OPINI: Belanja Bijak: Liburan Tenang, Dompet Aman

Wisatawan berjubel di gang sempit di Ladies Market, Tung Choi Street, Mong Kok, Hong Kong. - Harian Jogja/Anton Wahyu Prihartono
03 Januari 2019 07:25 WIB Tabita Indah Iswari Aspirasi Share :

Rebecca Bloomwood, tokoh rekaan novelis Sophie Kinsella dalam novel The Confession of A Shopandaic berkata, "When I shop, the world gets better, the world is better; and then it’s not, I have to do it again (dikutip dari www.scoopwhoop.com)". Digambarkan dalam kisah fiktif dalam novel tersebut tokoh Rebecca Bloomwood ini adalah seorang shopping addict yang sangat gemar berbelanja barang bermerek terkenal hingga kartu kreditnya declined saat akan membeli sebuah syal hijau yang mahal. Ia pun terjebak dalam utang dan harus berurusan dengan seorang debt collector bernama Derek Smeath.

Kisah yang dialami Rebecca Bloomwood itu memang kisah fiktif mengenai contoh perilaku seseorang dalam berbelanja. Namun, hal tersebut bisa saja terjadi dan menjadi refleksi dalam kehidupan nyata sehari-hari apabila kita tidak bijak dalam mengatur keuangan kita dalam berbelanja. Paling buruknya, Anda bisa terlilit utang kartu kredit seperti yang dialami Rebecca Bloomwood.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa berbelanja memang menjadi suatu kebutuhan bagi setiap orang tanpa memandang status sosial maupun gender. Seperti yang sudah disinggung di atas, satu hal yang mungkin membedakan setiap orang dalam melakukan kegiatan satu ini adalah perilaku dalam berbelanja. Ada orang yang berbelanja untuk sekedar memenuhi kebutuhan reguler, tetapi tidak sedikit pula orang yang melakukan aktivitas belanja sebagai sarana untuk memenuhi gaya hidup. Contoh perilaku lain, ada orang yang senang mencoba berbagai macam merek dan ada pula yang memiliki preferensi terhadap merek, warna, atau spesifikasi tertentu.

Momen spesial yang dibarengi dengan hari libur nasional biasanya juga identik dengan belanja. Banyak pusat perbelanjaan kemudian menggelar promosi pada momen spesial tersebut. Momen khusus tersebut juga tidak jarang membuat kita berpikir bahwa segala sesuatunya harus dipersiapkan secara istimewa pula. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa kemudian kebutuhan akan membeli suatu barang bisa meningkat terutama menjelang hari libur nasional yang bersamaan dengan momentum spesial seperti Lebaran, Natal, Imlek, atau Tahun Baru. Namun terkadang pemikiran itu pula yang menjadikan kita kemudian membeli beberapa barang yang sebenarnya kurang perlu apabila kita tidak bijak dalam berbelanja. Mungkin setelah momen spesial itu berlalu, Anda merasa terlalu banyak membeli beberapa kotak kue dan botol sirup, atau barang lain, seperti pakaian, misalnya.

 

Trik Penjualan

Dikutip dari laman Brightside.me, dari artikel yang berjudul 10 Situations When We Lose Our Common Sense and Buy Useless Stuff, ada beberapa situasi yang mungkin akan kita temui saat berbelanja. Tidak hanya pada saat ada momen spesial, namun juga bisa terjadi saat kita membeli kebutuhan sehari-hari. Situasi tersebut antara lain: trik penjualan yang tersembunyi (subliminal retail tricks), promosi penjualan (sales promotions), dan persuasi dari pelayan toko (persuasive shop assistants).

Artikel tersebut memberikan beberapa ilustrasi yang mungkin saja pernah Anda alami saat berbelanja. Pernahkah anda masuk ke sebuah toko dan kemudian merasa terhanyut dengan alunan music yang diputar sembari anda berbelanja? Atau mungkin Anda tertarik untuk masuk ke sebuah toko sesaat setelah mencium aroma atau scent dari pengharum ruangan toko yang membuat rileks? Atau mungkin wallpaper toko yang atraktif membuat kita kemudian tertarik untuk masuk ke dalam toko, mengobservasi segala macam barang dan akhirnya membeli barang tersebut walaupun awalnya anda tidak berencana untuk masuk ke gerai tersebut? Hal tersebut dinamakan subliminal retail tricks atau trik penjualan yang tersamarkan. Dalam situasi lain, toko terkadang juga menawarkan beberapa promosi pembelian seperti: buy one get one free, discount 50% for second item, dan sebagainya.

Anda kemudian akhirnya membeli dua item barang karena embel-embel diskon, padahal sebenarnya anda hanya membutuhkan satu item barang saja. Tidak pelak, kondisi seperti ini juga akhirnya membuat kita membeli barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan. Kondisi ini semakin diperkuat dengan persuasi dari pelayan toko yang seringkali berhasil meyakinkan kita untuk membeli barang dengan kualitas tertentu atau karena sedang ada promo tertentu dari barang tersebut.

Lalu bagaimana cara kita untuk tetap bijak dalam berbelanja sementara beberapa kondisi yang disebutkan di atas terkadang menjadi suatu keniscayaan?

Yang pertama, menurut artikel dari Brightside.me tersebut, kita harus memfokuskan pada tujuan awal kita sebelum berbelanja. Lebih baik lagi apabila anda telah mencari informasi mengenai spesifikasi barang yang akan anda beli atau meminta testimoni dari teman atau kerabat yang berpengalaman membeli barang tersebut.

Hal ini akan membuat pencarian Anda fokus hanya pada barang yang Anda beli sesuai dengan anggaran yang sudah anda rencanakan dan menghindarkan anda untuk membeli barang lain di luar kebutuhan anda. Tips tambahan adalah jangan berbelanja ketika anda dalam kondisi lapar karena hal ini juga akan membuat anda membeli item (terutama makanan) yang tidak perlu.

Berikutnya, jika memang anda tertarik pada beberapa promosi penjualan, ada baiknya anda berbelanja bersama teman anda yang memiliki kebutuhan barang yang sama, sehingga misal ada promosi buy one get one free, Anda bisa berbagi biaya untuk membeli item barang yang anda butuhkan dengan teman anda tersebut. Satu hal yang terpenting adalah bahwa anda juga harus mampu untuk memutuskan barang mana yang akan anda beli untuk menghindari barang mana yang tidak terlalu anda butuhkan. Selamat berbelanja bijak!

*Penulis adalah Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta.