OPINI: Outlook Ekspor Jasa Indonesia

Pengunjung memadati arena Garuda Indonesia Travel Fair 2018, Jakarta, Jumat (5/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
12 Januari 2019 08:25 WIB Muhammad Syarif Hidayatullah Aspirasi Share :

Jarak menjadi tantangan utama dalam sebuah perdagangan. Menurut Baldwin (2017), terdapat tiga biaya jarak yang menjadi tantangan.

Pertama, biaya memindahkan barang. Kedua, biaya memindahkan ide, dan ketiga, biaya memindahkan orang. Revolusi industri membuat biaya yang pertama (memindahkan barang) menjadi relatif murah, yang pada akhirnya menciptakan industrialisasi di negara-negara bagian utara.

Pada 1990 terjadi revolusi ICT (information and communication technologies/teknologi informasi dan komunikasi), membuat biaya komunikasi menjadi turun, sehingga pada akhirnya menurunkan biaya yang kedua (biaya memindahkan ide).

Implikasinya, industri yang awalnya berada di sisi utara dunia, mulai dipindahkan (offshoring) ke negara-negara bagian selatan dan menciptakan apa yang disebut global value chain revolution (Baldwin, 2017).

Perkembangan teknologi digital dan robotik berpotensi menurunkan biaya yang ketiga (memindahkan orang), sehingga di masa mendatang, kita tidak lagi hanya berfokus terhadap perdagangan barang, tetapi juga pada perdagangan jasa.

Selama delapan tahun terakhir neraca perdagangan jasa Indonesia selalu mengalami defisit, berkisar antara US$7 miliar dan US$12 miliar. Namun defisit tersebut mengalami tren penurunan seiring menguatnya ekspor jasa dari US$16 miliar pada 2010 menjadi US$24 miliar pada 2017.

Penguatan ekspor jasa tersebut juga didukung oleh berkembangnya sejumlah sektor seperti sektor jasa perjalanan (travel) yang mengalami pertumbuhan.

Ekspor jasa terbesar Indonesia berasal dari tiga sektor utama yaitu jasa perjalanan, jasa bisnis lainnnya dan jasa transportasi yang berturut-turut membukukan ekspor sebesar US$12,5 miliar, US$5,2 miliar dan US$3,4 miliar. Secara pertumbuhan sektoral, terdapat empat sektor yang mengalami peningkatan aktivitas ekspor selama beberapa tahun terakhir, yaitu jasa perjalanan, jasa bisnis lainnya, jasa komunikasi dan jasa konstruksi.

Pada periode 2010-2016, keempat sektor tersebut mengalami pertumbuhan, berturut-turut sebesar 73%, 190%, 47%, dan 86%.

Perdagangan jasa dunia diperkirakan juga semakin meningkat ke depannya. Pada periode 2005-2013, ekspor jasa negara-negara Asia tercatat tumbuh sebesar 11%, lebih tinggi dari ekspor barang yang tumbuh 10% (WTO, 2014). Negara-negara Asia mulai muncul sebagai pengekspor jasa dimana kontribusi ekspor jasa dari negara-negara di kawasan tersebut melonjak dari 22% pada 2005 menjadi 26% pada 2013.

Semakin menggeliat perdagangan jasa tentu akan mendorong ekspor jasa Indonesia pada tahun ini.

Outlook

Perdagangan jasa berpotensi menjadi sektor yang dapat dioptimalkan pada 2019. Perkembangan ekonomi dan peningkatan perdagangan Indonesia tentu mendorong impor jasa transportasi, tetapi sejumlah ekspor jasa diperkirakan juga semakin menggeliat sepanjang tahun ini. Terdapat dua faktor yang akan menentukan perkembangan ekspor jasa 2019, yaitu faktor kebijakan dan faktor makroekonomi.

Kita telaah faktor kebijakan. Kebijakan yang akan mempengaruhi ekspor jasa adalah yang terkait dengan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) ekspor tersebut. Pemerintah berencana melakukan penghapusan PPN ekspor jasa. Pengenaan PPN 10% untuk selain tiga sektor tersebut akan mengurangi daya saing Indonesia, karena banyak negara sudah mengenakan PPN 0% atas ekspor jasa, terutama untuk jasa-jasa seperti financial center, jasa konsultan, jasa akuntansi, jasa call center, dan jasa-jasa lainnya yang dapat menambah penyerapan tenaga kerja.

