Ratusan Naskah Kuno Ditemukan di Rumah Kosong di Boyolali
Pemkab Boyolali menemukan ratusan naskah kuno koleksi Cipto Raharjo. Sebagian telah didigitalisasi untuk pelestarian.
Dr. Dyah Pikanthi Diwanti, SE, MM, Dosen Prodi Ekonomi Syariah FAI UMY/ Istimewa
Sebuah narasi kehidupan memberi pesan bahwa kesuksesan di masa depan dibangun dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. Hal ini tentunya sejalan dengan kondisi saat ini ketika banyak fenomena inspiratif tumbuh di masyarakat dimulai dari kebiasaan/amalan orang-orang hebat atau tokoh sukses.
Kebiasaan baik yang dilakukan secara berkelanjutan membuka jalan kesuksesan. Kesuksesan itu sendiri bukan hanya membangun kesejahteraan pada umumnya namun membawanya menjadi sosok yang berakhlak baik. Hal mendasar yang perlu dijaga adalah bagaimana menjaga kebiasaan baik untuk tetap dipertahankan dan dilanjutkan. Sebagaimana istiqamah menjadi bagian penting dalam menjalankan amalan kebaikan.
Di saat seseorang sudah mencapai apa yang dicita-citakan, hal yang perlu untuk tetap dijaga adalah bagaimana kualitas kebaikan semakin ditingkatkan. Demikian juga dengan kebiasaan yang dibangun di bulan Ramadan. Hal-hal yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi pembiasaan yang berkelanjutan di bulan setelah Ramadhan.
Selama kebiasaan-kebaikan berupa amalan baik itu belum dimulai, maka akan ada halangan yang menjadikan kebiasaan baik tersebut tidak terwujud. Lantas, bagaimana melatih kebiasaan dalam amalan, berikut ini beberapa upaya yang bisa dimulai untuk menjadikannya pembiasaan baik.
Pertama, mulailah membiasakan untuk berpikir bahwa amalan yang dilakukan saat ini adalah semata untuk mencari keridhaan Allah SWT, dengan melatih pikiran untuk selalu berfokus pada masa depan (bervisi akhirat). Sebagaimana sebuah ungkapan yang menyebutkan apa yang menjadi kebiasaan akan menjadi identitas/apa yang dikenali dari seseorang. QS Al.Hasyr ayat 18 menerangkan, “Bertakwalah kepada Allah SWT dan hendaklan setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok/akhirat.”
Kedua, belajar untuk keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan keberkahan. Sebagaimana yang digambarkan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib, “Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin maka masuk dalam golongan yang beruntung, dan barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin termasuk golongan yang merugi, serta barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka bagian dari orang yang celaka.” Muhasabah akan menjadi kontrol diri yang terbaik dalam membuat langkah kebaikan yang akan dan terus dilakukan.
Ketiga, membuat kurikulum diri yang berkualitas. Allah SWT menyebutkan dalam QS An-Najm: 39. “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang diusahakannya.” Maka sudah sepantasnyalah sebagai umat Islam agar selalu berupaya mencari karunia Allah SWT dengan jalan kebaikan dan sesuai dengan yang telah disyariatkan.
Demikian upaya dalam membangun magnet kebaikan di bulan Ramadan melalui kebiasaan-kebiasaan baik sesuai tuntunan agama. Wallahu a’lam bisshowab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Boyolali menemukan ratusan naskah kuno koleksi Cipto Raharjo. Sebagian telah didigitalisasi untuk pelestarian.
Iran mengajukan syarat kepada AS untuk membuka Selat Hormuz, termasuk penghentian perang dan pengembalian aset yang dibekukan.
Polda Metro Jaya ekshumasi makam Sutrimo di Banyumas untuk penyidikan. Jenazah diperiksa guna mengungkap penyebab kematian.
Sebanyak 106 penumpang KMP Putri Yasmin yang terbakar di Selat Lombok berhasil dievakuasi ke Pelabuhan Lembar dan Padangbai.
Ariana Grande mengejutkan penggemar setelah memutuskan mengurangi aktivitas publik di tengah kesuksesan album Petal yang menempati posisi pertama Billboard 200.
Kemendikdasmen membuka Beasiswa BPI GTK 2026 bagi guru, calon guru, dan tenaga kependidikan. Simak syarat, jadwal pendaftaran, komponen bantuan, dan cara mendaf