OPINI: Pemimpin yang Membaca

Pameran buku - JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu
31 Agustus 2018 08:25 WIB Fajar S. Pramono Aspirasi Share :

Pada suatu ketika, penulis dan filsuf Perancis Voltaire (1764) berkata, “Orang yang memegang kekuasaan tidak punya waktu untuk membaca buku. Orang yang tidak membaca buku, tidak pantas memegang kekuasaan.”

Seekstrem itukah kriteria seorang pemimpin ketika harus dikaitkan dengan kitab dan buku? Apakah politik kekuasaan memang harus dihubungkan dengan lembaran-lembaran naskah literasi?

Mungkin tidak, tetapi rasanya tak berlebihan juga jika kita ingat bahwa salah satu unsur kepemimpinan adalah kemampuan dalam menguasai orang. Aldous Huxley (1921) tak pernah bosan mengingatkan kalau mau betul-betul belajar tentang manusia, bacalah buku banyak-banyak.

Kemampuan memahami orang-orang yang dipimpin, kepandaian dalam memilih orang kepercayaan untuk lingkaran terdalam kekuasaan, dan kepintaran mengendalikan beragam karakter manusia dalam pelbagai situasi sesungguhnya merupakan bagian dari kepintaran membaca yang menjadi kunci keberhasilan seorang pemimpin.

Bagaimana bisa? Karena komponen politik yang lain di luar manusia sebagai pelaku politik sesungguhnya hanyalah alat, yang gerakan dan manuvernya dikendalikan oleh para manusia. Kekuatan kemampuan seorang pemimpin membaca bahkan dilontarkan secara lebih ekstrem oleh Harry Golden (1958).

Ia berkata, “Para diktator itu takut kepada buku, seperti mereka takut kepada meriam.” Jika seorang pemimpin pintar membaca buku, ia akan menjadi pemimpin yang ditakuti lawan politiknya sekaligus disegani orang-orang yang dia pimpin.

Melek Buku

Majalah Matabaca–sebuah majalah yang pernah terbit sebelum 2010 dan menasbihkan diri sebagai jendela dunia pustaka–Vol. 7/No. 2/Oktober 2008 pernah mengangkat sebuah tema menarik soal pemimpin dan buku.

Topik itu adalah Presiden Melek Buku, menampilkan sosok M. Fajroel Rachman sebagai pengamat politik yang waktu itu mencalonkan diri dari gugus independen. Di dalamnya diulas juga level kebukuan para kompetitor saat itu, seperti Yusril Ihza Mahendra, Sutiyoso, Rizal Ramli; juga wajah-wajah lama seperti Amien Rais, Wiranto, Gus Dur, dan juga SBY.

Majalah ini bahkan mencoba membandingkan dengan tokoh-tokoh pemimpin di mancanegara seperti Mao Tse-Tung, Mahatma Gandhi, juga Barack Obama. Ada dua hal yang inti dalam ulasan di rubrik Gagasutama edisi itu, yang notabene merupakan dua pengejawantahan istilah melek buku.

Pertama, selain harus terampil memimpin melalui tutur bahasa lisan, seorang pemimpin juga harus bisa menuangkan ide-ide kepemimpinan melalui bahasa tulisan, nelalui kemampuan menulis, memindahkan ide di kepala dan benak pemikiran secara literer.

Dalam model pemilihan pemimpin secara langsung oleh rakyat seperti yang terjadi di Indonesia masa kini dan di Amerika Serikat sejak masa lampau; karakter, kemampuan dan bahkan gaya serta prinsip-prinsip kepemimpinan seseorang bisa kita baca dari apa-apa yang dia tulis.

Karakter pemimpin bisa ditelaah dari lontaran ide yang menjadi opini dan dipublikasikan di berbagai media cetak, baik itu koran, majalah, dan juga buku. Segala sesuatu yang tertuang dalam waktu lama merupakan sebuah cermin kompetensi dan konsistensi.

Dari ide-ide itu kita bisa melihat kapabilitas jika suatu ketika si penulis ide harus memimpin. Ini yang biasa kita sebut dengan melihat kompetensi. Dari ide-ide yang tersebar dalam kurun waktu panjang tersebut, kita bisa melihat keteguhan prinsip seorang calon pemimpin. Konsistensinya.

Mengapa? Karena sosialisasi ide melalui tulisan di media massa (termasuk pada era kini adalah media sosial) atau buku tidak dibatasi oleh ruang dan waktu layaknya kampanye formal yang hanya dilakukan secara jangka pendek, beberapa waktu sebelum prosesi pemilihan itu sendiri.

