan ilmu pengetahuan dan dan peradaban baru. Cahaya itu sudah lama hampir padam di dunia Islam, walaupun menyala bagaikan Matahari di bagian-bagian dunia lain. Ulumul Qur’an mencoba mengobarkan nyala itu kembali.

Tema-tema garapan Ulumul Qur’an mencakup empat tema besar: pembaruan pendekatan dalam pembacaan Alquran, dinamika islamisasi ilmu dan teknologi, aktualisasi tradisi ilmu pengetahuan klasik atau modern, dan tema futurologis atau prediksi kejadian-kejadian masa depan.

Dawam dalam edisi pertama mengabarkan sambutan ramah dari publik Indonesia atas terbitnya Ulumul Qur’an. Setelah jurnal ini terbit beberapa edisi, ada surat pembaca yang berisi keluhan karena tema dan bahasa yang terlalu berat.

Ada pembaca yang meminta redaksi memberi satu halaman khusus untuk memuat glosarium kata-kata ilmiah (edisi keempat Oktober-Desember 1990). Saat beberapa pembaca meminta redaksi menurunkan kadar tema dan bahasa, beberapa pembaca yang lain meminta peningkatan kualitas tema.

Dawam yang sejak remaja menekuni sastra, memberi nama jurnal ini dengan Ulumul Qur’an. Bagi sebagian orang, jurnal ini diduga hanya akan memuat tulisan yang berhubungan dengan Alquran dan ini juga dijumpai dalam beberapa surat pembaca.

Nama jurnal ini menurut Fachry Ali dan Bahtiar Effendy “adalah proyeksi puitikal subjektif Mas Dawam.” Ulumul Qur’an terbit dalam rentang waktu sembilan tahun, 1989-1998. Pada 2012 diterbitkan lagi tapi menemui kegagalan berlanjut.

Karya dan Ilmu

Tentu bukan karena alasan pendanaan. Etos keilmuan telah mengalami perubahan. Masa 1990-an itu kita menemukan keragaman rubrik mulai dari seni kaligrafi, puisi, cerita pendek, wawancara, esai kebudayaan, dan tentu artikel-artikel serius berdasar penelitian ilmiah dan wawasan yang luas.

Artikel yang ditampilkan tidak hanya artikel dari penulis Indonesia tapi juga beberapa terjemahan artikel dari intelektual-intelektual dunia. Ulumul Qur’an dirancang sebagai jurnal artistik, ilmiah popular, komunikatif, juga kontemplatif.

Keberhasilan Dawam mengasuh Ulumul Qur’an adalah menyatukan tema-tema keagamaan, keislaman, kebudayaan, tafsir Alquran dengan sastra Indonesia. Di Ulumul Qur’an menjadi hal lumrah M. Quraish Shihab dan sarjana tafsir Alquran berjejer dengan Danarto, Putu Wijaya, Afrizal Malna, Goenawan Mohamad, Acep Zam Zam Noor, Isbandy Setiawan, dan beberapa cerpenis-penyair Indonesia.

Ini hal yang sulit kita temukan dalam ruang kesarjanaan agama apalagi tafsir Alquran hari ini. Di Ulumul Qur’an, Dawam memiliki rubrik tetap: Ensiklopedi Alquran. Rubrik ini menyajikan tafsir Alquran secara tematis.

Saat metode ini baru berkembang secara teoritis di Indonesia, Taufik Adnan Amal (2012) menyebut Dawam telah mempraktikkannya dan Dawam masuk dalam generasi pertama yang menggunakan metode ini.

Islah Gusmian (2013: 314) menggugat pendapat Dawam saat dia menulis biografi penulisan tafsir ini. Selain kecanggihan metodologi, penguasaan disiplin keilmuan, Dawam menyebut perlu ada kekuatan “hati” dalam membaca dan memahami Alquran.

Menurut Islah, terlepas dari subjektivitas Dawam, “hati” tetap tidak memiliki pijakan epistemologis dalam kajian ilmiah. Kritik lain ditulis Taufik Adnan Amal (2000) yang menyebut metodologi yang digunakan Dawam tidak sesuai dengan yang diimpikan dalam hasil penafsiran untuk mencapai penafsiran kontekstual.

Adnan membandingkan metode yang digunakan Dawam kurang memiliki pendekatan historis sebagaimana yang dicontohkan oleh kaum pembaru. Justru Dawam masih tampak dominan menggunakan metode klasik.

Dengan keterbatasan bahasa yang dimiliki Dawam dalam menafsirkan Alquran, Dawam telah membuktikan bahwa siapa pun boleh menafsirkan Alquran dengan tetap berani mempertanggungjawabkan secara ilmiah.

Berkat muridnya, Budhy Munawar-Rachman, 27 tema yang berserakan di Jurnal Ulumul Qur’an berhasil disatukan dalam judul Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci (Jakarta: Paramadina, 1996).

Buku ini menjadi dalil kesungguhan Dawam menekuni Alquran tanpa menghilangkan keilmuan yang lain, yaitu ekonomi dan sosial. Justru Dawam meleburkannya menjadi satu kesatuan. Inilah sosok Dawam Rahardjo yang diasuh oleh etos membaca dan menulis: iqra.

Ketekunan mendidik kaum muda, menjadi pengasuh Ulumul Qur’an¸ hasrat menjelajah keilmuan, adalah kelanjutan dari kecanduan membaca sejak masa kanak-kanak dan remaja di rumah. Sejenak kita membaca lagi cerita Dawam saat mengingat masa kecil pada libur Ramadan.

“Di bulan Ramadan, semua sekolah diliburkan. Karena itulah, saya sering pergi ke rumah nenek di Desa Tempur Sari, Klaten. Di sana, saya menyempatkan diri membaca buku dan majalah, dan saya membacanya di pendapa rumah nenek. Sambil membaca buku, saya duduk di kursi goyang kakek saya, dan di situlah sebetulnya saya belajar agama, termasuk belajar filsafat dan sebagainya. Liburan sekolah tidak saya gunakan untuk bermain, tetapi membaca.”

Beberapa hari lalu, Dawam Rahardjo (20 April 1942-30 Mei 2018) telah meninggalkan kita. Dawam telah selesai menunaikan banyak amal ilmiah. Ketekunannya mewujud dalam banyak karya dan laku keilmuan.

*Penulis adalah Mahasiswa Pengkajian Islam Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sumber : JIBI/Solopos