OPINI: Masyarakat Super-Highway

Ilustrasi medsos
06 Juli 2018 07:41 WIB Nurudin Aspirasi Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang baru saja usai sebenarnya juga kemenangan media sosial. Tidak bisa dimungkiri, media sosial mau tidak mau ikut menentukan suara seorang kandidat kepala daerah.
Berbagai bentuk kampanye dilakukan; entah melalui tim sukses, sponsor, atau simpatisan. Dari kampanye positif sampai kampanye menghalalkan segala cara. Semua itu punya pengaruh pada diri pemilih.
Begitu pentingnya peran media sosial sampai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) harus gencar melakukan kampanye melalui media sosial untuk mendulang suara para Pemilihan Umum 2019. Sebagai partai baru, cara inilah yang dianggap penting karena partai itu belum punya akar di masyarakat.
PSI mencoba menyasar para pemilih muda, kaum muda urban, yang melek media sosial. Sehari sebelum pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah 2018, saya iseng-iseng bertanya kepada anak saya, mau mencoblos pasangan siapa dalam pemilihan kepala daerah?
Anak saya itu menjawab tidak tahu. Ia juga mengakui tidak punya informasi terkait dengan dua kandidat di pemilihan gubernur Jawa Timur. Saya memang membiarkan saja memilih pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur karena itu bagian dari pembelajaran politik, tanpa saya harus mengarahkan memilih pasangan yang mana.
Pagi hari saat mau berangkat ke tempat pemungutan suara saya tanya lagi, ternyata dia sudah mempunyai pilihan. Saya tanya lebih lanjut dari mana mendapat informasi tentang kandidat gubernur yang akan dia pilih? Dia menjawab dengan tegas, dari media sosial.
Meskipun yang dialami anak saya itu hanya kasuistis dan tidak mewakili sampel pemilih secara representatif, tetapi bisa dijadikan acuan bahwa para pemilih pemula hanya mengandalkan media sosial yang selama ini mereka akses.
Bisa jadi ada informasi berdasar orang-orang di sekitaranya, namun demikian peran media sosial tidak bisa dipandang sebelah mata. Paling tidak di kalangan mereka yang merupakan pemilih pemula dan akrab dengan teknologi modern.
Data Asosiasi Penyelenggra Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan lebih dari 50% penduduk Indonesia terhubung dengan Internet. Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta. Mayoritas pengguna Internet berasal dari kalangan urban (72,41%).
Sebaran penggunanya adalah 57,70% di Jawa; 19,09% di Sumatra; 7,97% di Kalimantan; 6,73% di Sulawei; 5,63% di Bali dan Nusa Tenggara; dan 2,49% di Papua. Di antara para pengguna Internet itu mayoritas adalah kaum muda. Dengan kata lain, masyarakat sekarang sangat tergantung pada Internet, termasuk media sosial yang bisa diakses dengan smartphone.
Ketergantungan itu sangat terkait erat dengan semakin mewabahnya perkembangan media sosial melalui Android. Ketergantungan masyarakat pada telepon genggam ini bisa dinamakan nomophobia (no mobilephone pobhia).

