Seabad Kongres Kebudayaan Jawa

Pameran wayang di Bentara Budaya Yogyakarta. - Antara/Hendra Nurdiansyah
18 Juli 2018 08:25 WIB Bandung Mawardi Aspirasi Share :

Di Dalem Joyokusuman, Baluwarti, Solo, 14 Juli 2018, puluhan orang berkumpul dalam suasana tenang berhawa sejuk. Pohon-pohon besar seperti sedang menaungi keinginan orang-orang mengenang sejarah di Solo (Surakarta).

Diskusi yang diselenggarakan lembaga Concent (Solo) dan Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bertema Merunut Sejarah Komunitas di Surakarta itu terasa lambat bergerak sampai ke penjelasan dan argumentasi.

Foto-foto di pameran masih membisu, pelit cerita dan keterangan. Pendapa itu menanti pengucapan sejarah dengan ribuan kalimat, memungkinkan muncul sengatan menentukan kebermaknaan Solo di bentangan sejarah komunitas, dari masa ke masa.

Pengajar ilmu sejarah di Universitas Sebelas Maret, Susanto, selaku pembicara dalam diskusi cuma menyodorkan dua lembar tulisan pendek. Tulisan itu mustahil memadai untuk membuka segala kenangan kelahiran dan pertumbuhan pelbagai komunitas di Solo sejak ratusan tahun silam.

Pada alinea menjelang akhir, Susanto mencantumkan komunitas bernama Java Instituut. Pencantuman tanpa keterangan meski cuma sekalimat. Selama waktu diskusi, Java Instituut tak pernah mendapat perhatian dari pembicara dan puluhan orang yang duduk di kursi.

Nama itu gagal mengingatkan orang-orang pada sejarah pelaksanaan Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling (Kongres Guna Membahas Pengembangan Kebudayaan Jawa) pada 5-7 Juli 1928. Kongres di Solo itu menjadi pemula pelaksanaan kongres-kongres kebudayaan di Indonesia.

Nunus Supardi dalam buku berjudul Kongres Kebudayaan, 1918-2003 (2007) menganggap peristiwa akbar di Solo itu Kongres Kebudayaan I sebelum Indonesia merdeka. Foto-foto tentang acara itu tak turut dipamerkan di Dalem Joyokusuman.

Kini, kita memperingati seabad Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling. Sejarah sempat terlupa oleh Kota Solo yang terlalu bergairah mengadakan pelbagai karnaval, kirab, dan acara-acara kolosal. Peringatan seabad mungkin memang tak perlu saat Solo atau Indonesia sedang sibuk mengadakan acara-acara bertaraf internasional.

Kongres berlangsung pada ”zaman bergerak”, mengacu ke studi Takashi Shiraishi berjudul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997). Solo memang sedang bergerak dan berkecamuk oleh kemeriahan ideologi dan peristiwa-peristiwa menentukan nasib tanah jajahan.

Zaman bergerak itu bertokoh Tjipto Mangoenkoesoemo. Ia adalah dokter dan penggerak ide politik berani menghantam gagasan-gagasan kolot kejawaan dan nasionalisme picik. Di Solo ia mahir berdebat dan menginginkan Hindia Belanda itu maju tanpa ragu.

Di hadapan para elite di keraton dan pemerintah kolonial, Tjipto Mangoenkoesoemo adalah pengejek, penghantam, dan pelawan berbarengan luapan watak keras memusuhi pemerintah kolonial Belanda.

Ide dan imajinasi Jawa diguncang Tjipto Mangoenkoesoemo melalui artikel dan pidato. Takashi Shiraishi menganggap penanda zaman bergerak di Solo adalah laku revolusioner Tjipto Mangoenkoesoemo meski tak menepikan tokoh-tokoh bernama Samanhoedi, Marco Kartodikromo, Haji Misbach, Mangkunagoro VII, Radjiman Wediodiningrat, dan Paku Buwono X.

Dulu orang-orang memberi julukan kepada Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai onze Tjip atau ”Tjipto kita”. Pada zaman bergerak, kalangan sarjana, seniman, pejabat, dan bangsawan bersekutu dalam kongres untuk memikirkan masa lalu dan pemajuan Jawa.

Pemajuan Jawa

Tjipto Mangoenkoesoemo turut mengedarkan ide menghasilkan bantahan dan semaian argumentasi. Pelaksanaan Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling berdekatan dengan peringatan 10 tahun Boedi Oetomo dan pembukaan Volksraad.

