OPINI: Melampaui Hajat Pangan Kita

OPINI: Melampaui Hajat Pangan Kita

Ilustrasi beras Bulog./Bisnis Indonesia-Dwi Prasetya

Belum habis cerita kelangkaan minyak goreng dan tempe, kini hadir varian ujian dengan naiknya harga pangan dunia yang berimbas langsung pada Indonesia. Pemerintah tidak sepenuhnya salah, efek dari invasi Rusia pada Ukraina berujung sanksi ekonomi berdampak langsung pada naiknya harga pasar.

Naiknya harga gas dunia sebagai balasan Rusia atas sanksi dapat memicu inflasi dalam negeri. Kehati-hatian bukan tidak mungkin semakin berat mengingat bulan suci Ramadan semakin dekat, masyarakat akan betul-betul tertekan jika harga dan ketersedian barang tetap minim.

Inflasi ini pada masa yang akan datang diprediksi diakibatkan oleh pengaruh peningkatan harga minyak mentah dunia saat ini sudah melampaui US$110 per barel. Berdasarkan riset yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPES UI) tingkat inflasi pada Maret 2022 meningkat dari angka 1,9% hingga 2,25% yang sangat rentan karena efek global.

Kebijakan ekonomi pada akhirnya menjadi soal pilihan, terutama dalam desakan masyarakat yang menganggap hal itu penting untuk disegerakan. Sebagaimana ekonomi Stanford University, Thomas Sowell, katakan bahwa materi soal kelangkaan merupakan pelajaran pertama dalam ekonomi. Tak semua keinginan dapat dipenuhi karena sumber daya terbatas.

Sedangkan pelajaran pertama dalam politik adalah bagaimana mengabaikan pelajaran pertama dalam ekonomi. Sindiran ini ada benarnya bahwa kita harus memilih cara untuk memulai mekanisme swasembada mandiri.

Pelik rasanya saat gambaran lahan dan kondisi alam ki­ta yang baik tidak mampu men­du­kung kebutuhan. Se­ring kita lupakan bahwa di­­men­­si negara modern ti­­dak saja cukup menjadi pro­­du­­sen IT atau jasa manufak­­tur, negara itu juga ha­­rus kuat dalam mempro­duk­si hasil pertanian.

Impor hasil produksi pertanian dari Indonesia sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia, termasuk negara-negara dengan pengembangan teknologi maju. Sebaliknya, dikenal negara agraris, Indonesia justru impor komoditas pangan dari negara maju, seperti daging, susu, jagung. Penataan ekonomi negara maju dikerjakan secara rapi sejak sektor hulu.

Hal ini harus dibaca sebagai respon membangun, karena dalam situasi yang panik kebijakan sering merumuskan solusi jangka pendek saja. Padahal secara berulang peristiwa kelangkaan pa­sok­an dan melambungnya harga pasaran memicu tingkat kepercayaan publik dan daya tahan masyarakat menjadi beban tambahan selanjutnya.

Berdaulat Pangan?

Pertanian merupakan ibu kandung pembangunan, bahkan sejumlah pakar ekonomi menyebutkan bahwa ekonomi negara akan berjalan cepat jika memaksimalkan pertanian. Sejauh ini pikiran sektor pertanian hanya dianggap sebagai mode pekerjaan yang cukup pada pemenuhan kebutuhan dasar (makan) atau material (memperoleh keuntungan), tapi terdapat bagian dari ritual dan sistem nilai yang memiliki mengakar kuat dalam kehidupan.

Ke depan konsumsi dan daya penghasil sumber pangan harus seimbang. Penurunan penghasilan dari sektor pertanian sebagian penurunan diakibatkan oleh migrasi dari pertanian bahan baku ke pertanian olahan. Sebagian penurunan juga diakibatkan oleh merosotnya produksi, misalnya jagung dan kedelai. Impor komoditas itu, selain gula, makin membesar dari waktu ke waktu.

Ada beberapa saran dalam melewati situasi ini agar tidak terjadi kembali. Pertama, kesulitan tataran bawah yakni minimnya subsidi pupuk pada petani, sehingga mereka juga tidak begitu berani mengambil risiko saat hasil panen tidak memenuhi kualifikasi pasar. Kedua, pemerintah harus meningkatkan hasil studi benih unggul dari lembaga BUMN yang masih dirasa rendah, serta memperluas kembali sebaran tanam, dengan mode kerja sama bagi hasil.

Selain poin di atas, petani sebagai satuan struktur penting dalam rangkaian pemenuhan ketersedian pangan jangan sampai ide penggantian varietas tanaman lokal dengan impor yang dikembangkan secara komersial meningkatkan ketergantungan petani pada penggunaan benih dan bahan kimia yang dibeli. Akhirnya mereka menyalurkan kekayaan dari petani kecil di seluruh dunia ke tangan agribisnis besar. Jika petani mengambil jeda untuk memproduksi, maka defisit ke arah lebih besar akan simultan terjadi.

Berangkat dari kenyataan pada masa depan bahwa bangsa ini akan menjadi lumbung pangan dunia, titik baliknya seharunya dimulai dari potret kreativitas petani dan kebijakan yang tidak timpang. Mengingat, perubahan iklimi ekonomi dunia yang acak dan sulit diprediksi, maka mau tidak mau Indonesia harus lebih maju dalam membangun pasarnya sendiri.

Kita tidak boleh selalu bergantung, karena dalam beberapa hal negeri ini sudah menjadi pemasok beberapa komoditas utama yang digunakan oleh industri berteknologi tinggi di negara- negara maju. Pada akhinya kita kembalikan lagi pada selera kebijakan ekonomi kita, apakah bertahan pada status quo atau berani melampauinya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online