OPINI: Catatan Dunia Pendidikan Awal 2021

Ilustrasi Sekolah - Ist/Riauonline
19 Januari 2021 06:07 WIB Arissetyanto Nugroho, Rektor Universitas Mercubuana 2010-2018 Aspirasi Share :

Proses belajar mengajar selama pandemi Covid-19 ini telah mengakibatkan interaksi antara peserta didik dengan guru dan juga teman sekelasnya hanya bisa dilakukan dengan gadget. Jenuh dalam mengamati berbagai konten pembelajaran merupakan realita yang dialami oleh peserta didik.

Di sisi lain, kekhawatiran berbagai pihak untuk membuka kembali sekolah yang dapat mengancam kesehatan peserta didik serta guru merupakan alasan utama proses belajar dari rumah terus menerus dilaksanakan.

Pengalaman dari negara lain yang membuka proses belajar mengajar menjadi tetap muka lantas kemudian menutupnya juga dialami seperti Korea Selatan. Sementara itu, Taiwan tetap melaksanakan belajar tatap muka dengan disiplin yang ketat.

Di Indonesia, karena banyaknya yang masih ter­­papar Covid-19, risiko untuk mem­­buka sekolah juga makin besar. Pada 2020, pemerin­tah menyampaikan rencana untuk membuka sekolah ber­da­sarkan dari kesepakatan ele­men-elemen stakeholder pen­didikan di daerah yaitu pe­me­rin­tah daerah, kepala­ se­kolah dan perwakilan orang tua murid.

Sekolah-sekolah menyikapi dengan membuat survei yang disampaikan kepada orang tua murid, perihal apa­kah mereka mengizinkan anaknya untuk sekolah. Sebagian besar orang tua murid memang menyampaikan bahwa mereka khawatir mengizinkan anaknya sekolah tatap muka karena tidak terstandarnya sekolah itu dalam penerapan disiplin protokol kesehatannya.

Ada juga survei yang me­nyam­paikan bahwa guru be­lum mau sekolah dibuka ka­re­na ada risiko potensi pe­nularan di dalam sekolah yang akan mengancam kesehat­an peserta didik dan guru.

Di sisi lain, guru yang me­ngajar daring dari rumah ma­sing masing juga pasti akan berbeda dalam pemberian layanan pendidikan kepada sis­wa. Sehingga makin sulit ba­gi sekolah menerapkan stan­dar kualitas layanan pendi­di­kan bagi siswanya.

Jika melihat situasi saat ini, kemungkinan pandemi Covid akan masih berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Kesehatan merupakan prioritas utama keluarga, orang tua, dan pemerintah.

Namun di sisi lain kita juga perlu memperhatikan bahwa proses belajar mengajar online membuat proses belajar khususnya untuk mata pelajaran yang membutuhkan laboratorium dan praktik magang serta olah raga menjadi makin tidak efektif.

Perlu Terobosan

Diperlukan terobosan un­tuk dapat mengelola wak­tu dan jam belajar siswa da­lam me­man­faatkan labora­to­ri­um & fasilitas olahraga yang ada di sekolah dengan ter­batas dan sesuai dengan pro­to­kol kesehatan. Simulasi da­lam mengelola waktu dan ju­ga belajar di sekolah perlu di­la­ku­kan karena ada ketidak­pas­tian di masa depan pe­ri­hal kapan selesainya pande­mi covid ini.

Jika pandemi masih belum selesai dalam setahun ke depan dan peserta didik terus belajar online, maka tentu ada hal yang akan dikorban­kan yaitu pengembangan pengetahuan peserta didik yang membutuhkan labora­to­rium, praktik serta kom­pe­tensi olah raga. Jadi kompe­tensi kognitif yang bisa di­ajarkan tetapi kompetensi afek­tif dan psikomotorik ti­dak bisa efektif di online.

Kualitas lulusan juga akan menurun, karena kesempatan untuk meningkatkan penga­lam­an dari peserta didik ter­ba­tas. Ini juga akan mempe­ngaruhi peserta didik di SMA dan SMK, mereka yang mem­butuhkan laboratorium un­tuk bio­logi, fisika, kimia akan ­ma­kin berkurang ke­mam­­puannya dan juga mempe­ngaruhi kemampuannya nan­ti ketika dia meneruskan ke jenjang pendidikan yang le­bih tinggi maupun bekerja di industri.

Hal yang terakhir adalah psikologi dari peserta didik karena lama sekali berada di rumah. Mereka jenuh hanya mengikuti proses belajar mengajar dari online saja. Berbagai hal ini yang perlu diantisipasi oleh Dikbud dan pemangku kepentingan.

Output dari pendidikan akan dirasakan dan dialami beberapa tahun setelahnya. Bukan hanya untuk peserta didiknya tetapi juga ketika mereka lulus dan kemudian mencari pekerjaan. Apakah kemudian industri akan menurunkan tingkat kualitas kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaannya?

Inilah pertanyaan yang perlu dipersiapkan jawabannya. Sehingga dalam mengelola masa yang tidak pasti ini kita juga membangun kepastian untuk terus meningkatkan kemampuan peserta didik sehingga tidak menurun kualitasnya. Di sisi lain link match juga terus dilakukan dengan industri agar industri juga tidak semena-mena menerapkan standar kompetensi karyawan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia