OPINI: Kampanye Penuh Bual

Calon Presiden dalam Pilpres 2019 Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Capres Prabowo Subianto di sela-sela pengambilan nomor urut pasangan calon untuk pemilihan Presiden 2019, di kantor KPU, Jakarta, Jumat (21/9/2018). - Reuters/Darren Whiteside
08 Januari 2019 08:25 WIB Benni Setiawan Aspirasi Share :

Kampanye penuh bual. Dua pasang calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tidak kunjung menunjukkan kapasitas sebagai seorang pemimpin. Mereka hanya menarasikan kemenangan, saling sindir, penuh emosi, hoaks, dan seterusnya.

Bahasa kemenangan dan kekuasaan masih sangat dominan dalam kampanye. Calon belum membawa suasana kebangsaan dan keadaban dalam kampanye. Belum muncul nilai kampanye yang tergali dari falsafah kebangsaan yang terumus dalam Pancasila dan UUD 1945.

Minimnya narasi kebangsaan ini sungguh memilukan. Hal ini dikarenakan rakyat tidak disuguhi kemampuan para calon. Masyarakat saat ini hanya disuguhi akrobat politik yang memuakkan. Akrobat politik saling sindir dengan kata-kata tidak produktif menjadi tontonan sehari-hari.

Mereka tidak sedang mendewasakan bangsa, tetapi sedang mempertontonkan sikap kekanak-kanakan. Padahal mereka akan memimpin bangsa ini. Bagaimana jadinya bangsa ini saat dipimpin oleh calon pemimpin yang sekadar menawarkan narasi kemenangan dan minim visi kebangsaan yang tangguh dan kokoh?

Kepuasan Sendiri

Bangsa ini dihadapkan pada pilihan yang sulit. Calon pemimpin bangsa hanya dua pasang. Padahal bangsa ini dihuni oleh lebih dari 250 juta penduduk. Dua pasang calon itu pun pernah bertanding pada pemilu 2014. Laga el clasico ini akhirnya antiklimaks saat tawaran yang mereka sampaikan hampir nihil.

Mereka mengemas kampanye hanya sebatas untuk kepuasan diri sendiri. Kemasan kampanye seakan-akan tidak ada yang baru.

Akhirnya, yang menyembul kepermukaan bukan sebuah gagasan hebat membangun bangsa dan negara. Namun, sekadar serpihan kepuasan yang kemudian diviralkan oleh pendukung masing-masing.

Inilah yang menjadikan pendukung tidak mampu berpikir positif. Pendukung semakin terbelah pada dua polarisasi. Kalau tidak pendukung Joko Widodo (Jokowi), berarti pendukung Prabowo Subianto. Kalau tidak cebong ya kampret. Seakan-akan tidak ada ruang dialog selain itu. Seakan-akan wilayah Indonesia yang luas, terbelah menjadi dua kekuatan yang saling beradu.

Tak heran jika pendukung saling serang dan bunuh. Saling serang tidak hanya terjadi di ruang publik media sosial. Namun, juga dalam hubungan atau relasi sosial yang nyata.

Darah pun mengalir saat emosi memuncak dan hilangnya akal waras. Saling ejek di media sosial kemudian merembet pada kehidupan nyata. Seperti yang terjadi di Madura, Jawa Timur. Dua orang bertarung (carok) hingga meninggal dunia.

Pertarungan dua pendukung itu tak lepas dari perilaku elite yang kurang dapat memberi teladan. Elite belum mampu mendorong narasi kebangsaan yang dapat diperdebatkan dalam ruang dialog kritis-konstruktif.

Bagaimana mau mendialogkan dalam diskusi yang menarik, jika yang dipertontonkan hanyalah emosi dan sentimen pribadi? Bagaimana para pendukung bisa berpikir positif jika perilaku elite jauh dari keluasan pandangan dan kedalaman ilmu?

Ruang Publik

Emosi dan sentimen itulah yang kemudian menjalar melalui ruang publik. Ruang publik sebagai medium mewujudkan tatanan masyarakat beradab—meminjam istilah Habermas—hanya menjadi teori di bangku kuliah. Tidak ada lagi calon pemimpin yang menjadikan ruang publik sebagai sarana komunikasi (humanisasi). Ruang publik malah dipenuhi rasa curiga dan kebencian.

