OPINI: Keberlanjutan Sedekah untuk Atasi Kemiskinan

15 Juni 2018 03:25 WIB Dwi Supriyadi Aspirasi Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Ramadan menjadi hari istimewa bagi fakir miskin, kaum duafa, dan yatim piatu. Seorang pengurus panti asuhan bercerita sampai kesulitan membagi jadwal untuk perusahaan atau donatur yang ingin mengadakan acara buka puasa bersama di panti asuhan yang ia asuh.

Berbagai bingkisan dan amplop (uang) dari donatur melimpah di kamar santri dan pengelola. Memasuki 10 hari terakhir Ramadan, ajakan kerja sama terus berdatangan. Terpaksa mereka tolak karena memang jadwal sudah penuh.

Mereka berangan-angan andai kesadaran seperti ini terjadi sepanjang tahun. Alangkah sejahteranya kaum duafa dan anak yatim. Kita juga bisa melihat fenoma ini lebih nyata di jalan-jalan atau masjid-masjid yang begitu semarak sepanjang Ramadan.

Kenyataan di negeri ini memanglah demikian. Kesadaran beramal akan melonjak sepanjang Ramadan dan kembali seperti semula saat Ramadan telah usai, padahal anak-anak yatim dan kaum duafa tidak hanya hidup saat Ramadan.

Mereka hidup 12 bulan, 48 pekan, 365 hari, seperti kita pada umumnya. Kita akan kembali melihat pemandangan serupa saat pembagian zakat fitrah dan zakat mal. Setiap masjid memiliki stok beras dan uang yang melimpah untuk dibagikan.

Berbagai proposal dari aneka yayasan memenuhi sekretariat masjid. Berharap mereka juga akan mendapat jatah pembagian zakat. Tentu pengurus masjid telah memiliki sekian daftar yang memang layak menerima. Daftar kaum duafa dan yatim itu hanya digunakan saat itu. Setelah Ramadan akan dibuang dan mereka akan kembali didata pada Ramadan tahun depan.

Kesadaran bersedakah saat Ramadan ini sejatinya mengajarkan kita pentingnya menghindari sifat hubbuddunya (cinta terhadap dunia) yang berlebihan, membuang sifat tamak/serakah terhadap harta yang berlebihan, serta menanamkan jiwa sosial/berbagi dengan sesama.

Faktanya justru kita terjebak dengan menjadikan itu sebagai ritual saat Ramadan saja. Selebihnya kita masih saja melihat tingkat keimanan dan ketakwaan dari seberapa sering dia salat, baju dan serban yang ia kenakan, sering berpuasa, bolak-balik ke Mekah untuk umroh atau haji.

Membangun kesalehan pribadi saat Ramadan sering membuat kita lali/abai pada kemiskinan, kebodohan, kelaparan, dan kesulitan hidup yang diderita sebagian masyarakat setelah Ramadan.

Kemiskinan yang terus meningkat, pendidikan yang tidak merata, politik (kekuasaan) yang licik, fatwa yang berpihak, lingkungan yang terus dirusak, sistem ekonomi yang terus mencekik orang miskin, harga kebutuhan pokok yang terus melambung, korupsi yang tidak bisa dibendung dilupakan setelah Ramadan.

Tidak sedikit orang Islam yang dengan khusyuk merapatkan dahi di sajadah sampai dahi menghitam, sementara ia tidak tahu di sekitarnya ada orang yang digerogoti penyakit, kekurang gizi, dan putus sekolah. Kita butuh dakwah nyata yang bukan sekadar seremonial saat Ramadan.

Bukan hanya dakwah bil lisan dan bil kalam, tetapi kita harus lebih menggiatkan lagi dakwah bil hal yang telah dijalankan oleh ulama kita yang merintis dakwah Islam di negeri ini.

Kita bisa menengok lebih lengkap penggunaan istilah dakwah bil hal ini dalam tulisan Dahlan Iskan yang menjadi materi pidato ilmiah penerimaan gelar Doktor honoris Causa bidang Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang pada 8 Juli 2013.

