OPINI: Perubahan Lingkungan & Suhu Tinggi

Warga menutup sinar matahari yang menyinari muka saat matahari bersinar terik di musim kemarau. - Harian Jogja/Nina Atmasari
26 Oktober 2018 08:25 WIB Sigit Hadi Prakosa Aspirasi Share :

Cuaca akhir-akhir ini panas menyengat, Matahari bersinar terik seakan membakar kulit. Perubahan cuaca seperti ini membuat aktifitas di luar ruangan menjadi tidak nyaman lagi. Tidak hanya siang hari, efek panas juga berlangsung hingga malam hari membuat kita gerah dan berkeringat.

Faktor tingginya intensitas radiasi akibat posisi Matahari mendekati kulminasi utama dan cuaca cerah karena pengaruh El Nino mengakibatkan lonjakan suhu tinggi selama Oktober 2018. Rekaman suhu maksimum di Stasiun Klimatologi Jogja, 7 Oktober 2018 menembus 35 derajat Celsius mencapai ambang batas suhu ekstrim.

Wilayah Indonesia bagian selatan sesungguhnya sedang berada dalam pengaruh Gerak Semu Tahunan Matahari (GSTM) yang dapat menyebabkan suhu udara di Jawa tinggi. Periodisitas GSTM meliputi belahan Bumi utara, ekuator dan belahan Bumi selatan.

 Matahari berada di garis balik utara (23,50 LU) 21 Juni, di ekuator 23 September, di garis balik selatan (23,50 LS) 22 Desember dan mencapai ekuator kembali 21 Maret, demikian berlangsung seterusnya. Berdasarkan GSTM, matahari tepat di atas Jogja atau mencapai kulminasi utama pada 13 Oktober 2018. Namun karena mekanisme perambatan panas melalui udara lambat maka diprediksi intensitas radiasi maksimum dan suhu udara tertinggi dicapai  setelah tanggal itu.

Pemantaian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terhadap dinamika atmosfer terkini menunjukkan El Nino lemah yang muncul Oktober dapat memperlambat awal musim hujan 2018/2019 di DIY.

Selain itu, efek cuaca cerah yang ditimbulkan menyebabkan radiasi Matahari tidak terhalang oleh awan sehingga meningkatkan suhu udara pada siang hari. Jika malam hari terdapat liputan awan maka akan menghalangi pelepasan radiasi gelombang panjang dari bumi ke atmosfer. Peran awan sebagai “selimut bumi” inilah yang telah mengakibatkan suhu udara tetap hangat sehingga kita merasakan gerah atau sumuk.

Fenomena cuaca panas di DIY tidak bisa dipisahkan dari urban heat island. Pembangunan kawasan perkotaan yang pesat telah memodifikasi permukaan Bumi dari tanah bervegetasi menjadi aspal, beton dan gedung-gedung bertingkat. Rupa Bumi menjadi bersifat black body yakni menyerap dan meradiasikan kembali panas Matahari dalam jumlah besar.

Di sisi lain, banyaknya kendaraan bermotor dan tumbuhnya industri menengah turut menyumbang peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) terutama karbondioksida (CO2). GRK menyebabkan panas yang diradiasikan Bumi ke atmosfer terperangkap dan dikembalikan lagi ke permukaan bumi menimbulkan efek rumah kaca.

Kondisi ini justru diperparah dengan semakin sedikitnya kawasan hijau penetral CO2 yang berperan sebagai paru-paru dan penyejuk udara kota. Kompleksitas faktor lingkungan ini turut mendukung terciptanya suhu tinggi dan cuaca panas di Jogja pada masa pancaroba.

Bencana Hidrometeorologi

Cuaca ekstrem adalah kondisi cuaca di luar kebiasaan yang berpotensi menimbulkan kerugian materiel maupun korban jiwa. Dikatakan ekstrem jika parameter cuacanya melebihi ambang batas. Mengapa cuaca ekstrem berbahaya? Karena suhu tinggi > 35 derajat Celsisus dan kelembaban udara rendah < 40% dapat mengakibatkan dehidrasi dan kebakaran hutan. Angin kencang > 45 km/jam menumbangkan pohon atau merobohkan baliho dan merusak bangunan. Curah hujan tinggi > 20 mm/jam menyebabkan banjir dan tanah longsor. Selama pancaroba, potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang/puting beliung di DIY sangat tinggi. Data BNPB (1867-2014) menyebutkan 81% bencana alam di DIY disebabkan cuaca ekstrem.

Tingginya kejadian cuaca ekstrem tidak lepas dari aktivitas awan cumulonimbus (Cb) yang mekanisme pembentukannya dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, laut yang berperan  sebagai “kolam panas” dan penyuplai uap air melalui proses penguapan. Kedua, pemanasan daratan yang tidak merata sehingga memicu terbentuknya daerah tekanan rendah.

Pada proses pembentukan Cb, udara hangat dan lembab yang berpusat di daerah tekanan rendah akan terangkat karena pemanasan konvektif menjadi gerak naik (updraft), mengalami kondensasi dan membentuk partikel air atau es dalam kelompok besar. Cb yang terbentuk berwarna putih hingga kelabu atau hitam dengan tinggi dasar < 500 meter dan puncak awan bisa > 12 kilometer, tersusun atas air setebal ± 9 kilometer, es ±3 kilometer di bagian puncaknya, terdapat gerak udara ke bawah yang kuat (downdraft) dan muatan listrik yang menyebar di seluruh bagian awan. Karena karakteristik ini Cb sering mengakibatkan bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat atau es durasi singkat yang disertai petir dan angin kencang atau puting beliung.

Dalam manajemen kebencanaan, mitigasi merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum terjadi bencana alam. Upaya pengurangan risiko bencana hidrometeorologi di tingkat pemerintah dilakukan melalui sosialisasi tanggap bencana dan pembuatan sistem peringatan dini cuaca ektrim berbasis radar cuaca. Di tingkat masyarakat, mitigasi dilakukan melalui dua mekanisme. 

Pertama, umum, yaitu dengan mengetahui masa pancaroba, mengamati pertumbuhan dan perkembangan Cb, mengadiri sosialisasi tanggap bencana yang diselenggarakan pemda dan memperhatikan peringatan dini cuaca ekstrim yang disampaikan BMKG. Kedua, khusus, untuk banjir dan tanah longsor dilakukan dengan memperbaiki drainase, tidak membangun rumah di bantaran sungai atau area rawan longsor serta tidak membuang sampah di sungai atau selokan. Untuk angin kencang, mitigasi melalui pemangkasan dahan pohon yang terlalu rimbun, menebang pohon tua yang akarnya dangkal dan berlindung di dalam bangunan yang kuat dan kokoh. Untuk menghindari dampak petir, kita tidak berteduh di bawah pohon, menjauh dari tempat terbuka yang di atasnya ada Cb, berlindung di dalam bangunan berpenangkal petir, tidak mengoperasikan ponsel saat cuaca buruk dan menggunakan alas kaki nonkonduktor untuk menghindari induksi elektromagnetik di wilayah yang tanahnya mengandung besi.

*Penulis adalah analis dan forecaster cuaca, Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG DIY.