OJK Catat 42 Multifinance Alami Kredit Macet di Atas 5 Persen
OJK mencatat 42 perusahaan multifinance memiliki NPF bruto di atas 5% pada Juli 2026, naik dari 38 perusahaan pada Juni.
Pengunjung berendam di kolam air panas alami di resor Toya Devasya, yang bersumber langsung dari Gunung Batur, Kintamani, Bangli, Bali, Selasa (4/6/2019)./Bisnis-Tim Jelajah Jawa-Bali 2019
Sektor pariwisata Indonesia tumbuh pesat pada2018 yaitu 12,58% dibandingkan dengan rerata pertumbuhan dunia yang hanya 5,6% dan Asean 7,4%. Bahkan pada 2015-2017 mampu tumbuh rerata 22% per tahun.
Salah satu strategi Kementerian Pariwisata untuk mempertahankan pertumbuhan double digit sektor pariwisata secara berkelanjutan adalah dengan membangun 100 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, yang diharapkan menjadi penggerak pariwisata dengan mengikuti kesuksesan Nusa Dua Bali.
Berdasarkan data World Travel and Tourism Council (WTTC), pada 2017 pariwisata menyumbang US$8 triliun atau 10,4% dari total produk domestik bruto (PDB) dunia. Di tahun yang sama, dengan devisa sebesar US$15,2miliar, PDB Indonesia dari sektor pariwisata mencapai US$58,9 miliar, lebih tinggi dari rerata Asia Tenggara yang US$33 miliar.
Adapun Thailand, yang sudah jauh melesat, meraup US$95 miliar dengan devisa US$59,6 miliar. Sebagai negara yang menduduki tempat teratas dalam tingkat pertumbuhan kontribusi terhadap PDB dari sektor pariwisata (7,4%), Thailand mampu mendatangkan 38,7 juta wisatawan mancanegara dan berkontribusi 12% terhadap keseluruhan PDB pada 2018.
Dapat dikatakan bahwa pariwisata telah menjadi salah satu sektor utama di Thailand. Secara signifikan, angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan kontribusi sektor pariwisata dan perjalanan Indonesia terhadap PDB, yaitu 5,4% dan kontribusi sebesar 5,17%, dengan jumlah kunjungan 15,81 juta wisman (naik 12,58% dibandingkan 2017).
Pada Februari 2019, kontribusi sektor pariwisata Thailand telah meningkat menjadi 18,4% terhadap PDB atau mendekati seperlima dari total PDB negara itu. Dari aspek pembukaan lapangan pekerjaan, pada 2017sektor pariwisata Thailand memberikan kontribusi 2,3 juta (6,2% dari total lapangan pekerjaan).
Tahun lalu current account deficit (CAD) ataudefisit transaksi berjalan Indonesia mencapai 2,98% dari PDB atau setara dengan US$31 miliar. Jumlah ini meningkat dibandingkandengan 2017 yang hanya 1,74% dari PDB atau setara US$17,52 miliar. Sedangkan Baht Thailand relatif stabil dengan surplus transaksi berjalan US$48,13 miliar (10,57% dari PDB).
Sejalan dengan dijadikannya pariwisata sebagaileading sector, Presiden Joko Widodo menegaskan, pembangunan KEK Pariwisata di Indonesia diharapkan membantu pemerataan pembangunan sekaligus pendorong kemajuan ekonomi rakyat. Pembangunan tersebut memerlukan kerja sama seluruh pihak pentahelix, baik pemerintah pusat, daerah maupun swasta. Juga diharapkan dapat mendorong PDB Indonesia di tahun ini dan setidaknya mampu mengalahkan Thailand.
Kita menginginkan KEK Pariwisata menjadi salah satu solusi jitu untuk mengembangkan perekonomian nasional. Tak hanya menawarkan insentif fiskal bagi investor seperti pengurangan biaya pajak (PPh, PPn dan PPnBM, PB1, dan pajak hiburan) tapi juga keringanan bea masuk kepabeanan serta insentif nonfiskal berupa kemudahan administrasi terkait lahan, perizinan, dan legalitas tempat tinggal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
Betapa tidak? Kita mempunyai 34 provinsi. Jika 1 provinsi memiliki 3 KEK Pariwisata, sudah dapat mencapai target hingga 100 KEK Pariwisata. Bila terwujud dengan kerja keras bersama, ini akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi, memajukan daerah/kawasan tersebut dan meningkatkan kesejahteraan di wilayah itu sendiri mengingat pariwisata merupakan sektor yang paling mudah, paling murah, dan paling cepat.
