OPINI: Capres & Cawapres dari Sudut Pandang Desain

Pelukan mesra Hanifan, Jokowi, dan Prabowo. - Ist
18 September 2018 07:25 WIB Fitorio Bowo Leksono Aspirasi Share :

Sebentar lagi rakyat Indonesia akan mengalami (untuk kesekian kalinya) pesta demokrasi, Pemilihan Presiden atau Pilpres di pertengahan 2019. Bahkan atmosfernya sudah terasa sejak diumumkannya dua pasang capres dan cawapres, yaitu Jokowi – Ma’ruf Amin yang didukung oleh PDIP, Nasdem, PPP, Golkar, Hanura, PSI, dan PKB, serta Prabowo Sandiaga Uno yang didukung PKS, Gerindra, Demokrat, dan PAN.

Saling serang dan saling sindir antar-pendukung semakin membuat suasana menjadi hangat bahkan cenderung panas. Fenomena ini menarik untuk diamati oleh penulis dari kacamata seorang desainer.

Sebagai seorang desainer, penulis banyak melakukan studi tentang emosi atau empati, di satu sisi proses seorang calon voter untuk mendukung salah satu calon adalah sebuah proses emosional yang terkadang tidak logis dan irasional. Hal ini sama dengan proses seorang calon pembeli ketika melakukan pembelian, sebuah proses yang lebih melibatkan emosi daripada logika. Sebagai desainer, kami mempelajari keilmuan ini dengan sebutan emotional design.

Menurut Donald Norman, seorang peneliti di bidang desain yang juga professor di Universitas Stanford, emotional design terdiri dari tiga tahap, yaitu visceral emotion, behavioral emotion, dan reflective emotion.

Visceral emotion adalah perasaan atau emosi yang timbul berdasarkan penampakan visual, contoh paling sederhana adalah kita membeli sebuah produk karena terlihat bagus atau menarik. Behavioral emotion adalah perasaan atau emosi yang timbul berdasarkan fungsi atau bagaimana menggunakannya, contohnya paling sederhana adalah kita membeli sebuah sepatu karena fungsinya saja terlepas apapun mereknya dan bagaimanapun bentuknya. Sementara itu, reflective emotion adalah perasaan atau emosi yang timbul berdasarkan persepsi atau image contohnya adalah seseorang membeli sebuah tas dari merek premium dan mahal agar terlihat atau dipersepsikan oleh lingkungan sekitar menjadi seseorang yang sukses.

Pada tulisan kali ini penulis ingin mengulas strategi atau citra kampanye yang penulis tangkap dari kedua pasangan capres dan cawapres dengan menggunakan tiga parameter emotional design tersebut.

Jokowi - Ma'ruf Amin

Dari sudut pandang visceral emotion, pasangan ini terlihat dapat menjangkau target voters umat muslim yang menjadi target terbesar di Indonesia. Hal ini dikarenakan cawapres Ma’ruf Amin yang memang seorang ulama dan pemimpin di salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia sehingga selalu memakai pakaian yang identik dengan muslim, seperti sarung dan peci.

Selain itu capres Joko Widodo sebagai petahana sejak beberapa waktu yang silam berusaha menjangkau target voters kalangan muda, hal ini terlihat dengan memesan sepeda motor custom yang kemudian diliput oleh media. Ini menunjukkan mereka menargetkan dua kelompok masyarakat terbesar di Indonesia, yaitu umat muslim dan generasi milenial.

Dari sudut pandang behavioral emotion, pasangan ini memanfaatkan status mereka sebagai petahana untuk kemudian mempublikasikan berbagai capaiannya sebagai bukti bahwa mereka punya kemampuan dan kapabilitas untuk dapat berfungsi sebagai pemimpin negara dengan baik. Kalangan masyarakat yang ingin sesuatu hal yang sudah pasti berfungsi dengan baik adalah target pasar mereka, bukan mereka yang berani mengambil risiko demi sesuatu yang bisa jadi lebih baik.

Dari sisi reflective emotion, pasangan ini menonjolkan impresi good governance dan hard working administration, hal ini terlihat dari slogan pemerintah saat ini “Kerja! Kerja! Dan Kerja!” Mereka ingin menunjukkan bahwa pemilih potensial mereka adalah para pekerja keras.

Secara garis besar, maka terlihat siapa target pasar dari pasangan Joko WIdodo dan Ma’ruf Amin.

Prabowo - Sandiaga Uno

Dari sisi visceral emotion, pasangan yang diusung oleh partai oposisi ini ingin menunjukkan sebagai pasangan yang nasionalis. Hal ini terlihat dari gimmick yang dipakai oleh Prabowo yang memakai kostum menyerupai Presiden Soekarno dengan baju safari putih bersaku empat.

Hal tersebut selaras dengan niatan pasangan ini untuk menarik afeksi dari target voters yang dituju yaitu kaum nasionalis, selain itu didukung dengan latar belakang Prabowo sebagai mantan komandan pasukan elit Angkatan Darat Kopassus. Adapun Sandiaga Uno memiliki peran yang cukup penting untuk menarik dukungan dari kalangan pengusaha dan kalangan muda penggemar olahraga. Selain itu Sandiaga Uno memiliki paras rupawan yang beberapa kali digunakan pendukungnya sebagai nilai jual bagi pemilih perempuan.

Dari kacamata behavioral emotion, pasangan ini tidak memiliki keunggulan sebagaimana petahana sehingga mereka menjual prestasi mereka dari pengalaman profesi di luar politik. Contohnya Prabowo yang lekat dengan kisah kesuksesannya di Kopassus dan Sandiaga Uno yang sukses membangun bisnisnya. Berangkat dari perspektif ini kita bisa menilai target pasar mereka adalah kalangan masyarakat yang rindu Indonesia yang berdaulat secara militer dan ekonomi.

Terakhir, dari sisi reflective emotion, target pasar mereka adalah kelompok masyarakat yang memiliki rasa nasionalis yang tinggi, terlebih dengan menyebarnya berita dan isu tentang masuknya banyak TKA dari Tiongkok. Mereka merasa bahwa diperlukan pemimpin yang tegas dan dapat melindungi kepentingan bangsa Indonesia dari incaran bangsa lain.

Pada akhirnya, pemilihlah yang menentukan pasangan mana yang akan terpilih menjadi pemimpin Indonesia. Maka dari itu kedua pasangan sebaiknya bisa lebih jeli dalam menargetkan dan memahami siapa yang akan menjadi voters mereka dengan memanfaatkan tiga parameter ini. (JIBI/Bisnis Indonesia)

*Penulis adalah desainer, tinggal di Jakarta.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia