Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Safaah Restuning Hayati, Dosen Prodi Ekonomi Syariah FAI UMY
Kita menyaksikan, beberapa tahun terakhir Indonesia kerap dilanda bencana alam, mulai dari gempa hingga banjir bandang. Kemalangan menimpa mereka yang terdampak bencana. Belum lagi efek pandemi Covid-19 yang mengguncang sendi-sendi kehidupan, terutama dalam hal ekonomi. Sering kita mendengar cerita para karyawan dirumahkan dan sejumlah pengusaha gulung tikar karena dampak pandemi.
Mencermati kondisi tersebut, muncul perenungan di benak kita. Kiranya, solidaritas adalah kunci. Menghadirkan keinsyafan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Mereka yang “lapang” haruslah membantu yang “sempit”.
Selaras dengan perintah agama untuk saling tolong menolong, saling membantu dalam kebaikan. Solidaritas di sini hendaknya adalah solidaritas yang melampaui batas dan sekat, baik itu perbedaan suku, agama, ormas dan lain-lain. Sebab, hakikat solidaritas adalah memanusiakan manusia.
Solidaritas didasari rasa empati, dilandasi kemampuan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang yang lebih tidak beruntung dibanding kita. Spirit solidaritas idealnya mencapai puncak ketika bertemu dengan momentum bulan Ramadan. Di bulan yang mulia itu, kita merasakan lapar dan dahaga. Mengasah empati kita, merasakan apa yang dirasakan kaum papa. Setelah sepanjang tahun “merasa kenyang”, kita memerlukan “jeda”. Sebuah proses menjaga keseimbangan. Itulah salah satu hakikat puasa.
Solidaritas yang kuat tentu akan mengokohkan bangsa dan kemanusiaan kita. Kita beruntung, kita berada di era digital di mana kedermawanan mendapatkan kemudahan untuk disalurkan. Beragam platform dapat dengan mudah diakses. Sebagian rezeki yang kita miliki, yang sebetulnya bukan hak kita seluruhnya, dapat disedekahkan. Menjadi berharga bagi fakir miskin, anak yatim, korban bencana, korban pandemi dll. Menjadi sepercik cahaya di tengah gulita.
Data World Giving Index 2018 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk yang paling dermawan di dunia. Sedangkan data hasil survei terbaru Charities Aid Foundation (CAF) 2021 menunjukkan bahwa di tengah pandemi Covid-19 Indonesia menjadi negara paling dermawan di Asia. Selain itu, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mencatat peningkatan penghimpunan zakat sepanjang Ramadan tahun lalu sebesar 44%. Sedangkan Forum Zakat (Foz) pada 2020 menyatakan bahwa pengumpulan zakat mengalami kenaikan sebanyak 67% selama pandemi.
Data di atas tentu menjadi kabar gembira bagi kita. Semangat solidaritas terus bertumbuh di Indonesia, kedermawanan menjadi ruh berbangsa. Tugas kita selanjutnya adalah menjaga spirit itu, mengelola potensi itu dengan baik, juga memastikan telah disalurkan secara tepat. Teriring harapan, jangan sampai kedermawanan dan solidaritas hanya hadir di bulan Ramadan. Namun Ramadan menjadi pijakan agar sepanjang tahun kita memiliki rasa empati serta sikap suka menolong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Bareskrim ungkap jaringan judi online Ujangbet dengan transaksi Rp890 miliar. Modus deposit menggunakan pulsa. Polisi peringatkan orang tua awasi penggunaan HP
Pilih aplikasi pemutar musik terbaik sesuai kebutuhan: Spotify dan YouTube Music untuk streaming, AIMP dan Musicolet untuk file lokal.
Anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2027 naik menjadi Rp240 triliun untuk 60,6 juta penerima dengan pengawasan diperkuat.
Prabowo mengusulkan kewarganegaraan ganda terbatas bagi talenta istimewa. Simak aturan yang berlaku saat ini, syarat, batas usia, dan peluang perubahan UU Kewar
Prancis resmi melegalkan assisted dying bagi pasien dewasa dengan penyakit terminal setelah mendapat persetujuan Mahkamah Konstitusi. Simak syarat dan aturannya