OPINI: Pentingnya Memosisikan Wisata Jogja

Wisatawan memotret kirab pembukaan festival budaya Kampung Prawirotaman dan Kampung Panggung Krapyak di Jalan Prawirotaman, Yogyakarta, Sabtu (15/07/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto
23 Agustus 2018 08:25 WIB Th. Agung M. Harsiwi Aspirasi Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Jogja tidak dipungkiri adalah salah satu ikon pariwisata di Indonesia, selain Bali, Batu Malang, dan Belitung. Namun jika Bali identik dengan wisata budaya, Batu dengan wisata buatan, dan Belitung dengan wisata alam, bagaimana dengan Jogja? Sudahkah wisata Jogja jelas positioning-nya? Sebegitu pentingkah positioning?

Setiap kali berkunjung ke Bali, yang pertama kali dikunjungi wisatawan pasti pura. Bahkan meski sebelumnya berkunjung ke objek wisata lain, pada akhirnya ke pura juga. Demikian juga ketika berbondong-bondong ke Batu, pasti ingin menikmati berbagai wahana permainan, kebun binatang, atau berbagai benda unik yang dipamerkan objek-objek wisata. Begitu pula saat berkunjung ke Belitung, pastilah keindahan pantai dengan batu karang raksasanya.

Sangat tidak mungkin ada orang ke Bali ingin menikmati wahana permainan modern, orang datang ke Batu ingin melihat pantai dengan batu karang raksasa atau ke Belitung tertarik dengan peninggalan budaya masa lalunya. Itu semua karena ketiga daerah tersebut sudah mengidentifikasikan dan memosisikan diri sebagai daerah tujuan wisata dengan tema tertentu, yakni budaya, buatan, dan alam. Karenanya, sebagai contoh, Batu tidak pernah menjual keindahan alamnya mesti berada di tengah lembah yang dikelilingi pegunungan.

Berbeda dengan Jogja, yang terasa seperti gado-gado karena semua ada dan bercampur menjadi satu. Mulai dari wisata budaya dengan Kraton dan candinya, wisata alam dengan Kaliurang dan Parangtritis, sampai wisata buatan dengan Sindu Kusuma Edupark dan Taman Pelangi.

Meski tampak semarak, tetapi tanpa tema tertentu. Akibatnya pariwisata Jogja mengalami kesulitan dalam memosisikan dirinya. Padahal, menurut Kotler (2016), pakar pemasaran internasional, menempatkan diri sangat diperlukan untuk mengembangkan suatu produk, baik dari aspek desain maupun merek. Dengan penempatan diri yang jelas akan memperoleh posisi yang unik dalam ingatan konsumen.

Sebaliknya jika suatu produk tidak mempunyai positioning yang jelas dapat dipastikan bakal sulit membentuk keunikan dalam diferensiasi pasarnya. Apalagi sampai menciptakan citra (image) produknya lebih unggul dibandingkan produk pesaing. Citra produk sangat diperlukan untuk membangun preferensi dalam diri masyarakat sebagai konsume, yaitu sebagai dasar untuk membuat keputusan membeli produk tersebut.

Karena itulah sebaiknya dunia pariwisata Jogja segera memosisikan diri dengan menciptakan tema tertentu untuk produk yang ditawarkannya. Yang unik dan berbeda dengan daerah tujuan wisata lain di Indonesia. Yang dapat menjadi citra keunggulan Jogja, sekaligus brand pariwisatanya.

Tentu semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi klasifikasi objek wisata budaya, buatan, dan alam saat ini sudah dipakai oleh daerah lain. Memosisikan diri sebagai daerah tujuan wisata tertentu seperti daerah lain hanya akan membuat Jogja “berdarah-darah”. Karena sesuai konsep red ocean strategy, produk followers hanya akan berperan sebagai penantang pasar yang harus mengerahkan seluruh sumber daya dengan sehabis-habisnya.

Lebih tepat jika Jogja mengambil blue ocean strategy dengan menciptakan pasar sendiri untuk produknya. Meski untuk itu harus berani melakukan positioning dan membangun merek untuk produk unggulannya yang selama ini belum digarap oleh daerah wisata lain di Indonesia. Bahkan jika memang berniat untuk menjadi daerah tujuan wisata dengan berbagai rasa sekalipun, Jogja tetap harus mengampanyekan merek dirinya dengan tepat.

Positioning perlu dilakukan untuk mengantisipasi muncul dan berkembangnya daerah tujuan wisata baru di Indonesia. Masyarakat tentu tidak ingin predikat Kota Wisata memudar karena daerah lain dianggap lebih menarik dibandingkan Jogja. Jangan sampai seperti telah terjadi dulu ketika brand Kota Pelajar meredup sejalan dengan munculnya Malang sebagai pusat pendidikan wilayah Indonesia bagian timur dan Bandung untuk bagian barat. Karena itulah positioning yang tepat menjadi keniscayaan bagi Jogja.

*Penulis adalah dosen Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia