OPINI: Antara Ujian Tuhan dan Wuhan

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Selasa (14/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia
17 April 2020 05:02 WIB Dwi Mukti Wibowo Aspirasi Share :

Sejak awal 2020, alam tampaknya kurang bersahabat. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 455 bencana selama Februari lalu dengan beragam jenis. Pandemi COVID-19, yang merebak pertama kali di Wuhan, China, melengkapi penderitan Indonesia. Setelah Presiden Jokowi mengumumkan dua warga negaranya terjangkit (Maret 2020), dalam sekejap wabah ini menyebar dan menciptakan kepanikan. Korbannya mulai berjatuhan satu per satu.

Pandemi COVID-19 menjangkiti siapapun, termasuk dokter dan tenaga medis di garda depan. Mereka tetap tegar, meski harus menahan rasa lelah dan kangen keluarganya di tengah kondisi keterbatasan sarana prasarana, tenaga medis, dan akumulasi jumlah korban yang terus berjatuhan. Faktanya, satu persatu dokter pun turut menjadi korban. Jumlahnya kini mencapai 27 dokter. Mereka semua adalah pahlawan kemanusiaan. Kegigihan melawan keganasan COVID-19 adalah wujud ‘bela negara’ yang ditebus dengan nyawa.

Wabah corona telah menghantam sendi-sendi ekonomi bangsa. Banyak perusahaaan gulung tikar, bahkan pekerja dirumahkan tanpa kepastian menerima upah. Hidupnya semakin sulit. Pemerintah sadar jika risiko krisis ekonomi adalah taruhannya. Mengedepankan aspek kemanusiaan menjadi prioritas pilihan. Dengan Keppres No. 11/2020 pemerintah menetapkan COVID-19 sebagai jenis penyakit yang menimbulkan kondisi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat. Ditindaklanuti PP No. 21/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19 serta Perppu No. 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk penanganan pandemi dan/atau dalam rangka menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian nasional dan/atau stabilitas sistem keuangan.

Berbagai kebijakan itu menjadi dasar hukum pemerintah menggelontorkan stimulus ekonomi dan bantuan sosial, termasuk pembiayaan penanganan wabah. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, Rp405,1 triliun untuk insentif tenaga medis, santunan kematian, jaring pengaman sosial, stimulus KUR, dan bantuan bagi pekerja. Juga bantuan langsung untuk insentif fiskal dan non fiskal. Semuanya berlaku sejak April sampai September 2020.

Sektor keuangan dan moneter juga terkena dampak wabah. Bank Indonesia (BI) telah menyesuaikan langkah dan kebijakan pemerintah mencegah penyebaran COVID-19, termasuk PSBB untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan dalam negeri. Gubernur BI Perry Warjiyo melakukan koordinasi bersama pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan dalam memitigasi dampak COVID-19.

Kompleksitas pandemi adalah karena masalah manusia yang berdampak pada ekonomi dan berisiko pada sektor keuangan. Meski dampaknya kian terasa tetapi harus tetap be strong, be creative, be confident. Kepercayaan diri Indonesia harus terus dibangun di tengah ekonomi dunia yang tertekan.

COVID-19 juga menguji perilaku masyarakat. Hoax bertebaran. Menurut Frans Magnis Suseno berita hoax telah mengobrak-abrik kebudayaan tradisional, termasuk nilai-nilai dan tradisi moralnya. Maraknya berita hoax menandakan jika manusia sedang mengalami kemerosotan moral.

Pandemi juga menguji kepatuhan dan solidaritas masyarakat yang ingin mudik Lebaran. Presiden memang tidak mengeluarkan larangan mudik. Jika ingin mudik, harus dengan persyaratan masuk kategori orang dalam pemantauan dan harus menjalani isolasi diri sesampai di daerahnya. Dan untuk warga yang sudah terlanjur mudik, Presiden minta kepada para kepala daerah meningkatkan pengawasan di wilayahnya masing-masing.

COVID-19 bahkan menguji kesadaran manusia. Kutipan Preetha Krishna ini perlu disimak. Alam memiliki ciri-ciri hebat dalam menjaga dirinya. Agar ia tetap bertahan, alam akan memusnahkan mahluk hidup yang tidak mendukung yang lain. Jika manusia ingin bertahan, maka harus memberikan manfaat bagi alam dan seisinya. Jika tidak, secara alamiah alam akan memusnahkan manusia. Apakah manusia memberikan manfaat, atau justru merusak alam? Jika spesies lain, mereka membunuh untuk bertahan hidup, mempertahankan diri atau kelaparan. Manusia berbeda, terkadang hanya untuk membuktikan kehebatannya diatas yang lain, menunjukkan dominasi manusia atau sekedar untuk kesenangan. Bagaimana seandainya COVID-19 ini adalah cara alam utuk memusnahkan dan menyerang manusia. Karena manusia dianggap belum memberikan manfaat bagi alam dan seisinya. Mungkin saat ini alam ingin memberikan pelajaran atau mengeliminasi manusia melalui COVID-19. Karena cara hidup dan berpikir manusia yang ingin memisahkan diri satu sama lain, sehingga semakin tidak terhubung dengan alam. Dan jika ini adalah peringatan alam maka sekaranglah saatnya manusia sadar kembali menyatu dengan alam dan Sang Pencipta. Sebelum terlambat.

Selanjutnya, pengurangan penyebaran COVID-19 akan lebih efektif jika kebijakan work from home (WFH) dan social distancing serta PSBB dilaksanakan dengan tegas dan disiplin serta didukung penuh pemberlakuan sanksinya. Penerapan WFH dan PSBB menimbulkan konsekuensi defisit APBN 2020 yang diproyeksikan naik dari Rp307,2 triliun menjadi Rp853 triliun.

Selain itu insentif pemerintah dan PPh 21 sangat bermanfaat bagi pekerja dan pengusaha, karena bisa ditabung untuk mendukung daya beli mereka. Bantuan harus tepat sasaran, mengutamakan aspek governance dan tidak terjadi moral hazzard.

Semoga COVID-19 segera berlalu. Tak perlu saling menyalahkan. Ini hanyalah ujian untuk menyadarkan jika manusia tidak hidup sendiri. Masih ada alam dan Sang Pencipta.

*Penulis merupakan Deputi Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia