OPINI: Salah yang Saleh

Mohamed Salah - Reuters/Dylan Martinez
22 Juni 2018 01:25 WIB Advent Tarigan Tambun Aspirasi Share :

Salah satu yang menjadi daya tarik sajian berita olahraga di koran adalah goresan grafis yang artistik dan dinamis, khas spirit olahraga. Halaman depan selalu memanjakan mata dengan dengan desain grafis yang mampu melahirkan keingintahuan pembaca.

News sport lovers terbiasa dengan sosok pemain yang dilingkari dengan angka-angka, mulai dari jumlah gol, assists, menit bertanding, jumlah pertandingan, dan lain-lain. Semakin banyak angka yang terpampang terlihat semakin profesional dan bukti bahwa koran yang bersangkutan memiliki unit penelitian dan pengembangan yang aktif.

Beberapa hari yang lalu halaman-halaman berita olahraga memperlihatkan sosok fenomenal the rising star di Premier League Mohamed Salah. Sebelum membahas Mohamed Salah, izinkan saya mengunakan inisial Moh. Salah.

Saya dengan sengaja menuliskan seperti ini hanya untuk menarik perhatian pembaca bahwa dalam nama pemain yang digadang-gadang akan tampil bersama Real Madrid ini terdapat kata yang aneh bagi publik pembaca Indonesia. Salah.

Sebagai catatan tambahan bahwa nama pemain bola kerap menjadi inspirasi bagi orang tua untuk memberikan nama anak yang baru saja lahir. Selama ini saya belum pernah mendengar nama anak yang lahir di Nusantara ini diberi nama Salah. Soleh tentu banyak sekali, demikian juga Soleha.

Kembali ke paragraf awal tentang angka-angka yang menghiasi desain grafis seorang pemain sepak bola. Mungkin terinspirasi dari desain grafis ini sebuah koran juga membuat hal yang sama, dikelilingi dengan angka-angka, hanya sosok yang dipaparkan bukan seorang pemain sepak bola tetapi gambar siluet seekor buaya dan ikan hiu yang sedang bertarung. Lambang Kota Surabaya.

Angka-angka yang dipaparkan adalah data jumlah korban bom bunuh diri yang terjadi secara berdekatan waktunya di beberapa tempat di Kota Surabaya, di tiga rumah ibadah dan juga markas kepolisian kota tersebut. Saya tidak ingin memaparkan keperihan dan kepedihan itu di sini dalam bentuk data-data korban.

Kala itu ruang publik kita dipenuhi oleh berita tentang korban melalui televisi, demikian juga dengan melalui Internet yang mudah diakses dengan smartphone. Yang pasti ada sesuatu yang salah dalam cara kita memahami hidup bersama. Saya tidak tahu persis di mana letak kesalahan itu, tetapi pasti ada yang salah.

Menjadi tugas bersama kita mencari letak akar permasalahan sehingga muncul tindakan-tindakan yang salah tersebut. Membunuh orang lain, apalagi dengan menggunakan ayat tertentu dari kitab suci, adalah tindakan yang salah atau dalam bahasa umum disebut dosa.

Jika kita menganggap itu baik-baik saja, ada yang salah dalam cara kita berada. Jika ada yang mendukung tindakan itu, baik secara terbuka di media sosial atau pun dalam internal batin, kita harus berani mencari letak kesalahan cara berpikir kita. Mengapa tindakan salah itu tetap dibenarkan?

Satu hal yang perlu kita pahami, tindakan salah itu (bom bunuh diri) bukan sudden gol, terjadi begitu saja, tetapi sebuah tindakan yang sudah direncanakan, dilatih, divisualisasikan, dibayang-bayangkan, dan dicita-citakan. Bom bunuh diri ibarat gol terindah dalam pertandingan final hidup mereka (teroris).

Sangat berbanding terbalik tentu saja dengan 40 gol yang dibuat oleh Moh. Salah yang melahirkan tepuk tangan meriah dan trofi the best player di Liga Premier Inggris 2017/2018 sengan sepatu emas di tangannya. Ia telah memecahkan rekor Cristiano Ronaldo selama merumput di Inggris.

Setiap gol dari kaki Moh. Salah adalah air mata haru ratusan orang atau bahkan ribuan orang muda Mesir yang dibantu oleh pemain yang memilih hidup sederhana ini. Dengan gaji Rp1.750.000.000 (saya sengaja menuliskan dalam angka agar tervisualisasi dengan lebih baik) Moh. Salah sudah melakukan puluhan tindakan saleh, membantu orang yang membutuhkan.

Moh. Salah telah mendirikan Salah Charity Foundation dan menyisihkan 2.000 paun dari setiap bulan gajinya. Ia juga telah menghabiskan satu juta paun untuk membangun Rumah Sakit Universitas Tanta dengan peralatan modern.

Ia tidak ingin kegiatan amal ini dipublikasikan. Mimpi berikutnya adalah membangun jalur kereta api dari desanya ke kota terdekat Bosyoun. Jika Anda sedikit kepo tentang M. Salah, akan Anda temukan pengakuan seseorang di Youtube yang memeluk Islam setelah mengikuti sepak gol (untuk tidak mengatakan terjang) Moh. Salah yang dianggap sebagai sosok yang layak dipuji dan ditiru.

Milik Kita

Wajar bila nama pemain yang baru berusia 26 tahun pada Juni ini lebih sering muncul di media massa daripada Firaun, penguasa pada zaman Mesir Kuno. Dengan gocekan cantik dan suntikan halus berbisa ke mulut gawang, Moh. Salah kini disejajarkan dengan dewa bola saat ini Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Saya yakin Moh. Salah memiliki fans setia dan bukan tidak mungkin suatu saat nanti sosok yang kerap lupa mencukur janggutnya ini akan diundang ke Gelora Bung Karno dan salat bersama di Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara, masjid yang dibangun dengan penuh simbol keagamaan dan rasa cinta pada tanah air.

Moh. Salah telah membuktikan bahwa sepak bola mampu berbicara lebih kuat daripada sekadar mencetak rekor gol. Dia tidak semata-mata menjadi mercusuar arah serangan ke barisan pertahanan lawan, tetapi juga ikon baru dalam dunia olahraga. Tidak mudah melahirkan sosok muda berbakat sekaligus berhati saleh. Mohamed Salah yang saleh.

Harapan itu telah menjadi darah dan daging dalam tubuh pemain Mesir itu. Dia tidak semata-mata menjadi kebanggaan bagi warga Mesir, juga bukan hanya milik fans Liverpool, Mohamed Salah yang saleh adalah milik kemanusiaan yang selalu rindu pada sosok muda yang menyebarkan aura perdamaian.

Profile picture Mohamed Salah yang muncul di media massa cetak maupun online tampil dengan tangan terbuka lebar sembari berlari seakan-akan ingin membagikan kebahagiaan gol tersebut. Biarlah profile picture itu menjadi memori indah bagi anak-anak kita, generasi muda kita, bahwa Mohamed Salah adalah contoh kesalehan hidup.

Desiain grafis Kota Surabaya dengan data angka korban bom bunuh diri atas nama agama tersebut layak menjadi refleksi berbangsa dan bernegara, mengapa di bumi pertiwi yang bineka ini lahir tindakan-tindakan super salah? Atas nama kebenaran sempit mereka terjebak dalam kesalahan universal, kesalahan pada kemanusiaan.

Dalam haru biru kesedihan berbangsa dan bernegara karena bom bunuh diri di Surabaya, dunia olahraga selalu memberikan secercah harapan. Sekalipun dia bukan warga negara Indonesia, tetapi kesalehannya adalah milik kita semua. Nama bisa Salah, tetapi tindakannya super saleh.

*Penulis adalah pencinta sepak bola, pernah jadi penerjemah media olahraga berbahasa Spanyol.

Sumber : JIBI/Solopos