Curiga dan kebencian menyelimuti setiap gerak pendukung. Gerak itulah yang menutupi spirit kebangsaan, keindonesiaan, dan kemanusiaan yang menjadi napas bangsa. Sifat curiga menutupi semua kebaikan yang pernah dibuat oleh calon pemimpin.

Ironisnya, perilaku calon pemimpin juga sama. Calon saling intip kelemahan, kekurangan, dan kecerobohan. Saat ada calon melakukan hal-hal itu maka pasangan lain akan menjadikannya sebagai alat untuk menyerang dan melemahkan. Seakan mereka puas dengan kondisi kelemahan calon lain.

Kelemahan calon adalah celah untuk mendapatkan simpati dan meraup suara mengambang (swing voters).

Kelemahan calon senantisa dinanti oleh masing-masing calon. Karena kelengahan mereka adalah peluang bagi yang lain. Sebuah potret pewarisan nilai keculasan yang mengancam masa depan bangsa.

Apakah calon pemimpin bangsa ini akan terus membiarkan masyarakat Indonesia terus menabur kebencian, kecurigaan, dan ketidakpercayaan? Apakah tidak ada jalan kebajikan untuk mendidik rakyat selain narasi-narasi itu?

Pemimpin

Jika calon pemimpin bangsa terus melakukan perilaku itu, maka mereka sedang menggadaikan masa depan dan kedaulatan republik pada perpecahan dan permusuhan.

Semoga capres dan cawapres segera sadar dan menawarkan narasi kebangsaan. Mengakhiri kekeliruan dan menyadari kesalahan adalah langkah bijak sebelum terjadi masalah besar di kemudian hari.

Pemimpin bangsa perlu menunjukkan kualitasnya sebagai manusia pilihan. Manusia setengah dewa, begitu kata Iwan Fals. Pemimpin perlu menjadi teladan bagi semua, baik ucapan, sikap, maupun tindakan.

Ucapan mereka perlu meneduhkan dan menenangkan semua pendukung. Ucapan mereka perlu menjadi panduan gerak bagi orang-orang yang selama ini ‘loyal’. Ucapan yang baik akan membawa pada suasana kebajikan yang mengarah pada penghormatan terhadap pilihan yang berbeda.

Sikap dan tindakan pemimpin pun demikian. Sikap dan tindakan pemimpin adalah teladan bagi rakyat. Saat pemimpin bersikap dan bertindak atas nama kemanusiaan dan keadaban maka kehidupan penuh harmoni.

Capres dan cawapres perlu mendidik warga bangsa menjadi insan yang unggul. Insan unggul adalah mereka yang mampu menerima perbedaan dan berdialog dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Capres dan cawapres yang hanya dua pasang perlu menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah pemimpin besar.

Pemimpin besar adalah mereka yang menawarkan narasi kebangsaan. Mereka berdebat dalam dialog ruang kritis-humanis untuk kebangsaan dan kemanusiaan.

Narasi kebangsaan merupakan visi masa depan seorang pemimpin. Narasi kebangsaan adalah apa yang ditawarkan dan diperbuat oleh pemimpin membawa kapal bangsa ini. Sehingga yang ditawarkan adalah program-program besar, bukan recehan memupuk citra.

Oleh karena itu, memimpin bukan hanya selama 5 tahun. Namun, 5 tahun itu memupuk dan mengelola keadaban. Lima tahun bukan sekadar menghabiskan uang negara. Namun, meletakkan, membangun, dan membangkitkan, serta menawarkan gagasan/tindakan untuk kedaualtan bangsa/negara.

Pada akhirnya, semoga kampanye buruk saat ini segera berakhir. Capres dan cawapres beserta tim sukses perlu kembali ke rumah bangsa, merawat akal waras, dan mendidik warga bangsa menjadi pribadi unggul.

Pribadi unggul merupakan cerminan gagasan dan tindakan pemimpin. Capres dan cawapres perlu menjadi pemimpin, bukan sekadar seorang pejabat yang mengelola negara selama 5 tahun.

*Penulis adalah Peneliti Maarif Institute.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia