OPINI: Pelajaran Berharga dari Wonosadi

Panorama dari atas bukit Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul. - IG @Jperangin
28 Juni 2018 07:54 WIB Sugeng Pranyoto Aspirasi Share :

Oleh Lidia Ester Cahyani

Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana Jogja

 

Perkembangan zaman telah mengubah fungsi hutan. Saat ini, sebagian besar hutan berubah menjadi kawasan permukiman, pertanian, dan perkebunan kelapa sawit, sehingga keseimbangan ekosistem alam dan kehidupan manusia terganggu.

Perubahan iklim akibat pemanasan global berdampak negatif terhadap fungsi hutan sebagai paru-paru dunia. Oleh karena itu menjaga kelestarian hutan menjadi hal yang utama, karena hutan sebagai salah satu ekosistem alam berperan penting dalam mendukung kehidupan di Bumi.

Sistem pengelolaan hutan dari waktu ke waktu selalu berkembang. Masyarakat mulai menyadari pentingnya konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara tepat. Bahkan keterlibatan masyarakat tradisional melalui sistem kearifan lokal yang menganut konsep hidup seimbang dengan alam merupakan salah satu unsur keberhasilan dari suatu konservasi hutan.

Hutan Wonosadi terletak di Dusun Duren dan Dusun Sidorejo, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Hutan ini memiliki pesona keindahan tersendiri. Berstatus sebagai hutan adat, hutan Wonosadi merupakan habitat bagi berbagai jenis flora, seperti: Tamarindus indica (asam jawa), Tectona grandis (jati), Swietenia mahagoni (mahoni), Eusideroxylon zwageri (laras ati), Desmodium pulchellum (ketipes), Elephantopus scaber (daun tapak liman), Phaleria macrocarpa (mahkota dewa), Imperata cylindrica (alang-alang), Eleusine indica (krepak), Bletilla striata (anggrek tanah), dan Arachnis flos-aeris (anggrek kalajengking). Selain itu juga hidup beraneka ragam jenis fauna, antara lain: Nisaetus bartelsi (elang jawa), Dicrurus macrocercus (srigunting), Nyctixalus margaritifer (katak pohon), Sepentes (ular), Lacertilia (kadal merah), Trichys fasciculata (landak), Panthera pardus melas (macan cecep), Apis andreniformis (lebah madu), Xylocopa latipes (tawon endas), dan Valanga nigricornis (belalang kayu). Berbagai upacara adat untuk menghormati leluhur juga digelar di hutan Wonosadi, yakni: upacara adat Sadranan, upacara pengambilan air suci, dan upacara Wanakerti.

Masyarakat Wonosadi menerapkan metode konservasi hutan berbasis kearifan lokal. Kepercayaan bahwa hutan merupakan warisan yang sakral, keramat, dan dapat membawa berkah mewajibkan tradisi, adat istiadat, dan aturan-aturan mutlak berlaku di wilayah tersebut. Seluruh flora dan fauna yang ada di hutan dilindungi dan dilarang untuk diburu, dibawa keluar hutan maupun diambil untuk kepentingan komersial.

Agar upaya mengamankan dan menjaga konservasi hutan dapat dikelola dengan baik, dibentuk beberapa organisasi kemasyarakatan, yaitu Jagawana Ngudi Lestari, Kelompok Tani Sumber Rejeki, dan Kelompok Bala Dewi (Badan Pengelola Desa Wisata).

Konservasi di Hutan Wonosadi memberi banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat setempat. Sebagai tempat perlindungan bagi flora dan fauna, maka hutan Wonosadi kaya akan berbagai jenis tanaman obat-obatan serta sumber air bersih yang tidak pernah kering. Penduduk menggunakan sumber air tersebut untuk mengairi sawah serta memenuhi kebutuhan rumah tangga, misalnya memasak dan MCK.

Adanya upacara-upacara adat yang digelar menunjukkan bahwa Hutan Wonosadi merupakan warisan budaya, sehingga dapat dikembangkan untuk tujuan ekowisata dan meningkatkan sumber perekonomian masyarakat.

Melestarikan Hutan Wonosadi bukan pekerjaan yang mudah. Meskipun sering digunakan untuk penelitian dan praktikum lapangan, tidak ada program berkelanjutan jangka panjang yang mendukung konservasi.

Selain itu faktor sumber daya manusia menjadi kendala utama. Selama ini pengelolaan konservasi dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat yang berusia lanjut. Keterlibatan anak-anak muda yang potensial masih kurang. Dalam meningkatkan pemberdayaan kaum muda, peran perguruan tinggi dan organisasi karang taruna perlu dioptimalkan. Berbekal pengetahuan, keterampilan, dan visi konservasi yang kuat, kaum muda dapat berperan aktif sebagai promotor maupun pemandu ekowisata berbasis kearifan lokal, sehingga informasi yang diberikan kepada pengunjung tepat, tidak mengandalkan mitos saja.

Kaum muda juga dapat memperkenalkan Hutan Wonosadi kepada masyarakat luas sebagai salah satu tujuan ekowisata dengan melakukan manajemen promosi melalui media sosial, seperti: website, Facebook, Twitter, dan Instagram serta penyebaran leaflet dan brosur di tempat-tempat umum, misalnya toko buku, mal, kafe, perpustakaan kota, dan daerah.

Taman dan area bermain dapat dibangun untuk menambah nilai estetika dan menarik minat pengunjung terutama anak-anak.

Penting untuk selalu diingat bahwa hutan bukan milik pribadi atau sekelompok orang saja, melainkan milik kita bersama. Menjaga, mengkonservasi, dan melestarikan hutan merupakan tanggung jawab bersama. Sistem kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat sekitar Hutan Wonosadi memberi pelajaran yang berharga, yaitu hutan sangat berarti bagi dunia, karena keberadaan hutan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kehidupan.