Kita sering mendengar pepatah, “Jangan hanya memberi ikan, berilah kail; jangan hanya memberi kail, berilah juga kolam; jangan hanya memberi kail dan kolam, ajaklah ke kolam untuk bersama memancing ikan.”

Jika kita hanya mengurusi anak-anak yatim dan kaum duafa pada Ramadhan itu sama halnya kita memberikan ikan, tapi mereka tidak tahu bagaimana mendapatkan ikan itu lagi untuk penghidupan sepanjang tahun.

Teladan

Kita bisa meneladani Nabi Muhammad SAW mengatasi masalah sosial. Dikisahkan saat itu seluruh penduduk Madinah sedang bergembira menyambut hari raya Idulfitri. Anak-anak bersuka cita berlari ke sana kemari dan bermain dengan tawa riang.

Di antara semua itu Nabi SAW melihat seorang anak perempuan di sudut jalan. Dia tampak bersedih dengan pakain lusuh, sepatu usang, dan rambut acak-acakan. Nabi menghampiri, tapi anak perempuan itu enggan didekati. Ia justru menangis dan menutupi wajahnya dengan tangan tanpa tahu siapa yang menghampiri.

“Anakku, mengapa engkau menangis? Hari ini hari raya bukan?” kata Nabi SAW.

Ia pun bercerita bahwa orang tuanya telah meninggal saat perang bersama Nabi. Ia tidak memiliki orang tua untuk diajak merayakan hari raya. Nabi bisa merasakan kesedihan menjadi seorang yatim piatu.

”Apakah engkau mau aku menjadi ayahmu, Fatimah menjadi kakakmu, dan Aisyah menjadi ibumu?” Anak perempuan itu memberanikan diri melihat wajah orang yang dari tadi mengusap kepalanya.

Ia tidak menyangka itu Nabi Muhammad SAW. Ia pun kembali ceria dan berteriak kepada teman-temannya, “Akhirnya aku memiliki seorang ayah.” Kita bisa membayangkan jika anak perempuan itu hanya disantuni.

Ia akan bahagia sesaat, setelah itu berduka lagi. Dengan diangkat sebagai anak, anak perempuan yatim itu tidak hanya terpenuhi kebutuhan hidupnya tapi juga kembali memiliki orang tua yang akan terus menjaganya sepanjang tahun, bukan hanya saat Ramadan dan Idulfitri.

Hal serupa juga dilakuan Nabi SAW ketika melihat seorang pemuda yang menjadi pengemis. Nabi SAW tidak begitu saja memberi uang. Nabi SAW justru memberi kapak yang nantinya akan terus digunakan si pemuda untuk mencari kayu bakar dan menjualnya.

Begitulah Nabi Muhammad SAW mengatasi masalah sosial, tidak begitu saja memberikan ikan. Tentu baik memberikan sedekah pada Ramadan kepada kaum duafa dan yatim piatu, namun akan lebih baik lagi jika program itu dilanjutkan setelah Ramadan dengan memperluas cakupan kegiatan di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Daftar penerima zakat tidak hanya digunakan saat Ramadan. Ini seperti yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan saat mendirikan Muhammadiyah (1922). Warga Muhamamdiyah kala itu begitu istikamah mengaplikasikan perintah Alquran Surat Al-Maa’un mengurusi fakir miskin, yatim piatu, dan kaum duafa secara terorganisasi dan sistematis sepanjang tahun.

Demikian juga ketika K.H. Hasyim Asy’ari dan sejumlah ulama mendirikan Nadhlatul Ulama pada 1926. Mereka giat menerapkan sendi-sendi pokok yang menjadi pilar jam’iyah hingga kini.

Kita berharap senyum fakir miskin, yatim piatu, dan kaum duafa tidak hanya merekah saat Ramadan dan Idulfitri, tapi sepanjang tahun hingga bertemu Ramadan berikutnya.

*Penulis adalah penulis buku Beragama: Bertapi, Bernamun, Bermaka (2017).

Sumber : JIBI/Solopos

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia