OPINI: Prestasi Olahraga Berbalas Nasionalisme

Atlet Kano Indonesia Riska Andriyani dan Mur Meli memacu kecepatan pada final kano 500 meter ganda putri Asian Games 2018 di danau Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (30/8/2018). - Antara/Wahyu Putro A
04 September 2018 09:25 WIB M. Fauzi Sukri Aspirasi Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Namanya Syafii. Sudah 20 tahun lebih menjadi nelayan biasa. Bukan lagi atlet yang mendayung untuk menggelorakan nasionalisme Indonesia di dalam dan luar negeri. Pada 1993 namanya dicoret dari daftar atlet setelah 16 tahun membela Indonesia.

Selama 16 tahun Syafii memenangi berbagai kejuaraan nasional dan internasional. Di rumah Syafii masih cukup banyak medali, tetapi sebagian sudah dia buang ke laut. Syafii menang berkali-kali tetapi jauh lebih sering dibuat kalah berkali-kali.

Syafii, demikian juga beberapa mantan atlet Indonesia yang senasib, marah kepada pemerintah Indonesia yang membuat dia kalah berkali-kali dalam ekonomi. Syafii, juga begitu banyak mantan atlet Indonesia sebelum kebijakan menjadikan pegawai negeri bagi yang berprestasi, tidak lagi dianggap bisa membuat lagu Indonesia Raya dinyayikan dan tidak bisa membuat bendera merah putih berkibar.

Bagi negara Indonesia pada saat itu, ia tidak bisa lagi berprestasi. Hampir tidak ada yang bisa dilakukan. Umur dijadikan dalih alasan. Syafii diwajibkan kalah oleh faktor biologis ragawi. Rakyat Indonesia sering membiarkan hal ini terus terjadi di negeri ini. Sekarang, kita menikmati pertandingan-pertandingan.

Rakyat Indonesia berharap lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan terhormat dan bendera Merah Putih dikibarkan dengan air mata bangga. Kita berharap kemenangan dan kemenangan. Kemenangan adalah harga hidup sebuah nasionalisme yang bergelora. Rakyat Indonesia dituntut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sehat ragawi, bangsa yang sportif, bangsa yang berprestasi, bangsa yang penuh daya juang.

Tiap menjelang 17 Agustus, di desa-desa, di kampung-kampung, dan di seluruh Indonesia, anak-anak diajarkan untuk meramaikan dan memeriahkan nasionalisme Indonesia dengan berolahraga. Bendera dan umbul-umbul dikibarkan di rumah dan jalan-jalan dan di lembaga pendidikan. Semuanya melambaikan kemeriahan, kebahagiaan, dan ajakan kemerdekaan yang terus-menerus.

Dalam tiap perlombaan agustusan, kita berkata kepada tiap pemuda Indonesia: Tunjukkan semangat nasionalismemu! Perjuangkan bangsamu! Latih tubuh jiwa ragamu dalam olahraga sejak kecil dari desa dan kampung sampai panggung internasional! Harumkan nama Indonesia! Kibarkan bendera merah putihmu di seluruh jagat bumi! Banyak mata bergairah rakyat Indonesia menunggumu berprestasi!

Dan begitulah, bocah-bocah menunjukkan semangat juang olahraga. Sejak kecil belia, seperti Syafii dan beribu atlet Indonesia, bocah-bocah Indonesia terbius aura nasionalisme dalam jiwa mereka. Mereka berlatih dan berlatih. Bocah-bocah Indonesia harus melatih dan berlatih kecepatan, kekuatan, akurasi, sampai pada taraf yang tercepat, terkuat, terakurat.

Bagi sebagian yang terpilih, tak ada yang boleh mereka pikirkan kecuali latihan menjadi pemenang. Bagi Indonesia tercinta. Bagi bangsa Indonesia yang mendamba kemenangan. Gelanggang demi gelanggang olahraga harus mereka taklukkan dengan persembahan lagu Indonesia Raya, kibaran sang merah putih, dan medali demi medali. Siapa pun musuhnya, dari negara mana pun.

