OPINI: Kepedulian Bangsa Indonesia

Warga mengambil sisa-sisa bangunan yang masih bisa digunakan di lokasi terdampak pergerakan atau pencairan tanah (likuifaksi) di Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (14/10/2018). - ANTARA FOTO/Yusran Uccang
01 November 2018 07:25 WIB A. Totok Budisantoso Aspirasi Share :

Dalam dua bulan terakhir, kita mengalami dinamika yang luar biasa sebagai sebuah negara dan bangsa. Kita boleh berbangga dengan prestasi perhelatan internasional Asian Games yang dapat dengan sukses di selenggarakan dan bahkan mengukir rekor luar biasa dengan capaian yang hanya bisa dilayangkan dengan acungan dua jempol. Luar biasa. Di saat yang bersamaan, hingar bingar dalam perayaan tersebut diiringi dengan hujan tangis di kawasan Lombok yang diguncang gempa dahsyat. Seakan sebuah ironi hidup baru berjalan beriring di panggung kehidupan. Secara khusus, doa dan simpati menjadi ujub perayaan akbar tersebut. Bahkan selain berkompetisi dalam perlombaan, para atlet pun seakan berlomba untuk menunjukkan simpati dengan melelang berbagai pernik yang mereka miliki.

Belum kering mata dari sembab duka Lombok, kembali Ibu Pertiwi dan seluruh bangsa berduka dengan bencana yang mungkin jauh lebih dahsyat. Gempa menggoyang Palu dan sekitarnya. Bahkan dibarengi dengan peristiwa amat langka: likuefaksi. Ribuan korban jiwa tak terelakkan seiring dengan kerugian ekonomi  luar biasa besar yang dikalkulasi lebih dari Rp20 triliun. Cobaan berat yang harus kita lalui bersama sebagai bangsa.

Menarik untuk disimak bagaimana kita sebagai bangsa menyikapi berbagai peristiwa besar tersebut. Simpati dan perhatian luar biasa yang ditunjukkan dan ditegaskan ketika perhelatan besar Asian Games berlangsung menunjukkan kesejatian kemanusiaan yang penuh dengan welas asih dan perhatian. Perhatian, simpati, dan kepedulian yang ditegaskan dalam event tersebut sama sekali tidak bernada seakan kita merengek ataupun mengemis kepada dunia internasional tetapi lebih pada sikap yang sangat jelas untuk berpihak pada sisi kemanusiaan yang penuh dengan belas kasih dan justru menunjukkan kemandirian sebagai sebuah negara dan bangsa.

Ketika sebuah kaus diberi banderol nilai dan dihargai beberapa ratus juta rupiah, saya yakin bahwa si penawar dan pembeli tidak semata melihat nilai keekonomisan kaus tersebut. Benda itu hanyalah sebuah sarana dan semata sebagai tanda untuk memberikan nilai kemanusiaan yang bernama kepedulian. Gayung bersambut. Apa yang ditonton oleh jutaan pemirsa televisi seakan menjadi momentum bagi semua pihak untuk bergerak memberikan sumbangsihnya. Uluran tangan pertolongan apapun motivasinya tiada henti untuk membantu. Bahkan hingga kini semua media social termasuk televisi masih mengorganisir bantuan yang selalu ditunjukkan dalam headline di setiap jam tayang.

Dinamika bangsa ini mengukuhkan manusia sebagai makhluk sosial yang peduli. Glassman (2009) mengatakan sebagai perilaku altruis. Ada banyak sekali alasan seseorang berperilaku altruis mulai dari murni memberikan dengan tulus kepeduliannya hingga yang memiliki misi tertentu.  Altruis dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yakni faktor dari lingkungan atau situasi tertentu dan faktor internal yakni berbagai faktor yang ada dalam diri orang itu sendiri. Faktor dari luar meliputi kehadiran orang lain, karakteristik orang yang memerlukan pertolongan (faktor kesamaan misalnya asal daerah, daya tarik fisik), serta budaya dan lingkungan sosial setempat (situasi). Sedangkan faktor dari dalam diri yang mempengaruhi seseorang untuk menolong meliputi jenis kelamin, suasana hati (mood), agama, dan kecenderungan/karakteristik individu tersebut.

Seakan-akan tindakan altruis ini tidak sejalan dengan dalil-dalil ekonomi yang mengutamakan pada optimalisasi kepuasan.

Dalam ekonomi, salah satu doktrinya adalah strategi alokasi keinginan (hasrat) manusia yang tidak terbatas, dengan sumber daya yang terbatas. Mempelajari bagaimana  mencapai kondisi yang seimbang, mendapatkan kepuasaan yang optimal, dengan penggunaan sumber daya yang proporsional. Pada titik tertentu, yang dilakukan oleh manusia justru jauh di atas dalil ekonomi tersebut. Kita tergoda untuk menggunakan cara apapun demi mendapatkan kepuasan.  Mungkin inilah gambaran yang paling tepat ketika kita disuguhi peristiwa massif praktik korupsi yang masih merajalela.

Rupanya, gambaran manusia sebagai homo economicus sudah kebablasan dengan menghalalkan segala cara. Manusia yang juga memiliki prinsip moral sebagai homo ethicus agak terpinggirkan. Homo ethicus menunjukkan gambarang manusia yang sebenarnya penuh dengan kepedulian kepada sesama dan terikat pada lingkungan sosialnya. Apakah kita akan berdiam saja dengan kebablasan ini?

Saya memaknai arus kepedulian yang sekarang ini mendapatkan momentumnya dengan adanya berbagai peristiwa bencana ini sebagai sebuah titik balik bahwa kita dapat membangun sebuah perekonomian dengan basis kepedulian. Tentu saja akan menjadi sebuah rancang bangun perekonomian masa depan ketika kepedulian tetap menjadi basis utama berjalannya roda ekonomi tanpa harus menunggu bencana terjadi.

*Penulis adalah dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.