Panas Bumi Ungaran Dikembangkan, PLN Siapkan PLTP 55 MW
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Rhafidilla Vebrynda, Dosen Komunikasi Penyiaran Islam UMY
Baru-baru ini kita mendengar hasil studi Microsoft tentang Digital Civility Index (DCI) menyebut netizen (warganet) Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Hal ini tentunya membuat orang Indonesia khususnya warganet yang mendengarkan hasil studi tersebut tidak nyaman. Padahal, sering pula kita mendengar bahwa sebagai orang timur, kita menjunjung adat istiadat, tata krama, dan sopan santun.
Hal itu dapat dicontohkan dengan mencium tangan orang yang lebih tua, tidak berpelukan apalagi berciuman di depan umum, berpakaian tertutup, menggunakan sebutan yang terhormat, pak, ibu, mas, mbak dan lain-lain saat menulis, berbicara, berpidato, dan lain-lain.
Kita juga mengenal kebiasaan saling menyapa, menunduk kepala tanda hormat, saling mengirim makanan antar-tetangga, suka menolong dan karakter positif lainnya. Ternyata keyakinan terhadap hal itu tidak salah.
Nyatanya, memang ada survei yang menyebut orang Indonesia paling murah senyum (The Smiling Report) dan orang Indonesia paling religius (Survei Gallup dan Abt Associate 2019, yang dirilis Pew Research Center). Selain itu, survei Charities Aid Foundation (CAF) tahun 2018 menempatkan Indonesia di peringkat pertama sebagai negara yang paling murah hati di dunia dari 146 negara. Mengambil sampel 150 ribu orang dari 146 negara. Hasil dari survey 78% orang Indonesia senang mendonasikan hartanya pada orang lain, dan 53% penduduk Indonesia gemar menjadi relawan alias bekerja tanpa dibayar, meluangkan waktu untuk banyak pertemuan sosial, gotong royong, dan lain-lain.
Pada bulan suci Ramadan, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk dan fokus. Selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, puasa juga mengajarkan kita untuk tetap istikamah dalam beribadah, guna meraih pahala dan rida-Nya. Termasuk menahan diri dari mengunggah dan memosting segala sesuatu di media sosial kita, seperti berita bohong (hoaks), informasi tidak jelas, atau menuliskan kata-kata atau kalimat yang kurang sopan dan yang tidak bermanfaat.
Alangkah baiknya selama bulan puasa ini, kita belajar dan introspeksi dengan segala tingkah laku kita di dunia nyata maupun dunia maya. Kita sebagai hamba Allah yang dilahirkan dengan akal budi yang luhur di negara yang mengilhami budaya sopan dan santun terhadap sesama, tentunya kita harus saling menghormati kepada siapapun baik itu di dunia nyata maupun dunia maya.
Belajar dari hasil survei di atas tentunya kita perlu membenahi cara kita bersosial media, agar tetap menjaga kesantunan. Kesantunan itu kita peroleh dari buah kesabaran, kedewasaan berpikir, dan menjaga hati serta pikiran yang telah kita latih di bulan puasa Ramadan. Apalagi puasa Ramadan kita tahun ini masih dalam suasana yang prihatin dengan kasus Pandemi Covid-19 yang masih belum usai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Sebanyak 92.055 warga Gunungkidul terdampak kekeringan. Kapanewon Tepus menjadi wilayah terparah dengan 24.875 jiwa mengalami krisis air.
Disdag Jogja menggelar Gemati di 22 pasar selama Oktober 2026. Belanja minimal Rp20.000 berpeluang mendapat smartphone hingga sepeda.
Pemprov Jateng menyalurkan 75,4 juta liter air bersih ke 33 kabupaten/kota untuk membantu warga terdampak kekeringan.
Komisi XIII DPR menemukan miras di salah satu bangunan Lapas Cibinong. Sebanyak 10 bangunan di bantaran Ciliwung dibongkar.
Empat atlet Indonesia lolos final speed panjat tebing di Nagoya. FPTI membidik medali dan berharap podium dikuasai wakil Indonesia.