OPINI: Membeli Kebahagiaan Semu

Ilustrasi sabu-sabu. - Harian Jogja/Desi Suryanto
08 Agustus 2018 00:25 WIB Sumbo Tinarbuko Aspirasi Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Harianjogja.com (18/7/2018) menurunkan berita berjuluk Narkoba Senilai Rp3,6 Miliar Disita Kepolisian Pekanbaru. Menurut Kapolresta Pekanbaru Kombes Susanto, barang haram sebagai barang bukti penangkapan berwujud sabu-sabu seberat 3,2 kilogram. Disita pula pil esktasi sejumlah 2.700 butir dan happy five sebanyak 322 papan.

“Totalnya senilai Rp3,6 miliar. Hasil pengungkapan ini dapat menyelamatkan 18.000 generasi muda dari pengaruh bahaya penyalahgunaan narkoba,” kata Susanto.

Pernyataan Kapolresta Pekanbaru Kombes Susanto menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut. Mengapa demikian? Sebab pernyataan Kapolresta Pekanbaru mampu mengurai lilitan dan cengkeraman tangan gurita narkoba. Keberadaannya dimitoskan laksana gelombang tsunami. Deburan gelombang tsunami narkoba diyakini dapat mematikan masa depan sang pengguna. Bahkan mampu mencabut nyawa sang pencandu barang haram tersebut

Deburan gelombang tsunami narkoba senantiasa menggeliat memasuki ruang privat kehidupan masyarakat Indonesia. Siapa pun berpeluang terkena percikan gelombang tsunami narkoba. Baik yang musisi, artis, seniman dan pesohor lainnya. Atau mereka yang hidup dan berpenghidupan sebagai orang berpenghasilan rendah maupun orang kaya. Masyarakat sipil, pengusaha, polisi dan tentara, serta anggota dewan, anggota parpol dan aparat penyelenggara negara.

Kenapa dikiaskan bagaikan gelombang tsunami? Karena keberadaan lilitan tangan gurita narkoba senantiasa menenggelamkan manusia yang hampa jiwanya. Lilitan cantik gurita narkoba senang melibas sukma kering kerontang dari kekosongan asupan belaian kasih sayang. Ia juga doyan mengganyang korbannya yang dinilai bodoh. Bahkan ia suka melibas mangsanya yang diyakini tidak memiliki sikap kritis dan kreatif dalam mengelola hidup dan kehidupan ini.

Hampa Jiwa

Modus operandi gurita narkoba acapkali menawarkan ideologi baru dalam mengendalikan hidup dan kehidupan manusia yang hampa jiwanya. Pandangan hidup yang didedahkan lilitan cantik gurita narkoba adalah hidup senang dan bahagia semu. Untuk janji surga seperti itu, mereka memaksa korbannya memangkas proses alamiah kehidupan. Sebuah proses kehidupan yang tercatat dalam hukum alam untuk dijalankan lewat perjalanan perjuangan kerja keras dan kerja cerdas disertai tarikan lantunan doa.

Masalahnya sekarang, kenapa mereka yang menjadi followers setia lilitan cantik gurita narkoba rela menjerumuskan diri memasuki wilayah kebahagiaan semu?

Atas masalah sosial tersebut, ditengarai mereka adalah sekelompok manusia fakir kasih saying. Mereka juga menjadi sekumpulan insan khalik tuna cinta kasih. Mereka adalah gerombolan orang yang tidak berani menjalani skenario kenyataan hidup dan kehidupan yang sangat dinamis. Pendeknya, mereka adalah representasi manusia yang takut hidup. Mereka adalah perwujudan manusia pemburu kematian. Mereka senang menyia-nyiakan talenta jiwa suci yang harus dituntaskan guna memenuhi janji kehidupan kepada sang pemberi hidup.

Di sudut lain, ideologi baru tersebut secara heroik memosisikan para followers lilitan cantik gurita narkoba menjadi masyarakat konsumen. Sekelompok masyarakat pemangsa yang senantiasa dahaga untuk membeli dan selanjutnya mengonsumsi kebutuhan semu berupa narkoba. Mereka terbuai dengan janji palsu mendapatkan kebahagian semu.

Untuk memenuhi kebutuhan semunya itu, akhirnya mereka masuk perangkap jebakan kuasa uang. Kompensasinya: semua boleh dikonsumsi dan dihalalkan. Tujuannya hanya satu. Membeli kebahagiaan semu secara artifisial dan instan.

Penganut paham kuasa uang senantiasa memformat dirinya dalam kehidupan duniawi dengan takaran menuju sebuah kesuksesan harus seiring dengan kepemilikan harta benda yang melimpah. Ukuran seperti itu diyakini akan mengantarkan hidup dan kehidupan yang membahagiakan. Mitos sebuah kehidupan ideal bagaikan hidup di surga dalam bentangan Taman Eden.

Kesepian dalam Keramaian

Benarkah demikian? Realitas sosialnya justru masuk arena akrobat. Bahkan terbolak-balik. Mereka yang terjebak atau sengaja menjebakkan diri menjadi followers lilitan cantik gurita narkoba diyakini sebagai pribadi kurang bahagia. Dalam perspektif budaya visual, mereka sejatinya sekumpulan manusia yang selalu dirundung kesepian dalam keramaian. Mereka merasa hampa menjalani kehidupan modern di jagat raya ini. Mereka menjadi lumpuh layu saat menjalankan ideologi baru yang selalu dipenuhi perintah untuk membeli dan mengonsumsi apa pun.

Kehidupan sehari-hari para followers lilitan cantik gurita narkoba didera himpitan dari berbagai pihak. Himpitan itu bisa datang dari lingkungan pekerjaan dan pergaulan sosial. Tukang tagih kredit barang konsumtif dan kendaraan bermotor. Himpitan lebih mengerikan datang dari mesin uang yang harus mereka putarkan demi menjaga reputasinya sebagai masyarakat modern.

Dampak komunikasi sosialnya, di dalam zaman serba diselimuti persaingan, kekerasan, teror, dan kebrutalan ini, mereka telah kehilangan kebijaksanaan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mereka lebih bahagia mendengarkan suara setan daripada suara hati nuraninya. Mereka kurang cakap menyelaraskan akal pikiran dengan nalar perasaan. Sebuah sistem rohaniah yang selalu menuntun badan wadhag pada sebuah perbuatan baik menurut ukuran kebaikan itu sendiri.

Dampak psikologisnya, para followers lilitan cantik gurita narkoba yang berlomba membeli kebahagiaan semu sejatinya manusia berusia produktif. Tetapi karena bernafsu ingin memeroleh kebahagiaan semu menjadikan mereka divonis tidak produktif. Lebih mengerikan lagi, mereka cenderung kehilangan jati diri pribadi. Dampak turunannya, mereka tidak mampu mengimajinasikan dirinya sebagai pribadi yang unik, kreatif dan bermartabat. Kasihan ya?

*Penulis adalah Doktor Ilmu Humaniora FIB UGM dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Jogja.