OPINI: Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan

Wisatawan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. - Harian Jogja/Nina Atmasari
02 Januari 2019 06:25 WIB Agus Rochiyardi Aspirasi Share :

Berdasarkan Passenger Exit Survey (PES) oleh Kementrian Pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia dalam rangka wisata alam 35%; budaya 60%, dan buatan 5%. Ini menggambarkan preferensi pada areal wisata alam dan budaya.

Jumlah wisman trennya naik dari tahun ke tahun. Ini bisa menurunkan pengangguran  dan menaikan produk domestik bruto (PDB), devisa, dan pendapatan asli daerah (PAD).

Indonesia memiliki 17.508 pulau, gunung, perbukitan, danau, sungai, flora-fauna, seni, budaya, dan etnis yang beraneka ragam. Ini menjadi potensi ekowisata yang perlu dikembangkan, secara terpadu, berkelanjutan  dan tidak mengabaikan kebutuhan masa depan. Semakin Dilestarikan, Semakin Mensejahterakan, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pariwisata No.14/2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.

Apa yang dimaksud ekowisata?  Ekowista yaitu pariwisata yang berwawasan lingkungan dan pengembangannya memperhatikan keseimbangan nilai-nilai. Aktivitas yang berkaitan dengan alam dan fenomenanya, wisatawan diajak melihat, menikmati keaslian alam, dan keasrian lingkungan, sehingga tergugah untuk mencintai alam.

Destinasi ekowisata memiliki keterbatasan kapasitas terpasang pengunjung, selain itu masuknya wisman berpengaruh terhadap budaya lokal sehingga  perlu diantisipasi dengan langkah-langkah strategis agar wisman tetap nyaman dalam berwisata, tetapi lingkungan dan kekayaan budaya aset utama pariwisata Indonesia tetap terjaga.

Sustainable tourism destination (STD) yaitu program penerapan konsep pariwisata berkelanjutan di destinasi, yaitu layak menurut budaya setempat, diterima secara sosial, memprioritaskan masyarakat setempat, tidak diskriminatif, dan ramah lingkungan. Untuk itu perlu didorong agar para pengelola menjalankan program sustainable tourism certification (STC) yang diadopsi dari Global Sustainable Tourism Council (GSTC).

Langkah pelatihan, sosialisasi, pemberian penghargaan (sebagai calibration, confidence, credibility), insentif, pemberdayaan assosiasi kepariwisataan, dari  pemerintah kepada pihak yang berjasa terhadap kepariwisataan, akan semakin meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap ekowisata.

Kerja Sama

Pengembangan ekowisata mengharuskan kerja sama semua kalangan.

Destinasi ekowisata wajib didaftarkan usahanya, dan melakukan sertifikasi, agar produk, pelayanan dan pengelolaan sesuai standar dan mengakomodasi pengunjung dengan keterbatasan fisik, anak-anak, dan lanjut usia.

Rambu-rambu disiapkan, terkait informasi apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, meliputi larangan merusak fisik, mengubah warna dan atau bentuk, menghilangkan spesies tertentu, mencemari, memindahkan, mengambil, menghancurkan, atau memusnahkan daya tarik wisata yang berakibat berkurang atau hilangnya keunikan, keindahan, dan nilai autentik suatu daya tarik ekowisata.

Memberikan kesempatan tenaga kerja lokal untuk bergabung,  ditingkatkan kompetensinya, dan mengalokasikan dana CSR untuk  melestarikan budaya, memelihara lingkungan sehat, bersih, dan asri.

Format seasonal perlu dipahami, untuk antisipasi lonjakan pengunjung yang terjadi pada liburan sekolah, pekan lebaran, liburan akhir tahun dan lain-lain.

Dampak banyaknya pengunjung yaitu sampah menggunung, tanaman rusak, bahkan masyarakat lokal komplain akses jalannya terganggu akibat kendaraan pengunjung yang melintasi.

Akademisi bisa melakukan sustainable tourism observatory (STO), berupa research, reporting, recommendation, serta pengembangan sumber daya manusia. Observasi destinasi ini dipantau oleh universitas yang telah ditunjuk sebagai monitoring centre for sustainable tourism observatory (MCSTO).

Selain itu, akademisi diminta menyiapkan tenaga profesional atau praktisi pariwisata berupa tenaga pengajar atau dosen di perguruan tinggi, politeknik vokasi sehingga output-nya dapat link and match dengan industri kepariwisataan.

Komunitas

Sebagai inisiator dengan kreasinya memperkenalkan ekowisata Indonesia melalui penjelajahan dan eksplorasi yang dapat di-share melalui media sosial.

Komunitas bekerja sama dengan pengelola ekowisata, mengatasi keterbatasan kapasitas terpasang, yaitu menciptakan kreasi-kreasi di sekitar destinasi ekowisata, sebagai pendistribusian pengunjung, yang masuk ke destinasi ekowisata sesuai kapasitas dan lainnya menikmati kegiatan di luar obkek wisata, misalnya dibuatkan outbound, atau pasar tiban dengan  produk dari masyarakat setempat, yaitu kegiatan budaya berupa atraksi seni, pameran kerajinan (lukisan, batik, keramik), happening, olah kanuragan, kuliner, dan lain-lain.

Komunitas dapat membuat homestay yang representatif dengan standar internasional dan desain lokal yang memperhatikan sistem pencahayaan, tata udara agar nyaman ditempati, dan induk semang perlu diberikan pelatihan hospitility.

Dari sisi kebudayaan, masuknya turis asing membuat shock culture, seperti di daerah Bali dan Lombok, banyak turis asing dengan pakaian seadanya mandi Matahari di pantai, juga terjadinya perpaduan budaya yang harus diwaspadai manakala bersifat negatif. Dalam hal ini peran pemandu wisata menjadi sangat penting, bukan sekadar memberikan informasi tetapi juga memperkenalkan budaya lokal bagaimana mengingatkan wisatawan tentang budaya Timur, tetapi tanpa menyinggungnya.

Untuk itu  pemandu wisata perlu dilatih khusus terkait dengan pemahaman budaya dan pelestarian lingkungan alam.

Sebagai mediator, media berperan memberikan informasi mengenai destinasi ekowisata yang disampaikan melalui media cetak, elektronik dan media online, tetapi diharapkan turut serta mengedukasi masyarakat dalam hal berekowisata.

Pada akhirnya, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk pengembangan ekowisata terpadu, berkelanjutan dan bertanggung jawab.

*Penulis adalah Direktur Pemasaran Badan Otorita Borobudur.