Ratusan Naskah Kuno Ditemukan di Rumah Kosong di Boyolali
Pemkab Boyolali menemukan ratusan naskah kuno koleksi Cipto Raharjo. Sebagian telah didigitalisasi untuk pelestarian.
Ratna Sari, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Bulan Ramadan adalah momen penuh keberkahan dan pembelajaran, tidak hanya untuk orang dewasa tetapi juga bagi anak-anak. Selain meningkatkan ibadah, Ramadan dapat dimanfaatkan sebagai momen penting untuk menanamkan nilai-nilai positif, termasuk keterampilan regulasi emosi.
Regulasi emosi, menurut Gross, adalah kemampuan seseorang untuk memantau, mengevaluasi, dan mengubah respons emosional agar sesuai dengan situasi. Kemampuan ini sangat penting bagi anak, khususnya dalam menghadapi tantangan saat berpuasa di bulan Ramadan, seperti rasa lapar, lelah, marah, atau bosan.
Selama Ramadan, anak-anak yang sedang berlatih puasa akan menghadapi situasi yang menguji kesabaran dan kemampuan mereka dalam mengelola emosi. Orang tua berperan besar dalam membantu anak-anak memahami dan mengendalikan perasaan tersebut dengan cara yang sehat dan positif.
Langkah pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah membantu anak mengenali dan menyebutkan emosi yang mereka rasakan. Dalam teori kecerdasan emosional yang dikembangkan oleh Daniel Goleman, kesadaran diri (self-awareness) merupakan langkah awal dalam membangun regulasi emosi yang baik.
Orang tua dapat mulai dengan mengajak anak berbicara tentang perasaan mereka setiap saat; saat sahur, ketika menunggu waktu berbuka, atau setelah menjalankan aktivitas ibadah bersama. Misalnya dengan bertanya, “Bagaimana perasaanmu hari ini saat menunggu berbuka?” atau “Apa yang membuatmu senang saat Ramadan?” Dengan melatih anak mengenali emosi, mereka akan lebih mudah memahami bahwa perasaan seperti marah, sedih, atau kecewa adalah wajar dan dapat dikendalikan.
Langkah kedua adalah mengajarkan strategi mengelola emosi dengan bijak. Salah satunya melalui pendekatan cognitive reappraisal yang dikemukakan Gross, yaitu membantu anak melihat situasi dari sudut pandang yang lebih positif.
Misalnya, saat anak merasa kesal karena lapar, orang tua dapat membantu mereka untuk memahami bahwa menahan diri adalah bagian dari latihan kesabaran dan ibadah yang bernilai pahala.
Selain itu, teknik relaksasi sederhana seperti menarik napas dalam-dalam, berzikir, atau melakukan aktivitas menyenangkan seperti menggambar juga bisa diajarkan untuk menenangkan diri.
Momen Ramadan juga dapat digunakan untuk menanamkan empati dan kontrol diri, yang sesuai dengan komponen self-regulation dalam teori kecerdasan emosional. Melibatkan anak dalam kegiatan berbagi takjil atau sedekah dapat membangun empati. Sementara itu, membacakan kisah-kisah Nabi dan Rasul tentang kesabaran dan pengendalian diri, juga akan menjadi inspirasi berharga bagi anak.
Terakhir, berikan apresiasi dan pujian setiap kali anak berhasil mengelola emosinya dengan baik.
Berdasarkan teori penguatan dari B.F. Skinner, perilaku yang diberikan penguatan positif cenderung akan dilakukan kembali. Ucapan sederhana seperti, “Ibu bangga kamu bisa sabar menunggu waktu berbuka,” akan menambah rasa percaya diri anak dan memperkuat kebiasaan baik yang sudah dilakukan. Selain pujian verbal, pelukan hangat atau senyuman tulus juga dapat menjadi bentuk penghargaan yang bermakna bagi anak.
Dengan pendampingan yang sabar dan konsisten, Ramadan akan menjadi momen istimewa untuk melatih keterampilan regulasi emosi anak, yang akan bermanfaat bagi kehidupan mereka di masa depan.
Lebih dari itu, orang tua dapat menjadikan Ramadhan sebagai waktu untuk membangun komunikasi yang hangat dan berkualitas bersama anak, sehingga mereka merasa dihargai dan dipahami.
Hubungan yang kuat antara orang tua dan anak akan menjadi fondasi utama dalam perkembangan kecerdasan emosional dan karakter positif anak, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang hidupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Boyolali menemukan ratusan naskah kuno koleksi Cipto Raharjo. Sebagian telah didigitalisasi untuk pelestarian.
Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menyebut koruptor dapat dijatuhi hukuman mati sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.
Pemerintah mulai mempercepat langkah antisipasi terhadap potensi ancaman keamanan siber seiring perkembangan teknologi komputasi kuantum.
Korban gempa Kolombia bertambah menjadi 190 orang. Sebanyak 1.679 orang terluka dan ratusan masih terjebak di bawah reruntuhan.
Investasi pariwisata DIY mencapai Rp378,14 miliar hingga semester I 2026, tetapi turun 75,40% pada Triwulan II.
Kawasan olahraga Cangkring mulai ditata jelang Porda DIY 2027. DPRD Kulonprogo meminta persiapan dilakukan matang, termasuk UMKM dan penginapan.