Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Titis Wisnu Wijaya, Dosen Prodi Teknologi Informasi UMY
Marhaban Yaa Ramadan. Hari demi hari berlalu begitu cepat. Tak terasa Ramadan sudah menginjak hampir mencapai dua minggu. Semoga semangatnya akan tetap terpancar hingga akhir Ramadan nanti, Aamiin ya rabb. Selama Ramadan tentunya banyak sekali kegiatan dan aktivitas yang perlu disesuaikan supaya lebih optimal dalam melaksanakan ibadah puasa.
Apalagi kita masih dikelilingi virus Covid-19 yang tak kunjung mereda, otomatis kegiatan di luar pun masih terbatas mengingat masih belum kuatnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. Nah, untuk menghilangkan kejenuhan, maka media sosial menjadi teman terbaik dalam menjalani masa seperti sekarang ini. Namun, di saat bulan puasa ada baiknya kita mengurangi porsi bermedia sosial. Apakah ini perlu dilakukan? Kenapa ya kita sebaiknya ikut “puasa” bermedia sosial?
Kembali ke esensi puasa itu sendiri bahwa bukan hanya sekadar menahan rasa lapar dan dahaga semata, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk hal negatif seperti menjaga pikiran, lisan dan pandangan. Lalu apakah media sosial merupakan pemicu berkurangnya pahala puasa? Tidak juga. Dalam satu sisi, penggunaan media sosial membawa banyak manfaat di digital era ditambah lagi di masa pandemi seperti saat ini untuk saling mengucapkan salam hangat menyambut bulan Ramadan, video call dengan sanak saudara nan jauh di sana, saling chatting untuk melepas rindu karena tidak bisa bertemu. Sedih dan pilu dalam menahan rindu pun hilang seketika. Tapi tidak semua orang menyikapi penggunaan media sosial dengan hal yang positif. Pasti ada saja halangan ataupun godaan datang saat kita bermedia sosial. Oleh karenanya, tidak ada salahnya kita perlu puasa bermedia sosial paling tidak selama Ramadan.
Dengan puasa bermedia sosial, kita bisa terhindar dari sesuatu hal yang bisa membuat puasa kita jadi makruh. Misalnya, jika terlalu sering berselancar di media sosial dan ujungnya hanya membuang waktu, membuat hati menjadi iri melihat postingan orang lain, sehingga tidak tahan untuk bergibah dengan yang lain. Kita bisa menggunakan waktu untuk hal lain yang lebih berfaedah. Mulai membuat porsi dalam menggunakan media sosial sesuai kebutuhan saja. Gunakan gadget yang kita miliki untuk mendengarkan kajian, membaca Al-Qur’an melaui aplikasi, menambah hafalan surat-surat pendek, membaca artikel keagamaan dan banyak lagi hal bermanfaat lainnya. Atau mau yang lebih ekstrem coba uninstall media sosial favorit kita. Berat banget memang kalau yang satu ini. Pada intinya, kita hanya perlu memprioritaskan hal-hal yang dapat menambah keberkahan dalam menjalani ibadah puasa. Apakah tertarik untuk mencoba puasa bermedia sosial selama Ramadan? Semoga kita selalu terjaga kesehatan, keimanan dan keistikomahannya dalam menjalani ibadah puasa di bulan yang penuh dengan keberkahan ini. Stay safe and stay healthy. Aamin yaa rabbal aalamiin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
OpenAI bagikan 3 cara ChatGPT Work bantu UMKM: susun prioritas mingguan, buat konten dari foto produk, dan analisis laporan penjualan. Mulai dari pekerjaan ruti
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengapresiasi pertumbuhan kinerja PT Pegadaian (Persero) dalam Pidato Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR RI
Target droping air bersih BPBD Gunungkidul turun menjadi 800 tangki akibat efisiensi anggaran dan kenaikan BBM non-subsidi.
Social Research Centre (SOREC) dan Yayasan Jembatan Cahaya Kasih melakukan kajian mengenai kerentanan perempuan dan anak di Tanah Harapan, Koja dan Kalibaru
Hujan ekstrem melanda Prefektur Chiba, Jepang, menyebabkan enam orang tewas, 400.000 warga dievakuasi, dan ribuan penumpang terjebak di Bandara Narita.