HIKMAH RAMADAN: Runtuhnya Keyakinan tentang Akhirat

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
06 Mei 2020 04:02 WIB Titis Wisnu Wijaya Hikmah Ramadan Share :

Ada satu kata yang sangat popular di kalangan milenial, sekalipun anak muda muslim, yaitu pacaran. Sebagai umat muslim, seharusnya mereka tidak melakukan itu karena Allah melarangnya. Karena berpacaran membuka pintu maksiat. Dalam Alquran surat an-Nur: 30-31,” Katakanlah pada laki-laki beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah pada para perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (aurat), kecuali yang (biasa) terlihat….”

Ketika ingin berpacaran dengan seseorang, kita tertarik dengan orang itu. Kita jadi ingat terus, ingin sering bertemu, berduaan dengannya dan merasakan kenyamanan atas perhatiannya. Berpegangan tangan, merasa aman seolah ada yang melindungi. Walaupun demikian, kita tetap dianggap berzina, seperti yang tertulis dalam hadits, “Allah telah menentukan bagi anak Adam baginya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat (dengan syahwat), zinanya lidah adalah mengucapkan (dengan syahwat), zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan (pemenuhan nafsu syahwat), maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tetapi, kenapa ya masih banyak milenial muslim yang pacaran? Apakah karena mereka belum mengetahui jika pacaran dilarang oleh Allah? Atau mereka belum mengetahui adanya neraka? Sebenarnya mereka telah memahaminya, namun kenapa ya masih melakukanya? Dengan kata lain, mereka tidak takut berdosa, tidak takut masuk neraka. Di dunia ini kita mendapati banyak ujian. Lalu, sebenarnya untuk apa Allah memberikan ujian kepada kita?

Melalui banyak ujian di dunia, kelayakan seseorang ditentukan. Jika mampu melewatinya, dia layak tinggal di Surga. Namun, jika tidak mampu melewatinya, nerakalah tempat yang layak. Allah Maha Adil. Jiwalah yang akan mengalami kenikmatan Surga atau kesengsaraan di neraka. Sementara raga hanya menemani jiwa selama hidup di dunia. Tidak semua jiwa mampu meyakini keindahan dan kenikmatan surga yang maha dahsyat, serta merasakan betapa mengerikannya neraka itu. Lalu, bagaimana kita dapat memliki jiwa yang mampu meyakini sepenuhnya keberadaan akhirat? Ajaklah jiwa kita bermuhasabah, evaluasi diri mengenai kebaikan dan keburukan yang kita lakukakan dalam segala hal. Bacalah ayat dan hadits yang menceritakan tentang akhirat. Jangan membaca dengan logika, karena akal tidak akan mampu mencapainya.

Jika kita sering bermuhasabah, maka perasaan dan keyakinan terhadap akhirat dengan surga dan nerakanya itu menjadi kuat tertanam dalam hati dan jiwa. Akhirat adalah hal ghaib. Kita tidak bisa melihat secara langsung dengan mata kepala kita saat ini, hanyalah dengan mata hati kita melihat hal ghaib dengan cara merasakannya. Dengan mata hati yang terbuka karena meyakini keberadaan akhirat, maka kita akan terhindar dari hal-hal yang dimurkai Allah, termasuk tidak mau lagi pacaran. Ketidaktaatan akan menyebabkan kita berlumur dosa. Jika mempunyai banyak dosa ketika sampai dikahirat nanti, Allah pasti tidak akan mengizinkan kita untuk kedalam Surga-Nya. Bukalah mata hati agar sikap dan perangai kita selalu baik sesuai yang diinginkan oleh Allah. Itulah yang dimaksud dengan yakin dengan adanya akhirat.

Yuk ajak hati dan jiwa untuk sering merenung dan merasaka akhirat. Allah akan memudahkan kita dalam melakukan kebaikan. Karena Allah menyayangi umat-Nya. Dia hanya ingin semua umat-Nya masuk ke dalam surga.

*Penulis merupakan Sekretaris Program Studi Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta