SE Mendikdasmen Terbit, 549 Guru Honorer Sragen Terancam Tergusur
Sebanyak 549 guru honorer di Sragen terancam berhenti mengajar pada 2027 usai terbit SE Mendikdasmen No. 7/2026.
Ratna Sari, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Bulan Ramadan adalah momen penuh keberkahan dan pembelajaran, tidak hanya untuk orang dewasa tetapi juga bagi anak-anak. Selain meningkatkan ibadah, Ramadan dapat dimanfaatkan sebagai momen penting untuk menanamkan nilai-nilai positif, termasuk keterampilan regulasi emosi.
Regulasi emosi, menurut Gross, adalah kemampuan seseorang untuk memantau, mengevaluasi, dan mengubah respons emosional agar sesuai dengan situasi. Kemampuan ini sangat penting bagi anak, khususnya dalam menghadapi tantangan saat berpuasa di bulan Ramadan, seperti rasa lapar, lelah, marah, atau bosan.
Selama Ramadan, anak-anak yang sedang berlatih puasa akan menghadapi situasi yang menguji kesabaran dan kemampuan mereka dalam mengelola emosi. Orang tua berperan besar dalam membantu anak-anak memahami dan mengendalikan perasaan tersebut dengan cara yang sehat dan positif.
Langkah pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah membantu anak mengenali dan menyebutkan emosi yang mereka rasakan. Dalam teori kecerdasan emosional yang dikembangkan oleh Daniel Goleman, kesadaran diri (self-awareness) merupakan langkah awal dalam membangun regulasi emosi yang baik.
Orang tua dapat mulai dengan mengajak anak berbicara tentang perasaan mereka setiap saat; saat sahur, ketika menunggu waktu berbuka, atau setelah menjalankan aktivitas ibadah bersama. Misalnya dengan bertanya, “Bagaimana perasaanmu hari ini saat menunggu berbuka?” atau “Apa yang membuatmu senang saat Ramadan?” Dengan melatih anak mengenali emosi, mereka akan lebih mudah memahami bahwa perasaan seperti marah, sedih, atau kecewa adalah wajar dan dapat dikendalikan.
Langkah kedua adalah mengajarkan strategi mengelola emosi dengan bijak. Salah satunya melalui pendekatan cognitive reappraisal yang dikemukakan Gross, yaitu membantu anak melihat situasi dari sudut pandang yang lebih positif.
Misalnya, saat anak merasa kesal karena lapar, orang tua dapat membantu mereka untuk memahami bahwa menahan diri adalah bagian dari latihan kesabaran dan ibadah yang bernilai pahala.
Selain itu, teknik relaksasi sederhana seperti menarik napas dalam-dalam, berzikir, atau melakukan aktivitas menyenangkan seperti menggambar juga bisa diajarkan untuk menenangkan diri.
Momen Ramadan juga dapat digunakan untuk menanamkan empati dan kontrol diri, yang sesuai dengan komponen self-regulation dalam teori kecerdasan emosional. Melibatkan anak dalam kegiatan berbagi takjil atau sedekah dapat membangun empati. Sementara itu, membacakan kisah-kisah Nabi dan Rasul tentang kesabaran dan pengendalian diri, juga akan menjadi inspirasi berharga bagi anak.
Terakhir, berikan apresiasi dan pujian setiap kali anak berhasil mengelola emosinya dengan baik.
Berdasarkan teori penguatan dari B.F. Skinner, perilaku yang diberikan penguatan positif cenderung akan dilakukan kembali. Ucapan sederhana seperti, “Ibu bangga kamu bisa sabar menunggu waktu berbuka,” akan menambah rasa percaya diri anak dan memperkuat kebiasaan baik yang sudah dilakukan. Selain pujian verbal, pelukan hangat atau senyuman tulus juga dapat menjadi bentuk penghargaan yang bermakna bagi anak.
Dengan pendampingan yang sabar dan konsisten, Ramadan akan menjadi momen istimewa untuk melatih keterampilan regulasi emosi anak, yang akan bermanfaat bagi kehidupan mereka di masa depan.
Lebih dari itu, orang tua dapat menjadikan Ramadhan sebagai waktu untuk membangun komunikasi yang hangat dan berkualitas bersama anak, sehingga mereka merasa dihargai dan dipahami.
Hubungan yang kuat antara orang tua dan anak akan menjadi fondasi utama dalam perkembangan kecerdasan emosional dan karakter positif anak, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang hidupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 549 guru honorer di Sragen terancam berhenti mengajar pada 2027 usai terbit SE Mendikdasmen No. 7/2026.
Amerika Serikat disebut telah menghabiskan Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah Februari 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Festival Dalang Cilik Kulonprogo menjadi ajang regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya wayang di kalangan pelajar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan
Kelurahan Patangpuluhan Jogja memperkuat literasi gizi keluarga lewat pelatihan B2SA untuk mempertahankan nol kasus stunting.