New York Dukung Jakarta Terbitkan Obligasi Rp5,6 Triliun
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Titis Wisnu Wijaya, Dosen Teknologi Informasi UMY./Istimewa
Perintah dan seruan melaksanakan ibadah puasa di dalam Al–Qur’an dimulai dengan panggilan khusus untuk orang-orang yang beriman, “Yaa ayyuhalladziina aamanu…”. Panggilan ini menunjukkan kedekatan dan kecintaan Allah SWT kepada kita sebagai orang beriman.
Ketika Allah SWT memanggil kita secara khusus dengan sebutan langsung, maka kita yang dipanggil akan merasakan adanya getaran cinta dan kasih-Nya yang kemudian membuat kita mudah menerima isi seruan yang disampaikan. Inilah suasana jiwa yang penting kita hidupkan saat mendengar perintah melaksanakan puasa Ramadan dalam firman Allah (QS. Al - Baqarah:183).
Dalam ihwal ini, terdapat tiga target yang perlu dicapai selama menjalankan ibadah puasa Ramadan antara lain; Pertama, memperkuat hubungan dengan Allah Azza Wa Jalla (taqwiyatus Shilah billah). Puasa melatih untuk lebih dekat dengan Allah. Puasa pada dasarnya adalah ibadah hati yang menjadikan kita lebih tunduk dan patuh kepada-Nya. Hati yang dekat dengan Allah akan selalu merasa diawasi langsung oleh Allah SWT, sehingga dalam menjalani kehidupan tidak menyimpang dari ketentuan Allah, dan itulah yang menyebabkan hidup menjadi nyaman, tentram dan damai. Dengan demikian, rasa syukur akan selalu tersemat di dalam hati dan terucap melalui lisan kita.
Target kedua, yaitu memperkuat akidah di dalam hati (quwwatul ‘aqidah). Orang yang bertaqwa merupakan cerminan dari akidah. Melalui puasa, akidah kita akan lebih kuat. Dan dari kekuatan akidah atau keyakinan kita itulah, ketakwaan kita pun akan meningkat.
Target terakhir, adalah menguatkan jiwa yang tabah (quwwatuts tsabaat). Ketabahan merupakan sesuatu yang harus kita miliki. Ketabahan tidak akan pernah muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba. Perlu adanya pemahaman dan pembiasaan untuk mendapatkannya. Puasa Ramadan dapat menjadi sebuah sarana untuk melatih ketabahan. Nyatanya, ketika berpuasa kita menjadi lebih mampu dan kuat dalam menjalankan perintah dan mempertahankan kebenaran yang datang dari Allah Jalla Jalaluhu, meski dalam kondisi haus, lapar, letih dan lesu. Oleh karenanya, puasa di bulan Ramadan dapat membentuk kekuatan kita untuk tabah, tangguh, dan tetap berada di dalam jalan kebaikan, jalan yang menghidupkan nilai-nilai Islam di masyarakat. Target selama Ramadan di atas dapat mencetak manusia sebagai pemimpin yang berhasil dalam lingkup keluarga maupun masyarakat secara luas. (Titis Wisnu Wijaya, Dosen Teknologi Informasi UMY)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Denver, anjing malamut alaska seberat 70 kg di Semarang, ‘bekerja’ lewat sesi foto berbayar untuk membantu biaya shelter anjing telantar.
Pemkab Sleman membuka Sleman Creative Weeks #6 untuk memperkuat ekonomi kreatif dan ekosistem seni budaya hingga Oktober 2026.
Basral Graito memilih menikmati pertandingan untuk menjaga fokus di Asian Games 2026 dan bersiap tampil di World Skate Paraguay.
DPRD Jateng menerima informasi 19 titik pengeboran geotermal dan meminta ESDM serta PLN menemui warga di sekitar Gunung Ungaran.
Polda Banten membongkar sindikat penyalahgunaan solar subsidi di Serang. Polisi menyita 1.000 liter solar dan menetapkan dua tersangka.