Para pemikir dan peserta di kongres memiliki kaitan erat dalam perkembangan Boedi Oetomo di Solo. Misi pemajuan Jawa bermula dari titik (hampir) sama. Tokoh penting di Boedi Oetomo dan kongres adalah Soerjopoetro (Mangkunagoro VII).

Pada saat jumlah anggota Boedi Oetomo di Solo meningkat melampaui jumlah anggota di Jogja, Soerjopoetro tampil sebagai pemimpin terpandang Boedi Oetomo di Solo (Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918, 1989).

Takashi Shiraishi dalam tulisan berjudul ”Satria” vs Pandita: Sebuah Perdebatan dalam Mencari Identitas (1986) memberi uraian terkait Boedi Oetomo, kaum pergerakan nasionalisme, dan Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling.

Prakarsa kongres dimulai oleh kaum muda di Boedi Oetomo dan orang-orang Eropa penekun Jawa. Prakarsa mereka mendapat sambutan dari peserta bercap penganut nasionalisme Jawa. Tata cara itu membuat elite pergerakan politik di tingkat nasional tak mau ambil peran, pengecualian adalah Tjipto Mangoenkoesoemo.

Sang revolusioner membuat debat sengit tentang nasionalisme Jawa dan nasionalisme Hindia melawan gagasan-gagasan Soetatmo Soerjokoesoemo. Kongres menjadi ajang untuk perdebatan jilid II. Tjipto Mangoenkoesoemo ada di pihak sangat kritis pada nasionalisme Jawa.

Tokoh unik itu memang membikin ”marah” saat menuduh pendidikan dan bahasa Jawa tiada berfaedah untuk menapaki masa depan cerah atau memberi makna berlimpah pada zaman bergerak. Konon, perdebatan itu hadir saat makalah para pembicara dinilai buruk dan menjauh dari tema.

Nunus Supardi mencatat pokok-pokok masalah di Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling: (1) bangsa Jawa mungkin membangun kembali peradaban tinggi seperti masa lampau; (2) peranan peradaban Barat bagi Jawa; dan (3) dampak pendidikan Barat.

Kongres itu seru tapi menimbulkan dilema memikirkan Jawa. Lima orang pembicara asal Jawa dan empat orang Belanda. Setahun berlalu dari kongres, para penekun Jawa itu memutuskan mendirikan Java Instituut pada 4 Agustus 1919.

Kongres menjadi pemicu pendirian institusi berlakon Javanologi. Java Instituut berkantor di Solo dengan kontribusi besar melalui terbitan majalah bernama Djawa. Institusi bernama Jawa Instituut sengaja membatasi masa kerja, 4 Agustus 1919-4 Agustus 1948.

Ingatan dan pengisahan Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling dan Java Instituut tak pernah muncul selama dikusi di nDalem Joyokusuman. Angin semilir perlahan agak serupa alur pembicaraan komunitas-komunitas beruang sejarah di Solo tapi tiada menebar cerita, ketokohan, dan peristiwa.

Suasana itu lekas membuat lapar dan kantuk melanda saat siang mulai terasa sah. Susanto cuma menulis dan mengucap Java Instituut. Sebutan sepi dari pengisahan dan penjelasan. Kongres bersejarah pada 1918 pun luput dari pembicaraan.

Orientalisme

Kita masih mungkin mengingat dan membuka lembaran sejarah asal mau membaca (lagi) buku berjudul Jawa (2003) garapan John Pemberton. Pendirian Java Instituut memiliki maksud terselubung bercorak orientalisme.

Jawa sedang diurusi dengan ”pertarungan” otoritas di kalangan Belanda dan Jawa. Java Instituut seperti penentu nasib Jawa meski tak sampai ke baku. Tata cara modern sedang diberlakukan untuk mengurusi Jawa lampau dan menua.

Sejarah Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling dan Java Instituut tetap bertokoh elite Jawa berkaitan pula dengan Boedi Oetomo. Mangkunagoro VII ditunjuk selaku ketua Java Instituut berdalih tak ada orang sanggup mengisi jabatan mentereng dan menanggung beban besar.

Jawa pun bergerak dengan tatapan mata studi bermisi memodernkan sekian hal justru ingin tetap kuno. Dilema bermunculan dan terbaca melalui terbitan Djawa, meminta tanggapan publik meski berlagak intelektual. Kini, segala peristiwa, tokoh, dan terbitan itu telah menjadi masa lalu dan gampang tersingkir dari ingatan bersama.

*Penulis adalah Kuncen Bilik Literasi.