OPINI: Politikus Karbitan

Bendera partai politik. - Solopos/Maulana Surya
11 Juli 2018 07:51 WIB Nazil Muhsinin Aspirasi Share :

Dalam ranah politik ketika ada tokoh muda hendak menjadi wakil rakyat atau pemimpin, masyarakat akan apriori dan cenderung menolak serta mengkhawatirkan nasibnya bisa seperti buah karbitan, yakni sangat mungkin akan cepat membusuk (korupsi, misalnya).
Istilah tokoh karbitan sekarang makin populer karena disinyalir akan muncul tokoh-tokoh muda kurang matang dalam berpolitik dalam pemilihan umum anggota legislatif dan pemilihan presiden pada 2019 mendatang.
Sejak dulu karbitan adalah istilah yang sangat populer di pasar-pasar buah untuk menyebut buah yang cepat matang karena dibungkus bersama karbida basah di dalam kertas atau plastik.
Karbida basah tersebut akan mengeluarkan gas yang membuat udara di dalam bungkus kertas atau plastik menjadi sangat cepat memanas sehingga buah pun akan sangat cepat matang.
Biasanya buah karbitan adalah buah yang masih muda dan belum saatnya dipanen. Buah karbitan lazimnya kurang manis rasanya dan kurang harum baunya dibanding buah yang matang secara alamiah.
Tentu ada risiko bagi buah karbitan, yakni karena sangat cepat matang maka akan sangat cepat pula membusuk. Buah karbitan harus segera dijual dan yang membelinya harus segera memakan buah itu karena tidak cocok disimpan dalam waktu lama meskipun di lemari pendingin.
Dengan kata lain, buah karbitan akan berumur pendek. Artinya, buah karbitan bisa saja cepat laku karena banyak pembeli yang ingin segera menikmati. Jika tidak cepat laku, harganya akan turun dengan cepat bersama terjadinya proses pembusukan yang juga sangat cepat.
Tempat-tempat sampah di pasar buah selalu dipenuhi buah karbitan yang tidak laku tapi sudah keburu busuk. Hal ini jelas sangat merugikan pedagang yang menjual. Banyak pedagang suka menjual buah karbitan karena ingin memburu banyak untung dalam waktu cepat walaupun risikonya kalau buah karbitan tidak cepat laku akan rugi besar.
Dalam sistem demokrasi dan sistem pemerintahan modern, yang membatasi masa kekuasaan atau masa jabatan hanya beberapa tahun, tokoh karbitan memang bisa saja muncul menjadi calon pemimpin di sebuah daerah, negara, atau di lembaga negara untuk menggantikan pemimpin sebelumnya yang sudah habis masa tugasnya.
Biasanya kemunculan tokoh karbitan didahului krisis kepemimpinan. Misalnya, jika di sebuah negara atau di lembaga negara mengalami kelangkaan calon pemimpin yang layak dipilih untuk memimpin maka sejumlah pihak bisa menjadikan orang lain atau dirinya sendiri sebagai tokoh karbitan agar tampak layak untuk segera dipilih menjadi pemimpin.
Hal ini persis seperti yang terjadi di pasar buah. Banyak orang biasanya akan terpaksa membeli buah karbitan karena buah yang matang alamiah sedang langka. Di banyak daerah, kemunculan tokoh-tokoh muda sebagai tokoh karbitan lazimnya karena ambisi elite politik senior.
Elite politik senior yang sedang berkuasa atau mantan penguasa setempat ingin mengusung anak atau kerabat dekat untuk bertarung dalam pemilihan kepala daerah, padahal si anak atau kerabat dekat itu belum memiliki kapasitas sebagai pemimpin daerah.
Ada kalanya tokoh lokal karbitan bisa menang dalam pemilihan kepala daerah karena didukung kekuasaan dan kekayaan seniornya. Dalam hal ini, rakyat bersedia memilih tokoh karbitan karena tergiur politik uang.
Akibatnya, banyak tokoh lokal karbitan di daerah yang terjerat korupsi karena kekuasaan yang diperoleh telah menelan banyak modal yang harus dikembalikan. Sejumlah tokoh lokal yang terjerat kasus korupsi ternyata adalah tokoh-tokoh karbitan yang dipilih rakyat dalam pemilihan kepala daerah diwarnai politik uang.

Perlu Waspada
Dalam tahun politik kali ini rakyat perlu waspada terhadap gelagat elite politik senior yang berambisi mengusung anak atau kerabat dekat untuk maju bertarung dalam pemilihan anggota legislatif atau Pemilihan Presiden 2019 mendatang.
Negara dan bangsa kita jangan sampai dipimpin tokoh karbitan. Dengan kata lain, jangan sampai ada tokoh karbitan yang menjadi tokoh nasional karena tokoh karbitan identik dengan tokoh yang belum matang dan sangat mustahil bisa menjadi negarawan.
Negara dan bangsa kita lebih membutuhkan negarawan, bukan tokoh karbitan. Bagi partai-partai politik yang serius mengutamakan masa depan bangsa dan negara selayaknya tidak mengusung tokoh karbitan untuk bertarung dalam pemilihan anggota legislatif dan Pemilihan Presiden 2019 mendatang.
Terlalu riskan jika masa depan bangsa dan negara kita dipertaruhkan dalam kontestasi politik yang diwarnai munculnya tokoh karbitan. Sekali lagi, publik harus semakin cermat menimbang gejala-gejala polirik yang mengemuka.
Publik harus menimbang mana partai politik atau elite politik senior yang punya gelagat hendak mengusung tokoh karbitan dalam pemilihan anggota legislatif dan Pemilihan Presiden 2019. Jangan sampai bangsa dan negara kita dipimpin tokoh karbitan yang bagaikan buah karbitan yang cepat membusuk.

Sumber : JIBI/Solopos