Sejauh ini sudah ada 4 KEK Pariwisata yang beroperasi di area 10 Bali Baru, yaitu KEK Pariwisata Tanjung Lesung (1.500 hektare) dengan total investasi sekitar US$4 miliar dan KEK Pariwisata Mandalika (1.175 hektare) dengan penanaman modal senilai US$3 miliar. Lainnya adalah KEK Pariwisata Morotai (300 hektare) dengan total investasi sedikitnya US$2,9 miliar dan KEK Pariwisata Tanjung Kelayang Belitung (324,4 hektare) dengan investasi US$1,4 miliar.
Selain 4 kawasan tersebut, sedikitnya 12 KEK Pariwisata juga sudah siap menanti ditetapkan tahun ini juga. Tiga diantaranya sudah dalam proses penetapan yaitu KEK Tanjung Gunung, Sungai Liat, dan Singosari. Adapun 9 KEK Pariwisata lainnya yaitu Pangandaran, Sukabumi, Tanjung Pulisan Likupang, Kepulauan Selayar, Mentawai, Kertajati, Samas Parangritis, Tana Naga Lembor Manggarai Flores, dan Bali Turtle masih dalam proses pengusulan dan diharapkan dapat ditetapkan dalam waktu dekat.
Kita mempunyai harapan besar bahwa pariwisata menjadi penyumbang utama devisa pada 2020, karena sektor ini praktis memenuhi hampir semua persyaratan, yaitu mudah, murah, cepat, dan juga memenuhi aspek pemerataan ekonomi lantaran berdampak sampai ke lapisan paling bawah (trickle down effect).
Terobosan tak kenal lelah Presiden Jokowi, Kemenpar dan seluruh kementerian tentu saja ingin menjadikan sektor pariwisata sebagai ujung tombak utama dalam menyejahterakan masyarakat, meningkatkan devisa, membuka lapangan pekerjaan, dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) secara cepat. Sebagai contoh, PAD pariwisata di Belitung pada 2018 meningkat hampir 300% dibandingkan dengan 2014, sehingga berdampak sangat positif bagi perekonomian masyarakat.
Secara garis besar KEK Pariwisata hadir untuk menarik devisa dari wisatawan mancanegara maupun investasi asing. Dengan adanya investasi, lapangan pekerjaan menjadi terbuka, khususnya untuk masyarakat setempat. Geliat ekonomi tumbuh dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ikut merasakan hasil pembangunan tersebut. Jika diamati, warga di daerah pariwisata cenderung makmur dan seluruh masyarakat ikut menikmati keberadaannya.
Berbicara soal investasi di sektor pariwisata, sepanjang 2018 swasta nasional menanamkan modalnya sebesar US$655,7 juta. Modal asing juga cukup kuat kontribusinya, yaitu US$952,95 juta.
Berkaca dari KEK Pariwisata Mandalika (1.175 hektare), data BKPM menunjukkan bahwa 11 perusahaan telah melakukan komitmen bisnis dengan rencana investasi dari 1 lot sebesar US$71 juta. KEK Mandalika memiliki 141 lot yang dapat ditawarkan. Jika semua rencana investasi terwujud, setidaknya akan masuk dana Rp141 triliun. Jika dihitung dari data historis, diperkirakan 1 KEK Pariwisata bisa menarik investasi sedikitnya US$2,5 miliar (Rp35 triliun) untuk membangun seluruh ekosistem pariwisata (atraksi, aksesibilitas, dan amenitas).
Alhasil untuk mewujudkan 50 KEK Pariwisata hingga 2024, diperkirakan mampu menarik investasi (PMDN dan PMA) US$117 miliar (Rp1.750 triliun) di mana sebesar US$87,5 miliar (Rp1.225 triliun) dari sektor pariwisata.
Sektor pariwisata akan meningkatkan daya saing Indonesia dengan langkah nyata optimalisasi potensi yang selama ini belum dikelola secara terpadu. Oleh karena itu, strategi pembentukan KEK Pariwisata diharapkan menjadi solusinya.
Semoga dengan kolaborasi yang erat dari semua pihak, cita-cita ini dapat terwujud.
*Penulis merupakan Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Bali Baru & Ketua KEK
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
OJK mencatat 42 perusahaan multifinance memiliki NPF bruto di atas 5% pada Juli 2026, naik dari 38 perusahaan pada Juni.
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, serta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Aviary dome Gunungkidul di Giritirto baru 17%. Proyek ditargetkan rampung Desember 2026 dan seluruh kawasan diproyeksikan selesai 2029.
BMKG memprakirakan cuaca berawan hingga hujan ringan di sejumlah wilayah Indonesia serta mengingatkan potensi awan cumulonimbus.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Senin 21 September 2026 tersedia 10 perjalanan dari Stasiun Tugu dan Kutoarjo.