Jika hanya jangka pendek, bisa jadi hanyalah sebuah lips service. Jika seseorang mengampanyekan pemikiran secara berkesinambungan dalam jangka waktu lama, keyakinan akan kompetensi dan konsistensi lebih layak dipercaya.

Kedua, seorang pemimpin seyogianya juga merupakan orang yang mau membaca. Di prolog artikel itu disampaikan: Bagaimana caranya membaca keunggulan calon presiden kita? Salah satu dari puluhan kriteria adalah kecintaan pada dunia membaca.

KPI Pemimpin Indonesia

Lalu, apakah ada jaminan bahwa pemimpin yang membaca adalah pemimpin yang bijak dan bajik? Tentu tidak, karena semua masih akan tergantung dari buku apa saja yang dibaca. Pada intinya hampir semua buku mengajarkan satu, dua, atau bahkan tiga hal ini: hikmah, informasi, kenyamanan hati.

Hikmah berbicara tentang inspirasi kebaikan dan cara yang bisa diteladani dan dijadikan pegangan untuk menjadi orang baik dalam kehidupan. Informasi bersifat memperkaya pemahaman dan pengetahuan agar setiap pilihan sikap memiliki dasar keputusan yang kuat dan benar.

Kenyamanan hati akan membuat orang semakin bahagia dengan menjadi orang yang baik, mengerti, dan bisa berempati dengan orang lain melalui fakta yang tersirat maupun tersurat. Dari sari ketiga inilah tampaknya artikel dalam Matabaca itu berani menyimpulkan bahwa salah satu buku yang harus dibaca adalah buku sastra.

Mengapa? Simak kata Baharuddin Aritonang, “Supaya hatinya mudah terpanggil.” Fadjroel Rachman menyiratkan alasan “akan mempertajam pemikiran seseorang.” Kata dia lagi, “Dengan karya sastra, kita bisa mendapat gambaran yang utuh dari sosok manusia daripada data primer.”

Mungkin ini yang pada akhirnya membedakan seseorang akan menjadi pemimpin yang otoriter, diktator, koruptif, manipulatif atau menjadi pemimpin yang arif, empatif, mengayomi, dan luwes.

Jika memang demikian, kebiasaan membaca bagi seorang pemimpin amatlah penting sehingga kriteria melek buku rasanya menjadi layak dipertimbangkan untuk menjadi bagian dari key performance indicator (KPI) seorang calon pemimpin.

Secara subjektif, para pencinta buku selalu merindukan pemimpin yang melek buku untuk lebih menjamin kearifan pemerintahan. Harry S. Truman, pemimpin Amerika Serikat era Perang Dunia II, pernah berkata, “Not all readers are leaders, but all leaders are readers.”

Menurut Truman, membaca merupakan kegiatan yang paling mudah dan efektif bagi seorang pemimpin untuk mengembangkan kepribadian. Membaca merupakan kebiasaan baik yang harus melekat pada diri seorang pemimpin.

Perdana Menteri Inggris Winston Churchill juga memiliki kebiasaan membaca yang luar biasa. Ia bahkan tidak hanya membaca. Dari kepalanya yang penuh pengetahuan, ia telah menelurkan lebih dari 50 buku yang mengantarkan dia menerima penghargaan Nobel di bidang literatur.

Pemimpin yang meyakini bahwa buku adalah pintu pengetahuan dan kebajikan untuk warga negara, diyakini akan membuat kebijakan perbukuan di negaranya menjadi sangat kondusif.

Pemimpin yang punya kebiasaan membaca akan lebih memberi kepastian bahwa tidak ada lagi buku-buku yang dibakar seperti sejarah yang pernah terjadi di Opernplatz, Berlin, pada 10 Mei 1933, ketika Nazi membakar lebih dari 20.000 buku yang dianggap non-Jerman.

Seperti juga kata sejarawan Asvi Warman Adam, pembakaran buku—apa pun alasannya–tak ubahnya upaya menghalangi kecerdasan bangsa. Nah, sekarang kita punya dua pasang calon pemimpin negeri yang akan bertarung dalam pemilihan presiden 2019. Apakah mereka adalah para calon pemimpin yang membaca?

Masih ada waktu untuk mengamati. Semoga saja, pengamatan yang kita lakukan akan menemukan konklusi bahwa semua pasangan calon itu adalah orang-orang yang (pintar) membaca.

*Penulis adalah peminat tema-tema sosial dan ekonomi, tinggal di Jakarta.

Sumber : JIBI/Solopos