Kehilangan Dunia
Saya pernah mengadakan penelitian pada 2018 dan menunjukkan banyak di antara mahasiswa (contoh dari kelompok kalangan kaum muda) lebih bingung jika smartphone mereka ketinggalan dibanding dompet yang ketinggalan saat berangkat kuliah.
Ketiadaan smartphone membuat mereka seolah-olah kehilangan dunia dan seisinya. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan Secur Envoy di Inggris (2012) bisa dijadikan bukti lain. Sekitar 2/3 dari 1.000 orang mengaku merasa khawatir kehilangan telepon genggam atau hidup tanpa telepon genggam.
Penelitian itu juga menjelaskan kisaran umur yang mengindap nomophobia sekitar 18 tahun-24 tahun (77%) kemudian disusul responden berumur 25 tahun-35 tahun (68%) (Nurudin, 2017). Mengapa itu semua terjadi? Saat ini kita telah memasuki era masyarakat super-highway.
Menurut John V. Pavlik, super-highway adalah jaringan elektronik yang dihasilkan teknologi komunikasi yang canggih. Jaringan ini menghasilkan berbagai bentuk informasi dari seluruh pelosok dunia dan bisa diakses menggunakan video dan komputer.
Dalam perkembangan teknologi komunikasi yang aktual seperti sekarang ini, informasi yang dimaksud dalam super-highway bisa melalui e-mail, world wide web, jaringan sosial seperti Line, Whatsapp, Twitter, Instagram, Facebook, atau fasilitas chatting lainya.
Intinya adalah jaringan komunikasi yang canggih itu berasal dari seluruh penjuru dunia dan bisa diakses oleh siapa pun yang terhubung dengan teknologi komunikasi modern seperti Internet. Teknologi super-highway memaksa masyarakat menggunakan setiap komunikasi dengan menggunakan teknologi modern.
Saat ini, teknologi modern akhir yang berkembang salah satunya Internet dengan media sosial sebagai aplikasi paling populer. Apa pun informasi dan produk yang ingin dipopulerkan, memanfaatkan media sosial adalah bagian yang tak terpisahkan. Tak terkecuali produk itu bernama kandidat kepala daerah.
Pengaruh media sosial pada pemilih jelas dan nyata. Kita memang mengakui bahwa mayoritas masyarakat memilih seorang kandidat kepala daerah berdasar ikatan emosional, agitasi, bujukan, serangan fajar, dan ajakan-ajakan lain. Kini, media sosial tidak bisa dipandang sebelah mata.
Asumsi dasarnya, jika seseorang menggunakan media sosial mau tidak mau apa yang disajikan punya pengaruh pada sikap dan perilakunya. Kita tidak mendiskusikan apakah pengaruh itu positif atau tidak, tetapi hal terpenting adalah media sosial punya pengaruh.
Saat seseorang ikut menyebar link atau mengomentari sebuah informasi, secara tidak langsung ia terpengaruh. Secara sederhana, ia terpengaruh dan berusaha memengaruhi orang lain. Jika tidak, mana mungkin ia menyebarkannya?
Termasuk di sini jika seseorang itu menyebarkan berita-berita hoaks tentang seorang kandidat kepala daerah misalnya. Sebenarnya ia bermaksud mencoba menurunkan elektabilitas kandidat itu, namun secara tidak langsung ia mengunggulkan kandidat lain. Ini bukti bahwa media sosial punya pengaruh, bukan?
Coba perhatikan pula, banyak kandidat kepala daerah yang merasa perlu memopulerkan diri lewat media sosial. Tentu saja memopulerkan ini tidak sekadar membuat tayangan atau informasi lain dan sekadar menghabiskan dana, tetapi melalui pemikiran dalam dan riset pasar.
Tak jarang mereka ”menyewa” administrator media sosial berbayar untuk meningkatkan elektabilitas kandidat tersebut. Mengapa itu dilakukan? Kita sudah memasuki era super-highway. Masyarakat super-highway juga dicirikan pertukaran data digital yang bisa dilakukan dalam jarak jauh. Salah satu contohnya adalah melalui fasilitas chatting di Internet.
Sekarang hampir semua website berbasis interaktif dan memungkinkan pertukaran pesan dalam jarak jauh. Media sosial yang kian mewabah di dunia (Twitter, Facebook, Path, Instagram, Line, Whatsapp) adalah beberapa contoh fasilitas pengiriman pesan yang dimaksud. Cara-cara ini tentu akan dilakukan untuk memengaruhi pemilih.
Pemilihan kepala daerah telah usai, pemilihan presiden menjelang. Jadi, mengatakan bahwa media sosial tidak punya pengaruh dalam pemilihan kepala daerah bisa jadi mendangkalkan masalah dan membutakan diri atas fakta. 

 

 

Sumber : JIBI/Solopos

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia