OPINI: Pertemuan IMF-Bank Dunia & Kepercayaan Dunia kepada Indonesia

Logo IMF - Reuters/Yuri Gripas
28 September 2018 07:25 WIB Wasiaturrahma Aspirasi Share :

Ada beberapa perhelatan skala internasional yang telah dan akan diselenggarakan di Indonesia. Di ajang Asian Games 2018, Indonesia selaku tuan rumah kebanjiran pujian dari dunia internasional, mulai dari pembukaan sampai penutupan pada 2 September.

Tidak menutup mata bahwa Indonesia ternyata mampu untuk menjadi tuan rumah yang hebat dalam pesta olah raga tersebut meski kondisi perekonomian Indonesia sedikit rentan akibat imbas perkembangan ekonomi global, terutama dari penguatan perekonomian AS.

Sedikit menegangkan, nilai tukar rupiah berfluktuasi sampai menyentuh level terendah dalam 20 tahun terakhir di tengah keriuhan pesta olah raga akbar tersebut.

Namun, bila dicermati rupiah tidak melemah sendirian dan lebih baik dibandingkan dengan peso Argentina, lira Turki, real Brasil, rand Afrika Selatan dan rupee India. Bila dibandingkan dengan dolar AS, secara year to date, rupiah sempat melemah sekitar 10%, sementara peso Argentina 109%, lira Turki 77%, real Brasil 25%, rand Afsel 26% dan rupee India 12%.

Penyelenggaraan Asian Games 2018 dapat berjalan dengan baik dan Indonesia berhasil membuat rekor terbaru dengan menyabet 98 medali dengan rincian 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Indonesia berhasil merebut peringkat 4 di bawah Korea Selatan meski terjadi gonjang-ganjing dengan rupiah. Indonesia patut diacungi jempol atas keberhasilan di Asian Games tersebut.

Pesta olah raga Asian Games diikuti oleh 45 negara peserta. Tentunya ini sangat menguntungkan buat Indonesia. Di tengah tertekannya nilai tukar rupiah ada ribuan tamu yang datang ke Tanah Air membawa bekal uang untuk menikmati kuliner maupun cenderamata asli buatan anak negeri.

Tamu-tamu itulah yang memberikan multiplier effect pada perekonomian Indonesia, khususnya Palembang dan Jakarta yang ditetapkan sebagai kota penyelenggara pesta olahraga bergengsi yang paling ditunggu-tunggu itu.

Seiring dengan suksesnya Asian Games yang sudah berlalu, Indonesia juga mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018. Pertemuan ini akan dihadiri oleh delegasi dari 189 negara dengan sekitar 15.000 peserta dan menjadi pertemuan akbar bagi pengambil keputusan di bidang keuangan, baik dari pemerintah maupun swasta.

Buat masyarakat Indonesia tentunya menjadi suatu kebanggaan, berturut-turut kita menjadi tuan rumah berbagai ajang bergengsi itu.

PERANG DAGANG

Selain pertemuan IMF-World Bank Group, akan ada berbagai parallel events dan side events seperti pertemuan negara G20 yang dilakukan oleh para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara tersebut. Mereka akan membahas perkembangan ekonomi global, perang dagang dan penguatan dolar.

Bali terpilih sebagai tempat penyelengara Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 dengan sejumlah alasan tertentu. Namun, yang pasti baik Asian Games 2018 dan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 bisa menjadi awalan bagi Indonesia untuk memompa pertumbuhan ekonomi melalui sumber-sumber baru yaitu sektor pariwisata.

Ibarat kereta, sektor pariwisata sebagai lokomotifnya. Terbukti bahwa sektor pariwisata menyumbangkan 10% dan produk domestik bruto nasional (PDB) dan merupakan nominal tertinggi di ASEAN. Selain itu, sektor pariwisata merupakan penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, atau setara dengan 8,4% dari total pekerja.

Sektor pariwisata nasional kini menjadi primadona baru bagi pembangunan nasional. Sumbangan devisa maupun penyerapan tenaga kerja dalam sektor ini amat signifikan. Bahkan, pada 2019 industri pariwisata diproyeksikan menjadi penghasil devisa terbesar yaitu US$$24 miliar, melampaui sektor migas, batu bara, dan kelapa sawit (CPO).

Di sisi lain sudah menjadi rahasia umum bahwa AS menjadi negara yang sangat berpengaruh pada perekonomian dunia. Sehat atau tidak sehatnya ekonomi AS selalu berdampak kurang baik pada perekonomian dunia.

Ibarat mesin, semua negara emerging markets sekarang kehilangan tenaga karena risiko global semakin tinggi. Dari Argentina ke Turki dan dari Afrika Selatan ke Indonesia, karena adanya turbulensi keuangan.

Selain itu ada potensi masalah besar yang tidak boleh kita lengah, yaitu Tiongkok. Menurut IMF, utang pemerintah, korporasi maupun rumah tangga di Tiongkok telah meningkat sekitar US$23 triliun. Dalam dekade terakhir ini, rasio utang Tiongkok terhadap PDB telah meningkat dari 100% menjadi lebih dari 250%.

Sekian lama Tiongkok menikmati pertumbuhan yang kuat dan stabil, karena telah mempunyai reputasi yang dikagumi dunia untuk pertahanan ekonominya meski sebenarnya Negeri Panda itu banyak menumpuk utang dalam negeri.

Prospek penurunan ekspor dan pelemahan mata uang dapat menggagalkan pembayaran utang Tiongkok. Investasi yang tiada henti untuk fasilitas publik serta pembangunan perumahan yang berlebihan dan ancaman kebijakan perdagangan AS ini yang mengganggu stabilitas ekonomi Tiongkok.

Merefleksikan kerentanan yang semakin meningkat serta reaksi Tiongkok terhadap ancaman Trump yang semakin berlanjut dan akomodatif, bukan sangat tidak mungkin dolar akan kian menguasai mata uang dunia.

Melihat angka-angka yang menunjukkan betapa berisikonya lingkungan ekonomi global, nilai tukar rupiah terhadap dolar telah menuju keseimbangan baru.

Meski demikian, Bank Indonesia dengan pemerintah telah melakukan koordinasi dan mengeluarkan kebijakan sesuai dengan tugas masing-masing dalam menjaga nilai tukar rupiah.

Langkah proaktif telah dilakukan Bank Indonesia dengan penyesuaian suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate, foreign exchange swap, dan melakukan intervensi di pasar spot valas serta pasar Surat Berharga Negara.

Pemerintah juga telah melakukan langkah konkrit untuk mengurangi defisit transaksi berjalan yang menjadi salah satu masalah fundamental dari kerentanan rupiah. Langkah tersebut antara lain, pengendalian impor melalu kebijakan biodiesel 20% dan penyesuaian Pajak Penghasilan.

Selain itu, sinergi Bank Indonesia dengan pemerintah dan lembaga terkait seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan cara komunikasi efektif untuk menjaga stabilitas inflasi yang selama ini masih terkendali. Sinergi ini terbukti dengan daya beli masyarakat Indonesia yang relatif bagus.

Bauran kebijakan dilakukan Bank Indonesia untuk pengendalian inflasi dari sisi demand dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Sementara itu pemerintah memastikan menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan serta kelancaran distribusi. Situasi ekonomi Indonesia dalam kondisi aman dan tidak ada yang harus dikhawatirkan.

Saya yakin, dengan terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Annual Meeting IMF-World Bank akan mempunyai pengaruh cukup kuat untuk meningkatkan kepercayaan dunia terhadap stabilitas perekonomian nasional.

Mari kita dukung langkah dan upaya ini dengan memberikan kenyamanan dan keamanan, tentunya akan mempunyai efek domino yang positif pada perekonomian Indonesia.

*Penulis adalah ekonom Universitas Airlangga & Pengurus Pusat ISEI.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia