Menyemai Nilai-Nilai Revolusioner dari Asrama

19 September 2018 07:25 WIB A. Windarto Aspirasi Share :

Menurut Benedict Anderson (Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946, Marjin Kiri, 2018), salah satu wahana pembentuk semangat revolusioner pada awal berdirinya Republik Indonesia adalah asrama.

Di tempat itulah para pemuda yang berpendidikan Barat dari pusat-pusat kota besar, khususnya Jakarta, mampu membangun suatu gerakan bawah tanah untuk membangun sebuah perlawanan terhadap balatentara pendudukan Jepang.

Perlawanan yang dihadirkan secara hati-hati dan sembunyi-sembunyi itu dikerjakan agar tidak mengundang kecurigaan dan pembalasan dari para pejabat militer yang tak jarang bertindak kejam terhadap setiap kelompok yang dianggap subversif.

Bagi Ahmad Wahib (Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, LP3ES, 1981) yang pernah menjadi penghuni sebuah asrama mahasiswa di Jogja, semangat itu diperoleh dalam interaksi dan koneksi hidup berasrama seperti, misalnya, dengan menjaga kebersihan kamar mandi/WC. Sungguhkah?

Ayu Utami yang sempat singgah di asrama tempat Wahib pernah menghuni membuktikan betapa masih harumnya bau kamar mandi/WC di sana. Itu artinya kamar mandi/WC di bekas asrama yang dihuni pembaharu pemikiran Islam seperti Dawam Raharjo, Djohan Efendi, dan Mukti Ali itu tak meninggalkan bau yang biasanya menyengat indra penciuman.

Dengan kata lain, hidup berasrama telah memberi pelajaran berharga yang mampu mengobarkan nilai-nilai seperti kesederhanaan, semangat kerja sama, solidaritas, dan keikhlasan. Keempat nilai itu adalah modal dasar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia selama 1945-1949.

Modal yang menggerakkan para pemuda belasan tahun untuk maju ke medan pertempuran meski hanya bersenjatakan bambu runcing. Dalam konteks ini, semangat dan gaya hidup berasrama, khususnya di pesantren, telah menyumbang pengalaman yang bernilai kemandirian dan tanpa pamrih bagi kemerdekaan dan nasionalisme Indonesia yang revolusioner.

Pengalaman membersihkan kamar mandi/WC adalah salah satu peristiwa manusiawi yang cukup diakrabi dalam hidup berasrama. Bukan kebetulan bahwa pengalaman mengakrabi hidup berasrama telah memperlihatkan betapa revolusi bukan sesuatu yang jatuh dari langit, tetapi berakar dari budaya hidup bersama yang dipraktikkan sehari-hari di asrama.

Pada tataran ini asrama menjadi saat dan tempat yang tepat untuk menyemai nilai-nilai revolusioner yang menyimpan beragam cerita dan cita-cita dari berbagai latar suku, kelas sosial, ras dan agama. Contohnya adalah program pendidikan profesi guru (PPG) untuk para guru dari proyek sarjana mendidik di daerah terluar, terdepan, tertinggal (SM3T) yang pernah dikerjakan dengan model hidup berasrama.

Ketangguhan

Program yang dijalankan di Universitas Sanata Dharma (USD) Jogja pada 2017 lalu itu memanfaatkan bekas asrama yang pada masa lalu didiami Wahib dan kawan-kawan. Yang menarik adalah pada masa lalu semua penghuni asrama adalah laki-laki, saat itu justru para penghuninya adalah guru-guru muda perempuan.

Semangat dan gaya hidup yang dipraktikkan tetap serupa dan sejalan dengan nilai-nilai hidup bersama yang terbangun pada masa Wahib itu. Ada satu keunikan yang membedakan hidup berasrama pada masa lalu yang khusus laki-laki dengan semboyan Sapientia et Virtus (Cerdas dan Bijaksana) dengan yang berpenghuni perempuan.

Keunikannya bahwa para penghuni ”bukan laki-laki” lebih jeli dan waspada untuk selalu tampil secara pantas dan santun tetapi tetap mampu untuk berbagi dengan sabar tanpa abai, bahkan tanpa berebut, dalam hal dan masalah sehari-hari seperti giliran mencuci pakaian dengan mesin cuci.

Juga dalam hal pembagian seprai. Mereka tampak sangat memerhatikan tatapan balik sesama yang lain dan dengan cerdas mengatur secara bergiliran pemakaian segala perangkat dalam hidup sehari-hari yang terkesan remeh itu.

Boleh jadi bukan sekadar impian bahwa para penghuni asrama seperti dalam program PPG-USD tersebut suatu saat nanti mampu bergerak dalam masyarakat seperti tokoh Srikandi yang serbatangguh sebagaimana digambarkan dalam pewayangan Jawa.

Ketangguhan yang masih perlu terus-menerus dikobarkan demi menggaungkan semangat dan menyatakan mimpi-mimpi hidup bersama yang lebih bersahaja. Meski Wahib sudah tiada dan asramanya tinggal kenangan, semangat dan gaya hidup berasrama masih tetap perlu digaungkan untuk menyebarluaskan revolusi dalam hidup sehari-hari demi semakin menjadi nasionalis dan demokratis.

Sebagaimana dibayangkan pada awal perjuangan mewujudkan negara bangsa Indonesia bahwa gerakan berbahasa bersamalah yang tidak membuat rikuh, rendah diri, apalagi salah sangka, yang telah menghasilkan nasionalisme dan bukan sebaliknya.

Oleh sebab itu, revolusi yang dialami dan dipelajari dari hidup berasrama menjadi penting dan mendesak untuk segera dihadirkan kembali, terutama bagi generasi yang saat ini semakin tidak mudah lagi menemukan teladan yang revolusioner.

*Penulis adalah peneliti di Lembaga Studi Realino Sanata Dharma.

 

Sumber : JIBI/Solopos