6 Penyelam Basarnas Cari Korban di Dalam KM Virgo Transport 8
Basarnas mengerahkan enam penyelam untuk mencari korban KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa.
Ilustrasi. /Reuters
Sepanjang rentang peradaban zaman yang berubah dan semakin maju, saat ini kita berada pada zona Revolusi Industri 4.0. Istilah ini masih belum di ketahui banyak orang. Bagi pendidik dan peserta didik disiapkan untuk menciptakan ide kreatif dan dengan menggunakan kemampuan teknologi. Pendidikan 4.0 adalah suatu program yang di rancang untuk mewujudkan pendidikan yang cerdas dan kreatif. Pendidikan 4.0 menghasilkan empat aspek yang sangat di butuhkan di era milenial ini yaitu kolaboratif, komunikatif, berfikir kritis dan kreatif.
Bicara mengenai zona Revoluasi Industri 4.0, di sini ada sistem literasi yang bagus untuk anak usia dini. Sebelumnya saya akan menjelaskan terkait literasi. Literasi adalah pendidikan yang mengajarkan kepada anak usia dini untuk membaca, menulis, berpikiran kritis terhadap lingkungannya. Peran literasi sangat berpengaruh bagi perkembangan anak usia dini. Maka dari itu anak harus di dorong atau istilahnya di berikan stimulus, sehingga kemampuan literasi anak dapat meningkat. Mereka harus di dorong agar berpikir kritis terhadap lingkungannya sehingga tidak tertinggal dengan perkembangan zaman.
Menurut Joyce, Weil & Chalhoun (2004) mengemukakan anak belajar literasi secara imiah. Dengan demikian periode literasi anak mulai dari lahir sampai dengan usia enam tahun. Pada periode tersebut anak memperoleh literasi tidak melalui pengajaran, tetapi melalui perilaku yang sederhana dengan mengamati dan berpartisipasi pada aktivitas yang berkaitan dengan literasi.
Pada era zona Revoluasi Industri 4.0, terjadi pemerosotan pada kemampuan literasi anak usia dini. Seperti literasi di era digital, kurangnya pendampingan dan arahan orang tua untuk mengawasi anak saat menjelajahi dunia Internet. Saat anak di bebaskan menjelajahi dunia Internet tanpa adanya dampingan dan arahan, maka dikahawatirkan anak akan terperosot dalam pikiran atau perilaku yang negatif.
Secara tidak sengaja orang tua telah membiarkan sistem kerja otak anak rusak, yang padahal otak anak itu dapat berkembang dengan bagus ketika memperoleh ilmu pengetahuan yang positif, akibatnya moral tidak terbentuk dengan baik, emosional anak yang tidak terkenadali dan timbulnya halusinasi negatif yang akan tumbuh dalam pikiranya yang tidak kita ketahui.
Orangtua harus meluangkan waktu untuk mengawasi dan megarahkan anak untuk memberikan pengertian tentang hal yang baik maupun yang tidak baik. Orang tua harus lebih peduli terhadap kehidupan anaknya, memperhatikan perkembangannya, apa yang sedang dia lakukan dan apa yang sedang dimainkan.
Pentingnya penanaman literasi pada anak sejak dini, supaya kekhawatiran anak terperosot dalam pikiran dan perilaku negatif terhadap dunia Internet, yaitu dengan cara peran orang tua meluangkan waktu untuk mengawasi dan memberikan pendidikan yang benar sehingga karakter anak terbentuk dengan baik.
*Penulis merupakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Basarnas mengerahkan enam penyelam untuk mencari korban KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa.
Pemkab Kulonprogo merotasi sejumlah pejabat dan mengisi jabatan kosong dengan mengoptimalkan manajemen talent pool ASN.
Maarten Paes menyebut suporter menjadi pemain ke-11 Timnas Indonesia saat bermain 10 orang melawan Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal KSPN Jogja ke Gunungkidul Senin 29 September 2026 tersedia untuk rute Obelix Sea View dan Pantai Drini.
Kemenkop menjelaskan alasan manajer Kopdes Merah Putih tak selalu ditempatkan sesuai domisili dan mekanisme penempatannya.
Kejurda Esports DIY 2026 diikuti 209 atlet dan menjadi ajang penjaringan bibit untuk Porda 2027 serta PON 2028.