Kepala BGN Jawab Desakan Hentikan MBG, Fokus Benahi Tata Kelola
Kepala BGN Sudaryono menegaskan Program Makan Bergizi Gratis tidak dapat dihentikan oleh BGN karena merupakan program Presiden Prabowo Subianto.
Hijriyah Oktaviani/Dok. Pribadi
Penulis seketika terhenyak mendengar tausiah seorang ustaz di media sosial yang mengkritik perilaku kebanyakan umat Islam yang menjadikan bulan Ramadan justru menjadi bulan boros. Bulan suci yang semestinya diisi dengan ibadah yang semakin meningkat namun justru dipenuhi dengan sejumlah keinginan memenuhi nafsu kebutuhan yang justru tidak terjadi di 11 bulan lainnya.
Beliau pun mencontohkan kebiasaan lain dalam memenuhi hidangan buka. Sebagai contoh adalah ketika masuk waktu berbuka puasa. Aneka menu takjil buka puasa terhidang di meja makan. Segala jenis es mulai dari es buah, es sirop, es oyen, es teler, bahkan kolak, mulai dari kolak pisang, kolak ubi dan masih banyak lagi. Belum lagi aneka menu makanan lainnya.
Menu buka puasa itu pun seolah menjadi ajang aksi ”balas dendam” setelah seharian tidak makan dan tidak minum, menahan lapar dan dahaga. Seperti sedang terbebas akhirnya bisa makan dan minum sepuasnya ketika tiba waktu berbuka. Terlihat bahwa pengeluaran kebutuhan hidup selama Ramadan bukannya berkurang, malah bisa menjadi lebih besar. Padahal, bukan demikian semestinya dalam mengisi bulan Ramadan.
Hal ini tentu saja menimbulkan keprihatinan mendalam. Umat muslim punya tanggung jawab moral untuk kembali pada jalur yang benar dalam memaknai Ramadan. Euforia selama Ramadan sering keluar dari yang seharusnya. Sering kita jumpai justru pada jam-jam ibadah, kita berbondong memadati mal-mal, memburu diskon pakaian. Belum lagi masyarakat berbondong-bondong memburu uang baru nan mulus yang mungkin bukan merupakan sedekah biasa, melainkan sudah menjadi “gaya hidup baru” yang semoga bukan karena memenuhi gengsi.
Perenungan Bersama
Fenomena ini tentu menjadi bahan perenungan kita, mengapa hal ini terjadi, dan siapa yang bertanggung jawab? Bahkan pada saat yang sama, di masjid dan musala, ceramah, pengajian, atau pencerahan lain juga secara aktif diselenggarakan.
Dalam kehidupan berkeluarga, tuntutan pengeluaran demi gaya hidup ini bisa menimbulkan perselisihan rumah tangga. Sangat mungkin terjadi ada suami yang tidak dapat memenuhi target-target anggaran di bulan Ramadan dan Lebaran akan menjadi pemicu komplain sang istri. Fenomena umat muslim selama bulan puasa akan sampai pada satu titik puncak, yakni Hari Raya Idulfitri. Hari raya yang sebenarnya sebagai hadiah besar atau kemenangan bagi umat yang sabar menghadapi peperangan hawa nafsu, berubah menjadi ajang adu gengsi. Tradisi mudik yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi namun bisa menjadi ajang memperlihatkan capaian-capaian selama meninggalkan kampung halaman.
Menurut sang ustaz, perilaku demikian jelas bertolak belakang dengan orang-orang yang telah mencapai titik spiritualitas keimanan. Orang-orang demikian justru merasa sedih saat Ramadan berlalu. Mereka ini justru merasa belum bisa menghadirkan perilaku yang sebanding dengan keagungan dan kesucian Ramadan, dan belum tentu kita akan bertemu kembali dengan Ramadan di tahun depan.
Lantas, bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk dalam kelompok demikian? Ataukah Ramadan hanya akan menjadi rutinitas dengan sejumlah ironi gaya hidup yang berulang setiap tahun? Wallahualam bish shawab.
Hijriyah Oktaviani
Kepala Biro Humas dan Protokol UMY
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kepala BGN Sudaryono menegaskan Program Makan Bergizi Gratis tidak dapat dihentikan oleh BGN karena merupakan program Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah Indonesia melobi AS agar minyak sawit dikecualikan dari tarif tambahan 10 persen. Airlangga menyebut proses di USTR masih berlangsung.
Polda Metro Jaya menetapkan tujuh tersangka bentrokan Pegangsaan. Warga dan keluarga korban sepakat menjaga kondusivitas serta mendukung proses hukum.
Jadwal KRL Solo-Jogja Selasa 28 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Cek 12 jadwal perjalanan dan tarif tetap Rp8.000.
Kemkomdigi meminta publik melihat utuh pernyataan Presiden Prabowo soal "londo ireng" dan menegaskan tidak ditujukan kepada profesi atau kelompok tertentu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 28 Juli 2026 tersedia dengan 15 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur.