RIFKA ANNISA: Terjebak Porno Balas Dendam

Ilustrasi pelecehan seksual - JIBI
04 Januari 2020 05:02 WIB Rifka Annisa, LSM Aspirasi Share :

Halo Rifka Annisa, perkenalkan nama saya Reni, usia 24 tahun, seorang pekerja swasta di salah satu pusat perbelanjaan di Jogja. Saya ingin konsultasi terkait dengan permasalahan yang sebenarnya sudah saya alami kurang lebih tiga bulan terakhir ini dengan mantan kekasih saya.

Awalnya kami menjalin hubungan pada 2018, hubungan kami baik-baik saja dan saling menerima satu sama lain. Kami sering menceritakan kenangan masa lalu ketika kami duduk di bangku sekolah menengah pertama karena dulu kami teman seangkatan di SMP dan cerita-cerita tersebut yang membuat kami lebih dekat bahkan sampai setahun berjalan kami saling memperkenalkan pada orang tua masing-masing.

Perjalanan cinta kami yang dibungkus dalam relasi pacaran ini berniat untuk kami teruskan ke jenjang pernikahan. Namun, sekitar pertengahan 2019, pasangan saya mulai menunjukkan perubahan sikap. Dia suka marah-marah, melarang saya untuk berkegiatan bahkan pasangan saya juga suka menghubungi teman-teman kerja saya untuk menanyakan keberadaan saya padahal saya sudah menyampaikan kepadanya apa kegiatan saya dan jam kerja saya.

Pasangan saya selalu marah-marah ketika saya tidak mengangkat telepon atau video call darinya padahal saya memang sedang bekerja dan tidak bisa pegang telepon seluler. Tidak hanya itu saja, saya juga merasa hubungan saya dengan pasangan saya mulai tidak sehat lagi karena saat kami video call, pasangan saya selalu minta agar saya membuka baju saya. Awalnya saya menolak dan marah karena tidak nyaman tetapi pasangan saya mengancam akan mengganggu teman-teman saya sehingga teman-teman saya merasa tidak nyaman dan memusuhi saya.

Awalnya saya mengabaikan namun ancaman tersebut dilakukan dan saya mengetahuinya dari teman-teman saya yang menunjukkan pasangan saya menghubungi teman saya tengah malam. Sampai teman-teman saya marah dan menjauh dari saya. Saya kemudian marah ke pasangan saya dan pasangan saya meminta untuk video call dengan syarat saya harus topless. Dengan terpaksa saya menurutinya dan tidak sampai lima menit saya matikan.

Sekitar dua hari kemudian saya memutuskan pasangan saya dan memblokir kontaknya namun pasangan saya menggunakan akun palsu untuk menghubungi saya dengan mengirimkan potongan gambar telanjang saat video call dan mengancam akan menyebarkan kalau saya tidak mau balikan dengannya.

Pasangan saya bahkan sudah menghubungi orang tua saya dengan menanyakan apakah orang tua saya mengetahui foto itu, tanpa dijelaskan foto apa sebenarnya. Saya bingung, takut dan khawatir kalau foto tersebut benar disebarkan padahal saya masih butuh pekerjaan. Kondisi orang tua saya akan drop jika mengetahuinya. Apa yang bisa saya lakukan ya? Mohon bantuannya.

Jawaban
Halo Reni, terima kasih telah mengakses layanan konsultasi Rifka Annisa, kami turut prihatin dengan peristiwa yang Reni alami, dan kami sangat memahami kondisi Reni sekarang. Kami yakin Reni adalah perempuan yang kuat sampai Reni berani memutuskan hubungan dengan pasangan Reni dan kami apresiasi Reni menyadari ada komunikasi yang tidak sehat antara Reni dan pasangan Reni (sekarang mantan).

Reni dalam hal ini sebagai korban, lebih khususnya korban pelecehan seksual melalui media sosial, terlebih disertai dengan ancaman penyebaran, biasanya disebut dengan korban porno balas dendam. Reni sebaiknya menceritakan peristiwa kekerasan yang Reni alami kepada orang terdekat dan orang yang dipercaya sehingga Reni tidak merasa sendirian.

Kalau Reni ada saudara baik adik maupun kakak yang Reni rasa cukup bisa mendengarkan cerita Reni, itu lebih baik sehingga Reni mendapat dukungan dari orang-orang terdekat Reni atau justru Reni berani menceritakannya langsung kepada orang tua. Reaksi orang tua mungkin marah dan itu sangat wajar, namun perlu dipahami Reni tidak dalam kondisi sepakat untuk melakukan apa yang diminta pasangan Reni tetapi karena ada ancaman dan ancaman tersebut benar dilakukan.

Reni terpaksa menuruti karena demi menjaga agar teman-teman Reni tidak diteror bahkan orang tua Reni juga tidak diganggu, namun Reni memang tidak bisa mengontrol perbuatan pasangan Reni itu. Penjelasan yang Reni sampaikan tersebut kami rasa akan dipahami oleh orang tua dan orang-orang terdekat Reni, meskipun tetap tidak mudah karena butuh proses.

Menjadi lebih khawatir jika si pelaku yang menyampaikan peristiwa tersebut dengan cerita yang tidak bisa Reni kendalikan karena si pelaku melakukan hal itu untuk balas dendam sehingga tujuannya jelas untuk membuat Reni semakin terpuruk namun dilakukan melalui orang-orang terdekat Reni. Reni bisa juga melibatkan adik atau kakak atau orang terdekat dan dipercaya untuk menjadi perantara menyampaikan ke orang tua, yang penting Reni menyadari akan kebutuhan teman tersebut.

Selain itu apabila Reni ingin memberi efek jera kepada pelaku agar diproses hukum, sebenarnya ini bisa diadukan ke pihak berwajib dalam hal ini wilayahnya di DIY lebih baik ke Polda DIY. Kasus-kasus yang muncul melalui media sosial memang dianjurkan langsung ke Polda DIY karena Polda DIY memiliki unit khusus untuk kasus-kasus kejahatan berbasis ITE, meskipun perlu menjadi pemahaman dan catatan prosesnya tidak cepat dan pembuktiannya harus kuat.

Reni perlu ingat sebagai korban dan yang bersalah adalah mantan pasangan Reni, jadi Reni tidak perlu takut. Jika pasca peristiwa ini Reni mengalami perubahan seperti pola tidur terganggu, nafsu makan menjadi berkurang, atau perubahan-perubahan lain yang muncul akibat peristiwa yang Reni alami, bisa langsung mengakses layanan konseling psikologis.

Selain itu jika Reni juga memerlukan informasi hukum terkait dengan kejahatan di media sosial juga bisa langsung konsultasi ke lembaga penyedia layanan bantuan hukum, seperti di Rifka Annisa. Demikian informasi yang bisa kami berikan, semoga bisa membantu.