Geger Boyolali! Mayat Pria Ditemukan Terkubur di Dapur
Penemuan jasad Pariman terkubur di dapur rumah di Boyolali gegerkan warga. Polisi masih selidiki penyebab kematian.
Restu Faizah/Dok. Pribadi
Untung rugi merupakan suatu keniscayaan, yang sering menjadi penimbang siapa saja yang akan memutuskan suatu sikap atau perbuatan yang akan diambil. Sebagai manusia normal, pasti akan memilih jalan yang menguntungkan dari pada jalan merugi.
Letak perbedaan antara satu orang dengan orang lain terletak pada standar atau tolok ukur yang digunakan untuk menimbang keuntungan dan kerugian tersebut. Hal ini sangat terkait dengan tujuan utama seseorang dalam mengarungi hidup ini.
Manakala hidupnya ditujukan untuk meraih kekayaan, maka dia akan merasa merugi jika apa yang dia lakukan tidak menambah jumlah kekayaannya. Demikian juga untuk tujuan-tujuan hidup lain, seperti kekuasaan, kepopuleran, status, harga diri, dan lain-lainnya. Namun Allah telah mengingatkan manusia, bahwa dari berbagai kesenangan hidup di dunia, maka Allahlah sebaik-baik tujuan, sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran ayat 14.
Sebagai bentuk apresiasi untuk manusia yang telah menjadikan Allah sebaik-baik tujuan, disebutkan oleh Allah dalam QS Al Hujurat ayat 13; “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
Untuk meraih derajat takwa, manusia dikenalkan dengan camp, training, atau latihan sebulan penuh di bulan Ramadan. Berbagai keutamaan bulan Ramadan sebenarnya sudah cukup menjadi daya tarik bagi manusia yang pada dasarnya bersifat kompetitif.
Ketakwaan
Barang siapa menjalankan semua ibadah di bulan Ramadan dengan sepenuh keimanan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan ketakwaan itu. Namun betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapat secuil apapun dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga.
Sungguh merugi seseorang yang telah memasuki bulan Ramadan, namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah, karena Ramadan adalah bulan istimewa, dan saat paling baik untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Allah telah menjadikan Ramadan sebagai bulan di mana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.
“Barang siapa melakukan puasa Ramadan semata-mata karena keimanan dan mencari ganjaran, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lebih dari itu, nabi Muhammad SAW juga menegaskan dalam sebuah HR. Muslim; “Salat lima waktu, ibadah Jumat hingga Jumat berikutnya, ibadah Ramadan hingga Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara waktu-waktu itu asalkan dosa-dosa besar dihindari.”
Dari hadis ini juga dipertegas bahwa antara dua bulan Ramadan terdapat penghapus dosa. Manakala seseorang dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan penuh keimanan, maka dia akan mendapatkan ampunan dosa-dosanya yang telah lalu.
Jika setiap Ramadan dia mendapatkan ampunan, bagaimana kondisinya saat dia akan menghadap kepada Allah kelak? Tentu saja sudah bersih dari dosa-dosa yang melekat di pudaknya. Betapa bahagianya orang yang mendapatkan keberuntungan ini.
Namun jika Ramadan hanya berlalu begitu saja, tanpa ada usaha untuk meraih keutamaannya, niscaya sesorang tidak akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya. Sementara itu tabiat dosa adalah terus bertambah.
Lalu bagaimana kondisi seseorang yang tidak pernah mendapatkan ampunan dari tahun ke tahun? Ibaratnya baju, jika dipakai terus tanpa pernah dicuci, maka kotoran akan terus bertambah. Lama-lama baju itu sudah tidak terlihat lagi warna aslinya, dan hanya terlihat noda-noda kotoran saja.
Lalu bagaimana orang yang demikian ini ketika menghadap Allah kelak? Dia akan menghadap Allah dengan membawa beratnya dosa yang menumpuk bertahun-tahun, dan menjadi pemberat bagi timbangan kirinya. Pada saatnya nanti orang ini akan merasa menyesal, namun nasi sudah menjadi bubur, daya upaya sudah tidak lagi diterima. Wallahu a’lam bish shawab.
Restu Faizah
Dosen Prodi Teknik Sipil FT UMY
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penemuan jasad Pariman terkubur di dapur rumah di Boyolali gegerkan warga. Polisi masih selidiki penyebab kematian.
Gempa Sukabumi Magnitudo 4,5 mengguncang Jawa Barat akibat aktivitas sesar aktif bawah laut, BMKG pastikan belum ada gempa susulan.
DPAD DIY mengakuisisi untuk mengelola arsip termasuk arsip pribadi, seniman, budayawan dan arsip-arsip yang menyimpan memori kolektif.
Identitas 11 bayi yang ditemukan di Pakem Sleman masih ditelusuri Pemkab Sleman untuk penerbitan dokumen resmi dan asal-usul bayi.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan utang luar negeri Indonesia triwulan I 2026 melambat, dengan rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5 persen.
KPK menjadwalkan ulang pemeriksaan Muhadjir Effendy dalam kasus dugaan korupsi kuota haji setelah saksi meminta penundaan.