Rakyat dan negara Indonesia sedang menunggu medali dari mereka. Menyanyi Indonesia Raya dan mengibarkan Sang Merah Putih wajib diusahakan. Anda ingat saat kali pertama Rudy Hartono memenangi All England pada 1968? Para anggota MPRS kala itu begitu terpukau dalam sidang umum yang terhormat.

Pada 1975, ada rakyat Indonesia yang jantungnya berhenti bekerja karena Rudy Hartono kalah dari Sven Pri di arena yang sama (Prisma, Mei 1978). Kita menaruh hormat pada pejuang olahraga Indonesia. Ada yang berani bertaruh nyawa dalam menyaksikan olahraga. Kita semua mengongkosi perjuangan atlet Indonesia dari pajak rakyat. Kita sungguh bersedih dengan kekalahan dan kekalahan.

Negera yang merdeka sewajibnya mempunyai atlet yang membanggakan: berjuang untuk kemenangan dan pengharuman nama bangsanya. Presiden pertama kita, Sukarno, yang penuh gelora revolusioner itu, tahu makna kemenangan dalam olahraga, bahkan sejak ia masih bocah cilik yang harus mengalahkan bocah-bocah Belanda (Cindy Adams, 2007).

Olahraga adalah satu sarana perjuangan nasionalisme, perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan adalah jembatan emas bagi kemakmuran, kesejahteraan Indonesia, dan kemenangan berolahraga. Olahraga adalah simbol prestasi manusia merdeka. Tunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia adalah makhluk merdeka yang hidup di Indonesia merdeka.

Atlet Rakyat Indonesia

Seperti Sukarno, pemerintah Indonesia terus meminta pemuda-pemuda Indonesia untuk terus berprestasi dalam olahraga. Kita rakyat Indonesia dibuat menghendaki kemenangan dari tiap atlet Indonesia. Dalam arus bergemuruh dalam perlombaan agustusan, selalu saja kita dibuat sedikit kaget: ternyata ada mantan atlet yang akhirnya tidak sejahtera setelah sekian tahun menghabiskan umur membela nasionalisme Indonesia.

Mereka hanya atlet rakyat Indonesia, bukan pegawai negeri Indonesia. Mereka tidak bisa mendapatkan uang pensiun setelah mereka tidak lagi menjadi atlet atau pelatih. Perlahan-lahan mereka tersingkir lalu terlupakan. Entah di mana dan bagaimana nasib mereka. Sementara itu, arena olahraga terus ingar bingar, suara gemuruh penonton tetap ramai, dan kita selalu menunggu medali diperoleh untuk Indonesia.

Atlet-atlet yang lebih muda, yang lebih bersemangat, yang cukup baru merasakan aura agustusan, muncul lagi di panggung olahraga. Negara kembali berkuasa, rakyat kembali merasa dibela. Kampung-kampung ramai dengan perlombaan kecil-kecil. Anak-anak lahir dan merayakan olahraga nasionalis.

Semangat perjuangan kembali hidup. Sementara yang sudah pensiun mulai dilupakan dan hanya sesekali saja muncul di berita sebagai selingan kecil untuk dilupakan lagi. Anak-anak kecil yang begitu bersemangat tiap ikut olahraga agustusan lupa bahwa bisa jadi mereka bakal mengikuti jejak langkah atlet yang sudah pensiun dan dilupakan.

Saat menjadi cukup dewasa untuk menjadi atlet yang kuat, bersemangat nasionalis, dan berprestasi, medali demi medali dipersembahkan dengan penuh kebanggaan, gemuruh suka seluruh pelosok negeri. Lalu datang masa untuk undur dari arena dan gemuruh media.

Mereka mungkin akan tahu satu hal yang sering terjadi di negeri ini bagi atlet nasionalis: menang berkali-kali, tapi lalu dikalahkan jauh lebih sering kali, dengan sedikit marah atau nostalgia. Sebagian sangat banyak dari kita akan melupakan mereka; kita lebih berhasrat melihat yang sedang bertarung berjuang di arena. Apresiasi pemerintah terhadap para atlet Indonesia yang menjadi juara di Asian Games 2018 mudah-mudahan mencegah adanya Syafii lainnya.

*Penulis adalah penulis buku Guru dan Berguru (2015).

Sumber : JIBI/Solopos

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia