OPINI: Bayi yang Tidak Diinginkan: Ujian Etika dan Kemanusiaan Kita
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Oscar Chrismadian Noventa/Dok. Pribadi
Indonesia mengalami banyak perbaikan dan kemajuan pada 2023. Hal ini bisa dilihat dari Global Competitiveness Index 2023 yang mengukur indeks daya saing tiap negara. Indonesia naik ke peringkat 34 dari tahun sebelumnya di peringkat 44. Terdapat empat indikator yang digunakan yaitu performa ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur.
Dari keempat indikator tersebut skor paling tinggi ada pada performa ekonomi dan efisiensi bisnis. Hal ini menunjukkan pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan investasi. Selanjutnya mari kita lihat Global Innovation Index 2023, indeks ini menilai tingkat produktivitas dan inovasi di bidang ekonomi pada 132 negara di dunia guna menangkap tren utama dalam investasi inovasi, mengukur laju kemajuan dan adopsi teknologi serta dampak sosio ekonomi yang ditimbulkannya.
Salah satu indikator yang menjadi tolak ukur adalah jumlah permohonan kekayaan intelektual yang telah diajukan ke kantor pendaftaran kekayaan intelektual di setiap negara tersebut, dimana jumlah permohonan yang diajukan dapat menjadi suatu cerminan dari tingkat inovasi suatu negara.
Jika melihat dari Global Competitiveness Index 2023 dan Global Innovation Index 2023 maka kita bisa berasumsi bahwa Indonesia telah mengalami perbaikan baik dalam sisi regulasi dan implementasi. Sekarang mari kita lihat mulai dari Global Competitiveness Index 2023 dari empat indikator yang digunakan Indonesia mendapat skor bagus dalam performa ekonomi dan peningkatan investasi.
Hasil ini didapatkan karena semakin membaiknya kondisi ekonomi pasca-pandemi Covid-19 dan peningkatan masyarakat berpendapatan menengah ke atas. Dua hal ini tentu cukup untuk membuat para investor asing masuk dan mencoba memasarkan produk mereka di Indonesia. Lalu, bagaimana dengan peningkatan skor GII Indonesia?
Skor GII Indonesia meningkat karena pemerintah membuat kebijakan yang mewajibkan para peneliti dan dosen untuk mengajukan hak paten atas hasil penelitian yang sudah dilakukan. Hal ini tentu membuat jumlah pengajuan hak paten di Indonesia meningkat signifikan. Namun pertanyaan selanjutnya sudahkan pengajuan hak paten ini memberikan kontribusi secara nyata pada dunia industri atau mendorong percepatan hilirisasi hasil penelitian?
Ekosistem Inovasi
Untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi kita perlu melihat kembali pada ekosistem inovasi di Indonesia. Ekosistem inovasi merujuk pada jaringan kompleks yang terdiri dari berbagai elemen, entitas, dan faktor yang saling terkait dan berinteraksi untuk mendukung dan memfasilitasi proses inovasi. Ini tidak hanya melibatkan penciptaan ide-ide baru, tetapi juga tahap-tahap pengembangan, penerapan, dan pengadopsian ide-ide tersebut menjadi solusi yang bermanfaat.
Ekosistem inovasi yang sehat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan produktivitas, dan memberikan nilai tambah ekonomi. Ekosistem Inovasi di Indonesia selama ini lebih dilihat sebagai sebuah sistem bukan sebagai ekosistem. Sistem hanya melihat inovasi dari sisi kuantitas lihat saja berapa target publikasi yang harus dilakukan oleh seorang dosen dengan jabatan lektor kepala dan profesor atau regulasi terkait kewajiban dalam pengajuan hak paten.
Hasilnya peningkatan publikasi dan pengajuan hak paten tidak berbanding lurus dengan hilirisasi hasil riset ataupun pemanfaatan hasil riset oleh industri.
Ekosistem inovasi memandang inovasi dari aspek kualitas inovasi itu sendiri. Sehingga inovasi yang dihasilkan oleh universitas bukan hanya terdokumentasi dalam bentuk artikel ilmiah dan hak paten tetapi juga dapat diimplementasikan oleh dunia industri. Tentu untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah harus membuat regulasi yang mampu memetakan dan menghubungkan antara riset yang dihasilkan oleh universitas dengan kebutuhan dunia industri.
Membangun ekosistem inovasi memerlukan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Terdapat tiga pemangku kepentingan utama dalam mendukung ekosistem inovasi yaitu pemerintah, universitas, dan Industri. Pemerintah memainkan peran sebagai regulator dan pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah perlu mengevaluasi beberapa kebijakan yang ada seperti pelaporan penelitian yang sangat rigid dan banyak, keharusan mengajukan hak paten sebagai bagian laporan. Kebijakan-kebijakan tersebut justru membuat dosen dan peneliti fokus pada aspek pelaporan dan administrasi dan bukan pada aspek substantial seperti pengembangan riset dan hilirisasi hasil riset.
Berikutnya dari sisi universitas perlu mengembangkan kurikulum yang fleksibel dan pembelajaran berbasis proyek. Dua hal ini akan membuat civitas academica terbiasa untuk berpikir kritis bukan hanya memecahkan masalah secara teori tapi juga secara praktikal. Seringkali pemecahan masalahan secara teoritis tidak dapat memecahkan masalah nyata yang ada di dunia industri.
Selain itu untuk mendukung hilirisasi hasil riset universitas perlu mengembangan inkubator bisnis untuk membantu startup dan inovator muda mengembangkan ide-ide mereka menjadi bisnis yang tangguh. Sektor industri juga memainkan dua peranan penting pertama. Asosiasi industri dan komunitas bisnis menyediakan platform bagi perusahaan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan mengeksplorasi potensi kolaborasi dalam menghadapi tantangan atau peluang yang ada dalam industri tertentu.
Selanjutnya, perusahaan-perusahaan besar berperan penting dalam menciptakan ekosistem inovasi. Mereka dapat mengalokasikan sumber daya untuk riset dan pengembangan, mendukung startup atau inisiatif kecil, dan mendorong kolaborasi antar bisnis.
Membangun ekosistem inovasi di Indonesia bukanlah tugas mudah. Ini memerlukan komitmen jangka panjang dari semua pemangku kepentingan: pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil. Dengan kerja sama yang kuat dan terus menerus memperbaiki serta melengkapi komponen-komponen ekosistem inovasi, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin inovasi di tingkat global. Semua langkah kecil yang diambil hari ini akan membantu mewujudkan masa depan inovatif yang lebih cerah bagi Indonesia.
Oscar Chrismadian Noventa
Dosen Departemen Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Tiga calon Sekda Sleman sudah dikantongi Bupati. Tinggal tunggu restu Sri Sultan sebelum pelantikan.
Film Indonesia berlatar Jogja raih penghargaan di Cannes 2026. Kisah identitas ‘Yanto’ memikat penonton dunia.
Pantai Glagah jadi motor lonjakan PAD pariwisata Kulonprogo 2026. Kunjungan wisatawan ikut meningkat tajam.
UPN Jogja nonaktifkan dosen terduga pelaku kekerasan seksual. Kasus ditangani Satgas, korban dilindungi.
KPPN Wonosari ajak pemangku kepentingan tolak gratifikasi. Ini batasan yang masih diperbolehkan menurut aturan.