Lebih lanjut, penerapan PPN dengan tarif 0% atas ekspor jasa juga akan memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia, antara lain mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing tenaga kerja di Indonesia, menciptakan lapangan kerja yang lebih luas, dan meningkatkan produktivitas ekonomi. Alhasil pada akhirnya akan berperan meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka panjang.

Dengan tarif PPN ekspor 0% tersebutu maka sektor jasa Indonesia akan lebih kompetitif dan diharapkan semakin meningkat pada tahun ini.

Bagaimana dari sisi makroekonomi? Melemahnya nilai tukar rupiah pada satu sisi dapat meningkatkan daya saing ekspor jasa Indonesia di level internasional. Namun pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan akan melambat tentu dapat memberikan pengaruh.

Amerika Serikat diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi dari 2,9% (2018) menjadi 2,5% (2019). Demikian pula dengan China, yaitu dari 6,5% (2018) menjadi 6,2% (2019). Adapun untuk Asean dari 5,3% (2018) menjadi 5,2% pada tahun ini berdasarkan proyeksi IMF pada 2018. Penelitian Ahamd, Kaliappan dan Ismail (2017) menunjukkan untuk negara-negara Asia, setiap ada 1% pertumbuhan ekonomi dunia maka ekspor jasa meningkat sebesar 3,28%.

Oleh karena itu, sektor jasa masih mungkin tumbuh tetapi diperkirakan melambat dibandingkan dengan tahun lalu.

Dalam kaitan itu, ekspor jasa Indonesia pada 2016 dan 2017 berturut-turut tumbuh yaitu masing-masing sebesar 4,9% dan 6,3%. Pertumbuhan ekspor jasa ditopang dengan mulai membaiknya perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia yang lesu semenjak 2012. Pada 2018 yang baru saja berakhir, ekspor jasa diproyeksikan masih tumbuh 6%-6,5%.

Adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta sinyal kurang baik mengenai pertumbuhan negara-negara mitra dagang utama Indonesia, pertumbuhan ekspor jasa Indonesia diproyeksikan mulai melambat, yaitu di kisaran 5,5%-6,0% sepanjang tahun ini.

Pada tahun ini kinerja ekspor jasa masih akan dipengaruhi dan ditopang oleh dua sektor strategis, yaitu jasa travel dan jasa bisnis lainnya. Jasa travel, yang sebagaian besar ditopang oleh masuknya wisatawan mancanegara ke Indonesia, diperkirakan masih berkembang meski kemungkinan besar tidak akan seperti perkiraan pemerintah. Pemerintah menargetkan jumlah wisatawan asing mencapai sedikitnya 20 juta orang. Angka tersebut dinilai kurang realistis mengingat bahwa tahun lalu, dengan digelarnya tiga perhelatan skala internasional, jumlah kunjungan wisatawan asing hanya berkisar 14-16 juta orang.

Pada 2018 pertumbuhan ekspor jasa travel diperkirakan mencapai 8%-10% maka pada tahun ini pertumbuhannya diproyeksikan juga tidak jauh berbeda, atau bahkan bisa lebih rendah apabila tidak ada kebijakan tertentu dari pemerintah.

Adapun sektor jasa bisnis lainnya merupakan kontributor ekspor jasa terbesar kedua. Perkembangan ekspor pada sektor ini selama beberapa tahun terakhir terlihat kurang baik. Pada periode 2013-2017, ekspor pada sektor ini justru mengalami kontraksi, minus 20,7%.

Dengan adanya komitmen pemerintah untuk merevisi aturan tentang PPN ekspor jasa, diharapkan ekspor jasa, khususnya untuk jasa bisnis lainnya juga dapat berlari lebih kencang.

Berbeda dengan ekspor jasa travel yang memakai moda consumption abroad, ekspor jasa bisnis lainnya menggunakan moda ekspor lainnya, sehingga daya saing ekspor jasa ini sangat berkaitan dengan aturan PPN tersebut.

*Penulis adalah Policy Analyst Indonesia Services Dialogue.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia