OPINI: Pesan dari Jogja untuk Bos IMF

Kunjungan Christine Lagerde ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. - Ist.
09 Oktober 2018 07:25 WIB Budi Hanoto Aspirasi Share :

Tanggal 12-14 Oktober 2018, Indonesia akan menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF-World Bank (IMF-WB Annual Meeting) yang akan diselenggarakan Bali. Persiapan sudah pasti sangat serius. Betapa tidak, Indonesia akan kedatangan tamu dari 189 negara anggota, tidak kurang 15.000 orang peserta akan hadir di persamuhan tersebut dan sekitar 5.000 peserta merepresentasikan sektor swasta. Pertemuan tahunan IMF-WB ini juga akan diliput ribuan wartawan mancanegara. Ibarat menerima tamu orang-orang penting, Indonesia pun berdandan dan memastikan Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018 berlangsung lancar dan aman. Bukan itu saja, pertemuan para petinggi di bidang keuangan dan bank-bank sentral ini diharapkan mampu menghasilkan komitmen kebijakan untuk memperbaiki perekonomian dunia.

Beberapa bulan sebelum IMF-WB Annual Meeting tersebut berlangsung, Managing Director (MD) IMF, Christine Lagarde, beserta delegasi IMF menyempatkan berkunjung ke Jogja selama dua hari di akhir Februari dan awal Maret 2018. Kunjungan Delegasi IMF ini diberi label cultural visit dalam kerangka Voyage to Indonesia menyongsong IMF-WB Annual Meeting yang akan digelar di Bali.

Kala itu, setelah diajak blusukan oleh Presiden Jokowi di Tanah Abang dan bersama sejumlah menteri mengunjungi pasar ikan, Christine Lagarde hadir di Jogja dengan motivasi yang lain, melihat lebih dekat Jogja sebagai kota budaya dan pendidikan. Mengapa Christine Lagarde yang biasa dekat dengan isu ekonomi-moneter dan pasar keuangan tiba-tiba menjalani agenda kunjungan budaya? Saya berkesempatan mendampingi orang nomor satu IMF tersebut sejak tiba hingga meninggalkan Jogja. Ada bagian-bagian yang menarik. Berikut beberapa petikannya.

Selama di Jogja, Christine Lagarde terlihat sangat santai dan tidak ada pembicaraan yang berat-berat tentang ekonomi atau isu global. Sesekali saja beliau menyampaikan maksud dan tujuan Voyage to Indonesia dan persiapan perhelatan akbar tahunan IMF-WB itu yang akan diselenggarakan di Bali. Terlepas dari kondisi ketidakpastian global yang masih terasa, Christine Lagarde memberikan pandangan bahwa perekonomian Indonesia dinilai sudah on the right track dan dari kandidat beberapa negara yang menjadi tuan rumah, Indonesia is the best! Begitu menurut MD IMF tersebut di UGM, tatkala ditanya mahasiswa mengapa memilih Indonesia sebagai tuan rumah IMF-WB Annual Meeting 2018. Perekonomian Indonesia menurut dia dalam jalur ekonomi yang reformed, resilient, dan inclusive.

Namun, kunjungan Christine Lagarde ke Jogja menghadirkan atmosfer yang lain. Ia tidak saja ingin memastikan Jogja sebagai destinasi pariwisata yang terbuka dan pantas untuk dikunjungi peserta IMF-WB Annual Meeting 2018, tetapi juga berkenan melihat sisi-sisi lain Jogja yang kaya akan seni dan budaya, dengan karakter kehidupan Jogja yang Istimewa. Selama di Jogja, Christine Lagarde menyambangi sejumlah tempat, yaitu Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Borobudur, perajin batik plentong, dan talkshow di UGM.

Kehangatan Kraton

Setelah tiba di Jogja di sore hari, MD IMF mengunjungi Kraton Ngayogyakarta Hanidingrat untuk sebuah courtesy dinner dengan Sri Sultan HB X dan jajaran dinas di DIY.  Tiba di Kraton, Christine Lagarde disambut putri bungsu Sultan, GKR Bendara, dengan putri cantiknya yang baru berumur empat tahun. Bunga yang disampaikan GKR Bendara memberi sentuhan hangat keluarga Kraton menyambut MD IMF tersebut. Christine Lagarde pun menyapa cucu Sultan. Pemandangan ini menyiratkan betapa Kraton sangat menghormati tamu negara dan MD IMF pun akrab menyesuaikannya.

Berbusana batik berbalut motif prada, Christine Lagarde memasuki Kraton dengan anggun, dipandu GKR Bendara. Christine Lagarde begitu menikmati dan mengagumi detail bangunan Kraton. Alunan gamelan dan pertunjukan tari  tradisional mengiringi jamuan makan malam Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kekaguman Christine Lagarde semakin tinggi ketika HB X menyampaikan filosofi dan simbol-simbol Kraton, serta peran seorang Raja yang harus “menghantarkan” rakyatnya sejahtera dan mencapai kemuliaan di sisi Sang Pencipta (ketika menggambarkan Tugu Jogja).

Christine Lagarde menyampaikan apresiasi atas penyambutan di Kraton dan melihat DIY sebagai bagian penting Indonesia dalam mendorong sektor pariwisata, budaya, pendidikan, dan inklusivitas ekonomi. Sultan HB X juga memberikan pesan kepada Christine Lagarde bahwa forum IMF-WB Annual Meeting 2018 merupakan kesempatan besar bagi IMF dan WB untuk mengubah paradigma ekonomi yang tidak selalu harus diselesaikan melalui analisis data ekonomi, tetapi mengubah pendekatan masalah ekonomi (hard approach) dengan turut melibatkan pendekatan budaya yang lebih soft. Intinya, faktor budaya yang mampu mempertajam pemikiran, imajinasi dan perilaku, untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi dan politik yang sering menimbulkan konflik kolektif tanpa hati.

Potensi Luar Biasa

Christine Lagarde juga menyempatkan berkunjung ke Borobudur. Selain mengagumi Borobudur, ia melihat potensi wisata yang bagus bagi peserta Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018 untuk mengunjungi Jogja dan Borobudur dalam rangkaian meeting tersebut. Borobudur sebagai salah satu the most wonder in the world menjadi rekomendasi untuk dikunjungi tamu-tamu IMF. Sejarah Borobudur akan mengantarkan pada efek kultural Budha yang juga menjadi alternatif kunjungan wisatawan dunia.

Kunjungan Christine Lagarde ke salah satu perajin batik di daerah Tirtodipuran juga memberikan kesan mendalam terhadap penciptaan karya seni batik Jogja. Ia sangat menghargai daya cipta batik Jogja yang telah dikelola lintas generasi dan turun temurun. Christine Lagarde juga mengagumi ketelitian pembuatan batik dan mengapresiasi corak budaya dan filosofi dari motif batik. Ia memberi pesan untuk terus berjuang melanjutkan bisnis keluarga yang sudah tiga turunan itu. Tidak lupa, Christine Lagarde berbelanja beberapa batik dan memberi pesan untuk terus melestarikan batik sebagai ikon Jogja.

Berdiskusi dengan anak-anak muda merupakan kegemaran Christine Lagarde. Kunjungan ke DIY tidak berkesan kalau tidak menyambangi Universitas Gadjah Mada (UGM).  Di sana, ia berdiskusi dengan para mahasiswa dalam topik 2018 Youth Town Hall: The Future of Work. Diskusi dengan MD IMF terasa begitu interaktif, berbobot, dan inspiratif bagi para mahasiswa generasi milenial yang antusias memadati tempat kuliah umum MM UGM tersebut. Christine Lagarde begitu santai, komunikatif, dan menyempatkan ber-selfie dengan mahasiswa.

Hikmah

Dari keempat tempat yang dikunjungi, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memberikan kesan mendalam bagi Christine Lagarde. Kraton Ngayogyakarta memberikan pesan kuat betapa Indonesia tidak hanya Bali, tetapi banyak tujuan wisata lainnya yang mengedepankan  seni dan budaya. Cultural visit ini akan melapangkan jalan bagi kesuksesan IMF-WB Annual Meeting bersama Sohibul Bait Indonesia yang akan dihelat tidak lama lagi. Selain mengintip persiapan infrastruktur, logistik, dan keamanan, Christine Lagarde juga melakukan kunjungan budaya. Ia mengambil inspirasi, menatap agenda IMF-WB Meeting yang sudah di depan mata.

Sosok Christine Lagarde yang di persidangan IMF begitu serius, percaya diri dan berwibawa, mendadak santai dan menikmati atmosfer DIY. Ia meyakini, Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang besar, didukung oleh budaya dan kreativitas yang tinggi dari para generasi mudanya. Betul Madame. Itu semua memerlukan kerja keras dan kesabaran yang luar biasa. Jangan lupa, di Jogja budaya adalah pemersatu, penguat nilai-nilai kerja keras, gotong royong, dan toleransi yang akan memacu imajinasi dan pemikiran. Budaya tidak selalu kuno. Ia harus mampu melahirkan inovasi dan pemikiran untuk kesejahteraan masyarakat luas. Pesan Sultan juga begitu jernih, bahwa penyelesaian persoalan ekonomi tidak selalu harus diselesaikan dengan data dan angka, tetapi juga melibatkan pendekatan budaya yang menjadi alternatif penyelesaian secara arif.

Semoga IMF-WB Annual Meeting 2018 yang akan digelar di Bali berlangsung sukses, yang tentu akan mengangkat nama harum Indonesia di mata internasional. A bientot en Bali, Madame!

*Penulis adalah Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DIY.