OPINI: Mendongkrak Daya Saing Milenial

Kaum milenial - Reuters/Charles Platiau
05 November 2018 07:25 WIB Beni Sindhunata Aspirasi Share :

Sembilan dasawarsa yang lalu sejumlah pemuda mencetuskan Sumpah Pemuda (1928) yang berikrar bahwa Indonesia itu satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Ke depan tantangannya tentu berbeda karena tidak hanya dalam ukuran Indonesia saja, tetapi eksistensi Indonesia di pentas global. Dalam arti kata tantangan kaum remaja atau generasi milenial saat ini adalah meraih dan memiliki daya saing, keunggulan dan kemampuan menghadapi negara lain dalam arus globalisasi.

Karena itu kaum milenial saat ini jangan hanya dilihat dari kacamata pasar yang potensial dalam Pilpres 2019, atau jangan hanya mengukur ke mana arah atau trennya dalam memilih pemimpin negeri masa depan. Kaum milenial yang sebesar 42% dari 187 juta DPT atau 80 juta (berusia antara 17 – 35 tahun) ini tentu memiliki peran tersendiri dan bukan hanya objek politik semata. Malah menjadi pelaksana dan subjek dari mesin politik itu sendiri.

Karena tidak ada kepastian tentang usia atau potensi generasi milenial ini dan kita tidak memperdebatkan apa dan siapa mereka generasi milenial yang mulai dipopulerkan pada 1923 (oleh sosiolog Karl Mannheim dalam The Problem of Generation). Lebih jauh untuk ke depannya kita jangan lupa aspek lain terbentuknya watak dan kelakuan seorang manusia hingga menjadi orang hari ini.

Yaitu perlu melihat aspek lain khususnya latar belakang di masa pertumbuhan saat terbentuknya jiwa (kala SD dan SMP). Pasalnya, terbentuknya sifat dasar manusia hingga menjadi orang hari ini tidak lepas dari dengan latar belakang pendidikan, orang tua, pengalaman, lingkungan hingga orientasinya tentang diri sendiri dan negara di masa depan. Karena itu banyak para pihak yang memproyeksikan sekian persen atau mayoritas termasuk generasi milenial. Oleh sebab itu aspek positif atau potensi generasi milenial banyak diberdayakan para pihak.

Bonus demografi yang diperkirakan berlangsung 2020-2030 akan menjadi satu beban dan tantangan bagi generasi milenial saat ini. Sebab saat itu (2028-2030) diperkirakan ada 11 juta tenaga kerja yang tersedia di pasar tenaga kerja. Dapat dibayangkan apa jadinya dunia dan masa depan generasi saat ini jika tidak punya daya saing, keunggulan atau keahlian yang semakin dibutuhkan sesuai perkembangan zamannya.

Kalau dulu Soekarno bilang berikan 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia maka tantangan sekarang adalah ‘berikan Indonesia generasi muda milenial yang berdaya saing dan unggul maka akan kubuat Indonesia menjadi sejahtera, kuat dan menguasai jagat raya.’

Berkaca pada survei APJII menunjukan pada 2017 ada 143 juta pengguna internet dengan 49,5% adalah kaum milenial dengan rentang usia 19 – 34 tahun. Sementara itu yang berusia (produktif) antara 35 – 54 tahun sebesar 29,5%. Di lain pihak kita menyadari bahwa para pengguna internet ini tentu sudah memiliki kematangan dan pemikiran tersendiri dalam menentukan pilihan pribadi untuk kebijakan masa depannya, baik untuk ekonomi, politik sampai mencari mitra hidup nanti.

Jadi generasi milenial bukan sebuah generasi yang luar biasa sehingga diperebutkan banyak pihak saat ini. Beban dan tantangan ini akan semakin terlihat apa dan siapa mereka pada 2045, saat Indonesia berusia seabad, di saat sebagian sudah menjadi orang tua dan kakek-nenek. Karena itu masa kecil, remaja, dewasa, dan jadi orang tua menentukan watak dan sikapnya saat ini. Dengan demikian harus lebih berhati-hati dalam menempatkan sebagian generasi milenial ini sebagai calon objek maupun subjek dalam politik saat ini.

Daya Saing

Ditempatkannya Indonesia di peringkat 45 dari 140 negara (World Economic Forum, Oktober 2018) menunjukan bahwa daya saing Indonesia masih rendah dan kalah dibanding negara-negara tetangga. Rendah dan lemahnya daya saing ini juga menjadi salah satu penyebab turunnya nilai tukar rupiah. Oleh sebab itu perlunya memprioritaskan investasi ke generasi milenial ini guna meningkatkan dan menaikkan daya saing serta keunggulan negara dalam persaingan di pentas global. Ini tentu usaha butuh dana dan waktu dan berkelanjutan yang menghasilkan sampai dasawarsa mendatang.

Faktor daya saing ini tentu perlu, meskipun harus dipahami bahwa investasi dan pengembangan SDM butuh waktu. Memprioritaskan investasi pembangunan generasi milenial ini setelah sebelumnya memprioritaskan pembangunan infrastruktur, yang memang dulu banyak kekurangannya.

Terlepas dari sikap kontra dan pro, harus dipahami bahwa pembangunan atau investasi manusia ini selalu membutuhkan waktu maupun pengorbanan tenaga dan pikiran. Peningkatan daya saing dan keunggulan sebuah bangsa bukan diberikan bangsa lain tetapi dari perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

Ini hanya bisa diraih dengan kerja keras lewat pendidikan yang berkualitas dan investasi ke bidang pengembangan dan pendidikan sumber daya manusia (SDM) guna melahirkan SDM yang kreatif, inovatif dan teknologi dalam kontek luas.

Fokus investasi ke SDM penting, apalagi era Revolusi Industri 4.0 juga mensyaratkan manusia yang unggul, berdaya saing, inovatif dan berteknologi maju. Dengan demikian status menjadi negara maju dengan sumber daya manusia didukung teknologi yang baik akan meningkatkan daya saing manusia.

Oleh karena itu, menaikan taraf hidup rakyat ke arah yang lebih maju merupakan satu keharusan. Ini semua diawali dengan SDM yang lebih unggul dan berdaya saing serta maju dalam teknologi.

Pengembangan dan peningkatan SDM agar lebih berdaya saing bukan hanya pada sisi manusia sebagai bagian mesin produksi di pabrik saja. Namun, juga menyangkut aspek non-pabrik misalnya perizinan yang bisa mengurangi daya saing unit produksi. Karena itu, peningkatan SDM ini sudah lintas batas atau lintas sektor, karena menyangkut sumber bahan baku dan bahan penolong apalagi jika terdampak dari perekonomian dan sistem keuangan global saat ini yang terbuka.

Ini dimulai dari penguatan dan kualitas guru, sistem pendidikan dan infrastruktur pendidikan sebagai elemen dasar demi terciptanya manusia yang lebih unggul dan berkualitas. Selain itu lembaga pendidikan keterampilan dan kejuruan juga perlu dikembangkan karena sumber keunggulan, keahlian atau pendidikan dan kekuatan sukses seorang manusia tidak hanya dari pendidikan formal.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Investment and Banking Research Agency (INBRA).

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia