HIKMAH RAMADAN: Hikmah Ekologis Pandemi Covid-19

Ilustrasi menanam pohon - JIBI
07 Mei 2020 18:02 WIB David Efendi Hikmah Ramadan Share :

Ramadan di tengah pandemi bagi sebagian besar anak muda adalah pengalaman baru. Kaum milenial hari ini tidak punya jejak pengalaman pandemi yang pernah terjadi di planet Bumi. Orang-orang yang pernah mengalami pandemi global sebagian besar telah tiada.

Tapi pandemi Covid-19 telah memberikan banyak pelajaran dan hikmah. Hikmah terbaik hanyalah dapat diterima oleh orang-orang berfikir yang mendayagunakan kekuatan akal untuk membaca dan memahami ayat-ayat kauniyah. Ya. Corona adalah ayat-ayat Allah yang ditunjukkan kepada manusia agar menjadi pembelajaran.

Dalam kesempatan ini penulis mencoba menggali hikmah di balik wabah Covid-19 di mana di saat ummat islam seluruh dunia yang berjumlah 1,3 miliar sedang menjalani puasa. Pertama, pandemi ini mengajarkan kekuasaan Allah yang senantiasa mempertahankan keseimbangan kehidupan (mizan) dengan memberikan kesempatan self-healing bagi planet Bumi.

Semua kejadian ini tidak ada yang tidak terkendali oleh mekanisme Ilahi. Belum lama ini banyak foto luar angkasa menunjukkan planet Bumi makin sehat akibat manusia di rumah aja atau di karantina. Puasa pun seharusnya punya makna demikian sebagai karantina untuk mencegah kerusakan.

Kedua, pandemi ini punya makna menjaga ekologi alami dan ekologi manusia. Dengan keadaan mencekamnya pandemi, secara umum seharusnya konsumsi berkurang, konsumsi BBM, konsumsi berlebihan pesta, dan sebagainya. Lockdown berbagai negara, kota kota, kampus kampus, acara acara acara akan mengurangi jatuhnya sampah sampah yang menggunung di berbagai sudut kota dan pinggiran. Sebagian besar orang akan masak sendiri, mendayagunakan kekuatan lokal, pangan lokal, berhemat, bersolidaritas dengan tetangga dan komunitas, kita pasti bisa bertahan jika solidaritas sosial dan ekonomi benar-benar diberlakukan.

Pesan Tuhan
Covid-19 jelas memberikan pelajaran agar manusia menjaga keselamatan alam. Virus yang muncul di bawa hewan yang habitatnya di hutan liar yang semakin terpinggirkan oleh aktivitas manusia. Artinya, pandemi di masa depan akan semakin parah seiring kerusakan lingkungan akibat ulah tangan manusia.

Alquran banyak memberikan peringatan akan peran kekalifahan manusia agar menjadikan Bumi sebagai masjid, dimuliakan dan dimakmurkan. Salah satu hadis mengadvokasi pentingnya menjaga lingkungan hidup tempat tinggal dan bergantung semua makluk. Nabi meminta kita memakmurkan Bumi dengan menanam walau kita dalam keadaan yang krisis. Yang Artinya: “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari&Ahmad).

Ayat ayat kauniyah itu tak pernah habis ditulisNya. Ia senantiasa mengajarkan kepada manusia agar berlaku baik kepada alam dan manusia. Banyak isyarat bagi manusia yang mau merenung dan memikirkannya.

Dalam agama Hindu mengenal nyepi, dalam Islam dikenal juga puasa, dimana ibadah ini adalah cara bertahan dari kehancuran, cara spiritual memperkuat daya tahan dari overdosis produksi atau konsumsi yang dapat menghancurkan. Covid-19 selain mengajarkan pentingnya jeda untuk keseimbangan alam semesta, juga membenarkan agama-agama dapat memperbaiki hubungan manusia dengan alam semesta termasuk dalam menghadapi Corona ini.

Di Bali, masyarakat terlatih Nyepi sebagai jeda dari kerusakan yang tak terkendali. Umat Islam seharusnya juga terlatih untuk menahan diri (berpuasa) dari segala godaan duniawi sehinggga di masa krisis harapannya ummat islam menjadi solusi, bukan malah jadi perkara yang menyebalkan. Wallahu álam.

*Penulis merupakan dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta