Advertisement

Histamin Tak Ikut Puasa: Mengelola Alergi Tanpa Mengganggu Ibadah

apt. Putri Rachma Novitasari, M.Pharm.Sci. – Dosen Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan
Rabu, 25 Februari 2026 - 11:37 WIB
Sunartono
Histamin Tak Ikut Puasa: Mengelola Alergi Tanpa Mengganggu Ibadah apt. Putri Rachma Novitasari, M.Pharm.Sci. Dosen Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan

Advertisement

Ramadhan mengajarkan kita menahan diri: dari lapar, haus, amarah, juga kebiasaan yang kurang baik. Tetapi ada satu hal yang sering “tidak paham jadwal”: alergi. Ia bisa datang tiba-tiba—bersin beruntun menjelang Zuhur, hidung mampet saat tarawih, mata gatal ketika tadarus, atau kulit bentol-bentol setelah seharian beraktivitas.
Di titik ini, banyak orang terjebak pada dilema yang sebenarnya tidak perlu: minum obat takut mengganggu puasa, tidak minum obat ibadah jadi tidak khusyuk. Padahal, persoalannya bukan “boleh atau tidaknya” semata, melainkan cara kita memahami mekanisme alergi dan mengatur waktu pengobatan secara bijak.
Pengetahuan sederhana terkait mekanisme obat menjadi sangat penting, karena alergi bukan sekedar sesuatu tanpa proses biologis yang jelas. Alergi Itu Ada Alurnya: Dari Alergen, Histamin, Sampai Gejala.
Penyebab alergi adalah alergen. Alergen bisa berupa debu, suhu udara, serbuk sari, bulu hewan, makanan tertentu, atau pemicu lain. Saat alergen masuk, tubuh menganggapnya “ancaman”. Tubuh merespons lewat sel mast (bagian dari sistem imun). Sel ini lalu melepaskan histamin—zat kimia yang memicu rangkaian keluhan alergi. Histamin kemudian menempel pada reseptor H1 di sel tubuh. Di sinilah masalah dimulai—muncul gejala gatal dan bentol pada kulit atau gejala bersin dan pilek pada saluran napas. Saat itulah antihistamin diminum untuk “mengganggu rencana” histamin.
Mekanisme antihistamin adalah blokade reseptor. Ini bagian yang sering disalahpahami. Antihistamin bukan “mematikan alergi”, melainkan menduduki reseptor H1 sehingga histamin tidak bisa menempel dan bekerja. Singkatnya: histamin datang, pintunya sudah dikunci oleh antihistamin. Jika reseptor H1 terblokade, reaksi alergi berkurang dan tubuh terasa lebih nyaman kembali—yang dalam bahasa sehari-hari: lega.
Antihistamin ada yang tergolong Generasi 1 dan Generasi 2, lalu kenapa ada antihistamin yang bikin ngantuk? Saat puasa kantuk menjadi hal yang sulit dihindari. Antihistamin Generasi 1, cenderung lebih mudah menembus otak, sehingga bisa menimbulkan kantuk. Contoh yang sering dikenal masyarakat: CTM. Ini bukan berarti buruk—tetapi efek sampingnya perlu dipertimbangkan, terutama bagi yang harus bekerja, berkendara, atau beribadah panjang. Antihistamin Generasi 2, tidak mudah menembus otak, sehingga umumnya tidak atau lebih ringan menyebabkan kantuk.
Contoh: cetirizine (pada sebagian orang tetap bisa mengantuk, jadi respons tiap orang bisa berbeda). Menurut saya, bagian ini sering dilupakan. Banyak orang merasa “obat alergi bikin lemas”, lalu menyimpulkan obatnya tidak cocok—padahal bisa jadi jenisnya memang cenderung sedatif dan waktu minumnya yang kurang tepat.
Lalu cara meminum antihistamin saat puasa? Kuncinya: atur jadwal, jangan asal tahan. Kalau obatnya diminum (tablet/kapsul/sirup), maka logikanya sederhana: ia butuh air dan ditelan—berarti dilakukan di luar jam puasa, yaitu saat berbuka hingga sebelum imsak.
Hal yang perlu disesuaikan adalah frekuensi minumnya: jika obatnya 1 kali sehari, pilihan yang biasanya paling nyaman—setelah berbuka atau malam sebelum tidur, terutama bila obat membuat “mengantuk”.
Saat sahur bila keluhan dominan muncul di siang hari, dengan catatan: kamu sudah tahu obat tersebut tidak mengganggu konsentrasi. Jika obatnya 2 kali sehari, maka pola paling masuk akal: 1 dosis saat berbuka dan 1 dosis saat sahur. Ini juga lebih mudah diingat dan menjaga jeda dosis tetap teratur.
Jika obatnya 3 kali sehari atau lebih, maka jangan “mengakali” dosis sendiri. Lebih aman berkonsultasi ke dokter atau apoteker untuk opsi yang durasinya lebih panjang atau cukup 1–2 kali sehari. Karena mengubah pola minum obat tanpa arahan bisa membuat keluhan tidak terkendali—atau sebaliknya, memicu efek samping.
Ramadhan bukan alasan membiarkan pemicu alergi berkeliaran. Obat membantu, tetapi pemicu yang dibiarkan akan membuat kita bolak-balik minum obat. Langkah sederhana yang sering efektif: pakai masker saat bersih-bersih atau berada di tempat berdebu, mandi/keramas setelah dari luar (atau minimal bilas wajah), ganti seprai dan sarung bantal rutin, kurangi pemakaian pewangi menyengat jika itu pemicu, cukupkan cairan saat berbuka–sahur (bertahap, jangan sekaligus). Ikhtiar kecil ini, dalam banyak kasus, justru lebih “menghemat obat” daripada sekadar mengandalkan obat.
Menahan diri itu ibadah, menunda pertolongan bukan kebajikan. Puasa mengajarkan disiplin, tetapi tidak mengajarkan kita menutup mata pada kesehatan. Memahami mekanisme alergi—alergen memicu histamin, histamin menempel ke reseptor H1, antihistamin memblok reseptor H1—membuat kita lebih tenang: alergi itu bisa dikelola, bukan ditantang dengan nekat. Terakhir, ini penting: bila alergi disertai sesak napas, bengkak di wajah/leher, atau reaksi yang terasa berat, jangan memaksakan diri. Itu sudah masuk wilayah yang perlu pertolongan medis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Top Ten News Harianjogja.com Edisi Rabu 25 Februari 2026

Top Ten News Harianjogja.com Edisi Rabu 25 Februari 2026

Jogja
| Rabu, 25 Februari 2026, 11:22 WIB

Advertisement

Influencer Brasil Bianca Dias Meninggal Seusai Operasi

Influencer Brasil Bianca Dias Meninggal Seusai Operasi

Hiburan
| Senin, 23 Februari 2026, 21:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement