Bangsa yang Banyak Libur(an)

Wisatawan memadati Pantai Parangtritis, Sabtu (16/6/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
26 Juni 2018 07:56 WIB Indra Tranggono Aspirasi Share :

Libur Lebaran yang secara formal (berdasarkan tanggal merah) hanya dua hari, 15 dan 16 Juni 2018. Namun, pada praktiknya bisa molor sampai seminggu. Bahkan lebih.

Tampak, orang-masing masih ingin melanjutkan hari-hari rileksnya, meskipun kewajiban kerja telah menunggunya. Liburan jadi pilihan. Makan enak. Piknik. Belanja. Nonton. Atau dolan-dolan. Semua dilakukan secara beramai-ramai.

Benarkah bangsa kita sangat menyukai hari libur dan liburan?

Hari libur bangsa kita tergolong banyak. Hitung saja tanggal merah yang ada di kalender, dari har-hari besar sampai hari peringatan momentum tertentu. Dan, biasanya jika tanggal merah itu tepat jauh pada hari “kejepit”, misalnya Kamis maka liburan pun diteruskan sampai Ahad. Artinya, dalam seminggu, bagi apatur sipil negara (ASN) dan karyawan swasta hanya bekerja lima hari secara efektif. Hitung saja kemudian kasus itu dalam satu tahun.

Hari libur memang sangat dibutuhkan. Ia merupakan momentum bagi para pegawai, karyawan, pekerja atau buruh untuk beristirahat secara fisik dan psikis. Memasuki masa pause, rileks, mengambil nafas panjang dan mengendorkan seluruh ketegangan syaraf. Mereguk kesenangan atau kebahagiaan demi mendapatkan “modal” psikologi memasuki hari-hari kerja yang sibuk. Manusia perlu memasuki dimensi kemanusiaannya, setelah sebelumnya menjadi bagian dari mekanisme kerja kelembagaan atau dinamika ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Dengan libur, orang berusaha menemukan dirinya kembali setelah sekian lama “dikuasai” mesin kesibukan. Setelah libur atau liburan orang jadi segar kembali, memiliki kejernihan pikiran dan kebeningan hati sehingga langkah-langkah yang ditempuh menjadi positif dan produktif.

Di sisi lain, dengan berlibur masyarakat terdorong untuk membelanjakan uangnya, sehingga ekonomi sektor informal pun bergerak. Hotel, panti hiburan, pasar, mal, objek wisata, warung/restoran kuliner dan lainnya diserbu pengunjung. Ada tetesan “kesejahteraan” dari kelas menengah perkotaan ke desa-desa atau sektor ekonomi informal.

Namun, libur terlalu banyak juga tidak baik. Tubuh dan jiwa serta pikiran banyak “menganggur”. Tidak produktif. Lebih memanjakan fisik daripada kebutuhan untuk meraih prestasi. Orang pun memanjakan dirinya dengan banyak kesenangan. Itu bagi yang punya banyak kemungkan termasuk waktu, kesempatan, peluang dan uang. Bagaimana dengan mereka yang tidak memilikinya? Tentu mengalami stres, karena waktu luang menjadi “bethara kala” yang memangsa siapa pun yang gagal mengelolanya menjadi aktivitas produktif dan positif.

 

//Merugikan publik

Adapun bagi ASN banyak libur sangat merugikan publik yang semestinya dilayani. Sementara gaji mereka tergolong besar, masih mendapatkan banyak tunjangan, tapi produk yang dicapai terlalu rendah. Betapa borosnya uang negara yang dikeluarkan untuk membiayai gaji dan dinamika birokrasi. Di sini, masyarakat berhak menuntut kerja maksimal dan profesional ASN.

Negara yang terlalu banyak hari libur, dengan aparatur yang kurang memiliki passion, greget profesional dan output kerja yang maksimal, adalah negara yang merugi. Rugi, karena biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan capaian hasilnya.

Selain itu, negara pun merugikan masyarakat karena tidak maksimal dan berkualitasnya pelayanan. Masyakarta lah yang menggaji penyelenggara negara, dengan uang pajak yang dibayarkan ditambah hasil-hasil dari kekayaan alam.

Menjadi ironi getir jika ASN dan para pejabat politik atau penyelenggara negara yang digaji negara justru banyak menikmati hari libur, sementara masyarakat nonstruktural yang menghidupi dirinya sendiri dengan kerja keras tidak libur. Negara pelayanan dan negara kesejahteraan pun menjadi sulit terwujud di tangan ASN dan penyelenggara negara yang kurang memiliki etos kerja, etos kreatif dan produktivitas.

Bandingkan hal ini dengan bangsa Korea dan Jepang yang relatif memiliki etos tinggi dan produktif. Kehidupan mereka jauh lebih sulit dibanding bangsa kita karena mereka menghadapi empat musim, sementara kita hanya menghadapi dua musim.

Namun DNA mereka memang DNA pekerja keras, sehingga semua kendala dapat terasa dengan sangat baik. Ini terbukti dengan peradaban yang mereka bangun, seperti tampak pada nilai-nilai, etika, etos, dan perilaku yang mendorong mereka mampu menghasilkan karya di bidang ekonomi, budaya, teknologi dan hukum, sehingga sebagai bangsa mereka eksis di dunia.

Saatnya membangun sistem kerja yang lebih visioner dan menunjang produktivitas. Harus ada aturan atau regulasi yang secara ketat dijalankan, demi terhindarnya bangsa kita dari “kemalasan” kolektif akibat hari libur yang terlalu banyak. Bahaya terbesar dari libur terlalu banyak adalah terbentuknya mental mengejar kenikmatan baik secara biologis maupun psikologis. Akhirnya bangsa kita menjadi bangsa hedonistik, selalu memburu dan menyembah kenikmatan tanpa diimbangi etos kerja tinggi.

 *Penulis adalah pemerhati kebudayaan.